Minggu, 04 April 2010

Asuhan Kebidanan Ny. T Kehamilan Dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat 1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kehamilan merupakan hasil yang sangat penting dan paling didambakan oleh setiap wanita dan pada umumnya oleh pasangan suami istri di muka bumi ini. Apalagi kaum wanita karena sudah sempurna sebagai seorang wanita sejati.

Namun tidak semua wanita mengalami kehamilan dengan sangat senang hati. Hal ini disebabkan wanita tersebut tidak memperhatikan dan mengetahui perubahan-perubahannya atau perubahan pada dirinya.
Ada beberapa wanita hamil muda yang mengalami mual dan muntah dipagi hari, karena perasaan mual dan muntah ini sering terjadi pada pagi hari ini disebut morning sick. Mual dan muntah ini merupakan gangguan yang paling sering dijumpai pada kehamilan trimester I, ± pada 6 minggu setelah haid terakhir selama 10 minggu. Sekitar 60 – 80 % primigravida dan 40 – 60 % multigravida mengalami mual muntah, namun gejala ini menjadi lebih berat hanya pada 1 hari dari 1000 kehamilan. (Mansjoer, 1999 : 259).
Apabila perasaan mual muntah terjadi setiap saat dan juga malam hari serta dapat mengganggu aktifitas ibu dan keadaan umum menjadi buruk, hal ini disebut Hyperemesis Gravidarum.
Berdasarkan uraian diatas penulis merasa tertarik untuk memberikan asuhan kebidanan pada Ny. T dengan Hyperemesis Gravidarum yang berjudul “Asuhan Kebidanan pada Ny. T dengan Hyperemesis Gravidarum Tingkat I di BPS Hj.Iming”.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menerapkan asuhan kebidanan pada ibu hamil Ny. T dengan hyperemesis gravidarum di BPS Hj.Iming tahun 2008 dengan pendekatan manajemen kebidanan menurut varney dan di implementasikan dalam bentuk SOAP.
1.2.2 Tujuan Khusus
1.2.2.1 Mahasiswa mampu melakukan pengumpulan data pada ibu hamil dengan hyperemesis gravidarum di BPS Hj.Iming tahun 2008
1.2.2.2 Mahasiswa dapat melakukan interpretasi data pada ibu hamil dengan hyperemesis gravidarum di BPS Hj.Iming tahun 2008
1.2.2.3 Mahasiswa dapat melakukan indentifikasi diagnosa dan masalah potensial pada ibu hamil dengan hyperemesis gravidarum di BPS Hj.Iming tahun 2008
1.2.2.4 Mahasiswa dapat melakukan identifikasi kebutuhan akan tindakan segera dan kolaborasi di BPS Hj.Iming tahun 2008
1.2.2.5 Mahasiswa dapat merencanakan asuhan yang menyeluruh pada ibu hamil dengan hyperemesis gravidarum di BPS Hj.Iming tahun 2008
1.2.2.6 Mahasiswa dapat melaksanakan perencanaan pada ibu hamil dengan hyperemesis gravidarum di BPS Hj.Iming tahun 2008
1.2.2.7 Mahasiswa dapat mengevaluasi asuhan kebidanan pad ibu hamil dengan hyperemesis gravidarum di BPS Hj.Iming tahun 2008


1.3 Metode Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini penulis menggunakan metode :
1.3.1 Wawancara
Mewawancarai klien secara langsung melalui lisan.
1.3.2 Dokumentasi
Tehnik pencatatan dari data yang sudah dikumpulkan untuk dijadikan bahan pendukung dalam menganalisa data.
1.3.3 Observasi
Pengamatan langsung terhadap objek penelitian.
1.3.4 Studi Kepustakaan
Referensi di berbagai buku sebagai bahan acuan.

