Senin, 05 April 2010

Makalah Gerakan Emansipasi Wanita

BAB I
PENDULUAN


Makalah yang berjudul “Gerakan Emansipasi Wanita” ini dibuat untuk memenuhi tugas Sosiologi dan agar para pembaca dapat mengetahui dan mengingat kembali bagaimana sejarah masa lalu





BAB II
GERAKAN EMANSIPASI WANITA

Gerakan kebangsaan Indonesia tidak hanya dibidang politik melainkan juga sosial dan wanita. Salah seorang tokoh wanita yang menyuarakan pentingnya emansipasi antara pria dan wanita adalah RA. Kartini. Dia kemudian dianggap sebagai pelopor gerakan emansipasi yang dalam tulisan-tulisannya menuntut agar wanita Indonesia diberi pendidikan karena mereka memikul tugas sebagai seorang ibu yang bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya.
“Habis Gelap Terbitlah Terang” adalah buku yang merupakan kumpulan surat-surat Kartini tentang berbagai buah pikirannya. Buku ini ditulis oleh Abendadon pada 1899. Isinya antara lain tentang posisi wanita dalam keluarga, adat istiadat, dan keterbelakangan wanita
Karena senang membaca dan bergaul dengan berbagai kalangan Kartini memiliki pandangan yang positif tentang betapa pentingnya memajukan kaumnya dan menolak konvervatisme adalah sangat penting.
Demikian juga adat yang mengharuskan wanita hanya tingga di dalam rumah harus dirombak. Kartini meminta agar rakyat Indonesia diberi pendidikan karena pendidikan merupakan salah satu pokokm bagi masyarakat Indonesia. Pendidikan yang diperoleh itu selain untuk mengasah intelegensi juga menurut kartini adalah kombinasi antara kebudayaan Barat dan Timur.
Setelah sebagian wanita Indonesia mendapatkan pendidikan barat serta bergaul dengan tokoh-tokoh emansipasi barat, munculah perkumpulan atau organisasi wanita. Perkumpulan terseubut salah satunya diantaranya adalah Putri Mardika (1912) yang bertujuan memajukan pengajaran terhadap anak-anak perempuan dengan memberikan penerangan dan bantuan dana. Demikian pula dengan sekolah Koetamaan istri yang didirikan oleh Raden Dewi Sartika di Bandung pada tahun 1904. Sekolah kartini juga didirikan di Jakarta pada tahun 1913, di Madiun pada 1914, di Malang dan Cirebon pada 1916, Pekalongan pada 1917, Indramayu, Surabaya dan Rembang 1918.
Selanjutnya pada 1920 mulai muncul perkumpulan wanita yang bergerak di bidang sosial dan kemasyarakatan. Di Minahasa berdiri De Gorintalocsche Mohammedaansche Vrouwen Vereeinging. Di Yogyakarta lahir perkumpulan wanita Utomo yang mulai memasukan perempuan ke dalam kegiatan dasar pekerjaan.
Corak kebangasaan sudah mulai masuk dan besar pengaruhnya dalam pergerakan wanita setelah 1920, sehingga dirasakan perlu ada hubungannya dan dipengaruhi oleh propaganda PNI mendorong dilangsungkannya Kongres Perempuan Indonesia di Yogyakarta pada 1928. Kongres tersebut dihadiri oleeh oleh berbagai wakil organisasi wanita, diantaranya Ny. Sukamto (Wanito Utomo), Nyi Hajar Dewantara (Taman Siswa Bagian Wanita) dan Nona Suyatin (Pemuda Indonesia bagian Keputrian).
Dalam kongres itu pada umunya disepakati untuk memajukan wanita Indonesia serta mengadakan gabungan yang berhaluan kooperatif. Hasil kongres yang terpenting adalah dibentuknya federasi perkumpulan wanita, bernama Perikatan Perempuan Indonesia (PPI)
Dalam Kongres pada 28-31 Desember 1929 di Jakarta nama perikatan Perempuan Indonesia diubah menjadi perserikatan Perhimpunan Indonesia (PPPI)
Kongres Perempuan Indonesia II diadakan atas inisiatif PPII di Jakarta pada tanggal 20-24 Juli 1935. Kongres yang dipimpin oleh Ny. Sri Mangunsarkoro itu membicarakan masalah tentang masalah perburuan perempuan, pemberantasan buta huruf, dan perkawinan. Dalam kongres tersebut, pergerakan wanita Indonesia mendapat perhatian dari Komite Perempuan Sedunia yang berkedudukan di Paris.
Kongres Perempuan III berlangsung pada tanggal 23 – 28 Juli 1938 dibidang dipimpin oleh Ny. Emma Puradireja. Kongres tersebut menyetujui suatu rencana undang-undang perkawinan modern yang disusun oleh Ny. Mr. Maria Ulfah Santoso. Kongres juga membicarakan masalah politik, antara lain hak pilih dan dipilih bagi kaum wanita untuk Badan Perkawinan
Selain ini, kongres memutuskan pada 22 Desember menjadi hari Ibu, dengan menyatakan bahwa peringatan hari Ibu tiap bulan diharapkan akan menambah kesadaran kaum wanita akan diwajibkan sebagai hari Ibu Bangsa




BAB III
PENUTUP


Kita sebagai orang yang berpendidikan harus bisa mengambil hikmah dan peristiwa tersebut. Jadikan pelajaran dan pengalaman untuk memperbaiki.


KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Allah SAW berkat rahmat-Nyalah kami dapat menyelesiakan tgas tugas ini yaitu tugas pembuatan makalah dengan Judul Gerakan Wanita (RA)
Dalam penyusunan makalah ini kami merasa banyak kekurangan-kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari Bapak/Ibu guru yang bersifat membangun untuk menyempurnakan makalah selanjutnya.
Kami atas nama kelompok tak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini, terutama bagi para pembaca dan khususnya untuk diri kami pribadi selaku penyusun dalam membangun bangsa dan agama.


Jagapura, Januari 2007
Penyusun,


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................ i
DAFTAR ISI ............................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................... 1
BAB II GERAKAN EMANSIPASI WANITA .................................... 2
BAB III PENUTUP ...................................................................... 7

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Terimakasih informasi ini sangat membantu pelajaran di sekolah. terutama kongres perempuan II. Padahal BSE, dalam materi tidak dijelaskan, tetapi ditanyakan pada bagian evaluasi.