1.4 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dari makala kasus ini adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Meliputi latar belakang, tujuan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Meliputi konsep medis dan konsep asuhan kebidanan menurut varney.
BAB III TINJAUAN KASUS
Meliputi pendokumentasian SOAP
BAB IV PEMBAHASAN
Meliputi pengkajian, diagnosa kebidanan, perencanaan dan evaluasi.
BAB V PENUTUP
Meliputi kesimpulan dan saran.
DAFTAR PUSTAKA




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Medis
2.1.1 Definisi
2.1.1.1 Definisi kehamilan
a. Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ke tujuh sampai 9 bulan. (Prawirohardjo. 2002 : 89)
b. Kehamilan adalah mata rantai yang berkesinambungan dan terdiri dari ovulasi pelepasan ovum, terjadi migrasi spermatozoa dan ovum, terjadi konsepsi dan pertumbuhan zigot, terjadi nidasi (implantasi) pada uterus, pembentukan plasenta, dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm (Manuaba, 1998 : 95)
c. Kehamilan adalah dimulai dari ovulasi sampai partus ialah kira-kira 280 hari (40 minggu), kehamilan ini disebut kehamilan mature atau cukup bulan dan apabila kehamilan lebih dari 40 minggu disebut post mature dan kehamilan antara 28 – 36 minggu disebut kehamilan prematur. (Wiknjasastro, 1995 : 125).
2.1.1.2 Definisi Hyperemesis gravidarum
a. Adalah emosi gravidarum yang berat dan berlangsung sampai 4 bulan sehingga pekerjaan sehari-hari menjadi buruk (Prawiharjo 1999:275)
b. Adalah mual muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum menjadi buruk, paling sering dijumpai pada kehamilan trimester I terutama ditemukan pada primigravida (Mansjoer, 1999:259)
c. Adalah mual dan muntah yang berlebihan pada wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi buruk, karena menjadi dehidrasi (Mochtar, 1998:195)
d. Adalah gejala mual muntah yang berat yang dapat berlangsung sampai 4 bulan yang di sebabkan karena meningkatnya kadar hormone estrogen dan HCG dalam serum. (Prawirohardjo,2001 :274)
2.1.2 Etiologi
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Frekuensi kejadian 2 /1000 kehamilan. Pada tubuh wanita yang hamil terjadi perubahan-perubahan yang cukup besar yang mungkin merusak keseimbangan di dalam badan.
Faktor predisposisi yang telah dikemukakan oleh beberapa penulis sebagai berikut :
2.1.2.1. Faktor adaptasi dan Hormonal.
Pada wanita hamil yang kekurangan darah lebih sering terjadi hiperemesis gravidarum. Dapat dimasukan dalam ruang lingkup factor adaptasi adalah wanita hamil dengan anemia, wanita primigravida, kehamilan ganda, mola hidatidosa, diabetes, akibat peningkatan kadar HCG.
2.1.2.2. Faktor organik.
Karena masuknya vili chorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu.
2.1.2.3. Faktor Psikologi
Hubungan factor psikologi dengan kejadian hiperemesis gravidarum belum jelas. Besar kemungkinan bahwa wanita yang menolak hamil, takut kehilangan pekerjaan, keretakan rumah tangga, diduga dapat menjadi factor kejadian hiperemesis gravidarum.
2.1.2.4. Faktor Alergi
Pada kehamilan, dimana diduga terjadi invasi jaringan vili korialis yang masuk kedalam peredaran darah ibu, maka factor alergi dianggap dapat menyebabkan kejadian hiperemesis gravidarum.
(Manuaba : 1998; 209-210).

2.1.3 Tingkatan hyperemesis gravidarum
2.1.3.1 Hyperemesis Gravidarum Tingkat I
· Muntah berlangsung terus
· Makan berkurang
· Berat badan menurun
· Kulit dehidrasi, tonusnya lemah
· Nyeri epigastrium
· Tekanan darah turun dan nadi meningkat
· Lidah kering
· Mata tampak cekung
2.1.3.2 Hyperemesis Gravidarum Tingkat II
· Penderita tampak lebih lemah
· Gejala dehidrasi makin tampak, mata cekung, turgor kulit makin kurang, lidah kering dan kotor.
· Tekanan darah turun, nadi meningkat.
· Berat badan makin menurun
· Mata ikterik
· Terjadinya gangguan buang air besar
· Mulai tampak gejala gangguan kesadaran menjadi apatis.
· Nafas berbau.
2.1.3.3 Hyperemesis Gravidarum Tingkat III
· Muntah berkurang
· Keadaan wanita hamil menurun, tekanan darah turun, nadi meningkat dan suhu naik, keadaan dehidrasi makin jelas.
· Gangguan faal hati terjadi dengan manifestasi ikterus.
· Gangguan kesadaran dalam bentuk somnolen sampai koma.
(Mochtar, 1998 : 195)

2.1.4 Patofisiologi
Perubahan ibu hamil


Perubahan fisik Perubahan Psikis

Saluran saluran saluran kulit payudara vulva vagina ovarium jantung
Pernapasan pencernaan Uranium

Salipasi meningkat karena pengaruh estrogen
Pengeluaran asam lambung meningkat yang dapat menyebabkan :
- Daerah lambung terasa panas
- Terjadi mual dan pusing pada sepanjang hari
- Muntah yang berlebihan

Hyperemesis Gravidarum

Perasaan mual akibat meningkatnya kadar estrogen. Pengaruh estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari sistem syaraf pusat atau akibat dari pengosongan asam lambung.
Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekresi lewat ginjal menambah frekuensi muntah-muntah yang berlebihan, yang dapat merusak hati.
Dapat terjadi robekan pada selaput lendir esophalus dan lambung. (Prawihardjo: 277)


2.1.5 Diet Pada Ibu Hamil Dengan Hyperemesis Gravidarum
Makanan yang perlu di hindari adalah lemak dan makanan yang berminyak yang cenderung menimbulkan rasa mual. Karena itu disarankan untuk tidak mengkonsumsi makanan yang digoreng. Mentega, margarin , minyak, daging babi asin,saos selada, kue kering, kulit kue tart dan kuah daging hanya boleh dimakan sedikit. Bawang merah dan putih, merica, cabe, serta bumbu sebaiknya dihindari. Makanan yang dapat menimbulkan gas (ketimun, brokoli, kol, bawang, lobak cina dan kacang kering) juga tidak boleh disantap.
(Arisman, 2004: 23)

2.1.6 Penanganan
2.1.6.1 Beritahu ibu tentang keadaan umum ibu dan keadaan kehamilannya.
2.1.6.2 Lakukan pencegahan dengan memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan dan kepada ibu-ibu dengan maksud menghilangkan factor psikis rasa takut, juga tentang diet ibu hamil, makan jangan sekaligus banyak, tetapi dalam porsi sedikit-sedikit namun sering jangan tiba-tiba berdiri waktu bangun pagi, akan terasa mual dan muntah. Defekasi hendaknya diusahakan teratur.
2.1.6.3 Berikan terapi obat menggunakan sedative (luminal, stesolid), Vitamin (B1 dan B6), anti muntah ( mediamer B6, Drammamin, Auopres, Avomin, Torecan), antacid.
2.1.6.4 Anjurkan bagi ibu hamil yang mengalami hiperemis gravidarum tingkat II dan III harus dirawat inap di rumah sakit.
2.1.6.5 Beritahukan kadang-kadang pada beberapa wanita hanya tidur di rumah sakit saja, telah banyak mengurangi mual dan muntahnya.
2.1.6.6 Berikan terapi psikologik yaitu pengertian bahwa kehamilan adalah suatu hal yang wajar, normal, dan fisiologis, jadi tidak perlu takut dan khawatir. Cari dan coba hilangkan factor psikologis seperti keadaan social ekonomi dan pekerjaan serta lingkungan.
2.1.6.7 Berikan penambahan cairan yaitu infuse dekstrosa atau glukosa 5% sebanyak 2 – 3 liter dalam 24 jam.
2.1.6.8 Berikan obat-obatan seperti telah dikemukakan diatas.
2.1.6.9 Beritahukan kepada ibu hamil yang menderita hipermesis gravidarum, pada beberapa kasus dan bila terapi tidak dapat dengan cepat memperbaiki keadaan umum penderita, dapat dipertimbangkan suatu abortus buatan.
(mochtar, 1998 : 196).

2.1.7 Penatalaksanaan
2.1.7.1 Memberitahukan ibu tentang keadaan umum ibu dan keadaan kehamilannya
2.1.7.2 Melakukan pencegahan dengan memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan kepada ibu hamil yang menderita hyperemesis gravidarum dengan maksud menghilangkan factor psikis rasa takut, tentang diet ibu hamil, makan jangan sekaligus banyak tetapi dalam porsi sedikit namun sering dan jangan tiba-tiba berdiri waktu bangun pagi karena dapat merangsang mual dan muntal kembali.
2.1.7.3 Memberikan terapi obat menggunakan sedative (luminal, stesolid), vitamin (B1dan B6), anti muntah (mediamer B6, dramamamin, auopres, avomin, torecan), antacid.
2.1.7.4 Menganjurkan bagi ibu hamil yang menderita hiperemesis gravidarum tingkat I dan II harus dirawat inap dirumah sakit.
2.1.7.5 Memberitahukan pada beberapa ibu hamil yang menderita hiperemesis hanya dengan beristirahat tidur ditempat tidur saja telah dapat membantu mengurangi mual dan muntahnya.
2.1.7.6 Memberikan terapi psikologik yang pengertian bahwa kehamilan adalah suatu hal yang wajar, normal dan fisiologis jadi tidak perlu takut dan khawatir. Coba hilangkan factor psikologik seperti keadaan social ekonomi dan pekerjaan serta lingkungan.
2.1.7.7 Memberikan penambahan cairan atau infuse dekstrosa atau glukosa 5 % sebanyak 2 – 3 liter dalam 24 jam. Jika diperlukan.
2.1.7.8 Menganjurkan pemeriksaan kehamilan lebih sering ke dokter.
2.1.7.9 Menjelaskan kepada ibu pentingnya tanda-tanda bahaya kehamilan.
2.1.7.10 Memberitahukan pada ibu hamil yang menderita hiperemesis gravidarum, beberapa kasus dan bila terapi sudah dapat dengan cepat memperbaiki keadaan umum penderita dapat dipertimbangkan suatu abortus buatan.
( Diktat Asuhan kebidanan I )

2.1.8 Evaluasi
2.1.8.1 Ibu sudah mengetahui keadaan dirinya dan kehamilannya
2.1.8.2 Ibu sudah tahu cara pencegahannya
2.1.8.3 Ibu telah mendapat terapi obat
2.1.8.4 Ibu bersedia untuk beristirahat
2.1.8.5 Ibu tahun tentang terapi psikologik
2.1.8.6 Ibu akan rajin untuk selalu memeriksakan kehamilannya.
2.1.8.7 Ibu tahu tentang tanda-tanda bahaya kehamilan.
2.1.8.8 Ibu bersedia untuk selalu datang setiap kunjungan ulang berikutnya atau bila ada keluhan.
2.2 Konsep Asuhan Kebidanan
2.2.1 Pengkajian
2.2.1.1 Identitas
a. Nama Klien
Digunakan untuk membedakan antara klien satu dengan yang lainnya (Manuaba, 1998 : 326)
b. Umur
Digunakan untuk mengetahui masa reproduksi klien beresiko tinggi atau tidak. Wanita hamil umumnya tidak boleh kurang dari 16 tahun dan lebih dari 35 tahun. (Manuaba, 1998 : 326)
c. Kebangsaan
Sebagian masyarakat beranggapoan bahwa wanita kullit hitam lebih kuat dari pada kulit putih. (Manuaba, 1998 : 326)
d. Agama
untuk memudahkan dalam memberikan nasehat spiritual sesuai dengan kepercayaan yang dianut. (Manuaba, 1998 : 326)
e. Pendidikan
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien, sehingga dalam memberikan asuhan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan. (Manuaba, 1998 : 326)
f. Pekerjaan
Untuk mengetahui tingkat ekonomi klien. (Manuaba, 1998 : 326)
g. Alamat
Untuk memudahkan dimana tempat tinggal klien, sehingga memudahkan petugas kesehatan dalam melakukan kunjungan rumah(Manuaba, 1998 : 326)


2.2.1.2 Anamnesa
Pada tanggal ………………….pukul…………
1. Alasan kunjungan ini
Untuk mengetahui berapa kali ibu memeriksakan kehamilannya.
2. Riwayat Kehamilan
a. Riwayat Mesntruasi
Yang perlu ditanyakan adalah :
menarche untuk mengetahui keadaan alat kelamin dalam normal atau tidak, siklus menstruasi untuk mengetahui adanya penyakit yang menyertai. Haid terakhir lamanya, banyaknya darah yang keluar, konsistensinya, teratur tidaknya haid yang digunakan untuk membantu diagnosa lamanya kehamilan dan untuk memperhitungkan taksiran persalinan.
b. Pergerakan anak
Pada kasus Hyperemesis Gravidarum pergerakan belum dirasakan karena pada kasus ini terjadi pada trimester I.
c. Tanda- tanda kehamilan
Pada kasus hamil untuk menemukan apakah kehamilan ini diketahui melalui proses pemeriksaan laboratorium.
d. Keluhan
Pada kasus hyperemesis gravidarum biasanya klien mengeluh mual dan muntah yang berlebihan.
e. Diet / makan
Makan dan jenis makanan pada kasus hyperemesis gravidarum makanan yang berlemak merangsang mempengaruhi ibu yang mengakibatkan tidak nafsu makan.



f. Pola eliminasi
Pada kasus hyperemesis gravidarum biasanya pasien BAB mengalami konstipasi dan BAKnya mengalami oliguri.
g. Aktivitas sehari – hari
Pada kasus hyperemesis gravidarum aktivitanya terganggu karena biasanya badanya terasa lemah.
h. Imunisasi TT
Untuk mencegah tetatus nenatorum, maka ibu hamil sebaiknya mendapatkan imunisasi TT2 kali dengan interval 4 minggu dari TT1.
i. Kontrasepsi yang pernah digunakan
Untuk mengetahui kontrasepsi apa yang pernah digunakan.
3. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu
Untuk mengetahui masalah atau gangguan kesehatan yang timbul sewaktu hamil dan melahirkan yang ditanyakan berapa kali itu hamil atau sekarang ini putra yang keberapa.
4. Riwayat Penyakit yang pernah diderita
Karena penyakit yang pernah diderita dapat timbul kembali karena keadaan ibu yang lemah pada waktu kehamilan atau setelah melahirkan nanti. Pertanyaan yang diajukan nanti adalah apakah pernah menderita penyakit hepatitis yang bisa menurun pada bayi melalui trans plasenta, penyakit jantung, paru-paru, diabetes mellitus, gemelli, apakah alergi terhadap makanan dan obat-obatan, apakah punya kebiasaan merokok dan minum jamu-jamuan.
5. Susunan keluarga yang tinggal dirumah.
Digunakan untuk mengetahui struktur keluarga yang tinggal serumah, serta berapa besar tanggungan hidup keluarga yang dapat berpengaruh pada kehamilan.
Kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, nifas untuk mengetahui apakah ibu punya keyakinan dengan kehamilan, persalinan, nifas atau tidak.
6. Riwayat kesehatan keluarga.
Karena dalam kehamilan daya tahan tubuh ibu menurun bila ada penyakit yang menular dapat lekas menular kepada ibu dan mempengaruhi janin.
( Prawirohardjo : 2002 : 278 )

2.2.1.3 PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan UmumKeadaan emosionalKesadaran2. Tanda-tanda vitalTensi Pulse (nadi) ::::: Pada kasus hiperemesis gravidarum umumnya lemah.StabilMenurun dari composmentis sampai komaPada kasus hiperemesis gravidarum 100/60 mmHg, normalnya : 120/80 mmHg.Pada kasus hiperemesis gravidarum denyut nadinya meningkat > 100 x menit.(Prawirohardjo, 2002 : 278)
3. Muka
Kelopak mata : Cekung
Konjungtiva : Pucat
Sklera : Putih
Cloasma gravidarum : ada atau tidak ada.
Oedem : ada atau tidak ada
4. Hidung
Polip : ada atau tidak ada
Pendarahan : ada atau tidak ada
Sekret : ada atau tidak ada
Peradangan : ada atau tidak ada
5. Mulut dan Gigi
Caries : ada atau tidak ada
Gusi : ada pendarahan atau tidak ada
Tonsil : ada pembengkakan atau tidak ada
6. Telinga
Sekret : tidak ada
7. Kelenjar tiroid : tidak ada
8. Kelenjar limfe : tidak ada
9. Dada
Jantung : ictus cordis regular
Paru-paru : tidak ada ronchi dan wheezing
Payudara
- Bentuk : simetris
- Kebersihan : bersih
- Benjolan : tidak ada
- Rasa Nyeri : tidak ada
10. Punggung dan pinggang
Posisi tulang belakang : lordosis
Pinggang nyeri : tidak ada nyeri ketuk
11. Ekstermitas atas dan bawah
Oedema kanan / kiri : tidak ada
Kekakuan sendi dan otot : tidak ada
varises kanan/kiri : tidak ada
Reflek patella : kanan/kiri positif
12. Abdomen
Linea : Tidak ada
Striae : Tidak ada
Pembesaran : sesuai umur kehamilan atau tidak
Benjolan : tidak ada
Konsistensi : lembek
13. TFU
Leopold I
a. Pemeriksa menghadap kearah muka ibu hamil
b. Menentukan tinggi fundus uteri dan bagian dalam fundus
c. Konsistensi uterus
Leopold II
a. Menentukan batas samping rahim kanan dan kiri
b. Menentukan letak punggung janin
Leopold III
a. Menentukan apa yang terdapat dibagian terbawah
b. Untuk menentukan bagian terbawah janin apakah bagian tersebut sudah masuk pintu atas panggul atau belum ( jika belum bagian terbawah tersebut dapat digoyangkan )
Leopold IV
a. Pemeriksaan menghadap kearah kiri ibu hamil
b. Seberapa jauh bagian terbawah janin masuk pintu atas panggul.
( Mochtar : 1990;92 )
12. Fetus
DJJ : belum terdengar
13. Anogenital
Vagina : Terdapat tanda chadwick, elastisitas bertambah, tidak ada pembengkakan kelenjar bartolini dan skene.
Anus : Tidak ada haemoroid



2.2.2 Interprestasi Data
DiagnosaDasarMasalahKebutuhan :::: G…P…A…, Gravida….minggu, janin teraba balotement dengan keadaan ibu hamil mengalami hiperemesis gravidarum tingkat I /ringan.a. Muntah > 10 x dalam 24 jamb. Mata cekungc. Bibir keringd. Berat badan turune. Tekanan darah sistole 90-130 mmHg, diastole 60-90 mmHgf. Pernafasan 16-20 x/menitg. Nadi 60-100 x/menith. Suhu 36-37 0CIbu merasa cemasKonseling lebih lanjut

2.2.3 Indentifikasi Diagnosa / Masalah Potensial
Pada langkah ini dapat diidentifikasi diagnosa atau masalah potensial lain berdasarkan rangkaian masalah atau diagnosa yang sudah teridentifikasi.
Diagnosa potensial
Pada janin : IUGR, Abortus
Pada ibu : Hyperemesis gravidarum sedang / tingkat II

2.2.4 Identifikasi Kebutuhan Segera
Dalam teori mengatakan bagi penderita hiperemesis gravidarum tingkat I tidak diperlukan kolaborasi dengan SpOG. (Mochtar, 1998 : 195).


2.2.5 Perencanaan Asuhan secara menyeluruh
2.2.5.1 Kaji ulang keluhan ibu.
2.2.5.2 Berikan konseling tentang tanda bahaya kehamilan → penglihatan menjadi kabur, kepala pusing, nyeri perut yang hebat, oedema muka, tangan, dan kaki, pendarahan pervaginam.
2.2.5.3 Anjurkan ibu makan yang tidak merangsang mual dan berminyak.
2.2.5.4 Anjurkan makan sedikit tapi sering
2.2.5.5 Anjurkan banyak minum air.
2.2.5.6 Hindari minuman atau makanan yang asam untuk mengurangi iritasi lambung.
2.2.5.7 Berikan informasi dan edukasi tentang kehamilan kepada ibu dengan maksud menghilangkan factor psikis rasa takut.
2.2.5.8 Berikan terapi obat sedative, vitamin B1 dan B6, anti muntah (Mediamer B6, Drammamin, Avomin, Torecan); antasida dan anti mulas.
2.2.5.9 Anjurkan pemeriksaan hamil lebih sering.
2.2.5.10 Segera datang bila terjadi keadaan abnormal.
( Diktat Asuhan Kebidanan I )

2.2.6 Pelaksanaan
2.2.6.1 Mengkaji ulang keluhan ibu.
2.2.6.2 Memberikan konseling tentang tanda bahaya kehamilan → penglihatan menjadi kabur, kepala pusing, nyeri perut yang hebat, oedema pada muka, tangan dan kaki, perdarahan pervaginam.
2.2.6.3 Menganjurkan ibu untuk tidak makan makanan yang berminyak karena dapat merangsang kembali mual.
2.2.6.4 Menganjurkan ibu makan sedikit tapi sering
2.2.6.5 Menganjurkan banyak minum air.
2.2.6.6 Menghindari minuman atau makanan yang asam untuk mengurangi iritasi lambung.
2.2.6.7 Memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan kepada ibu dengan maksud menghilangkan factor psikis rasa takut.
2.2.6.8 Memberikan terapi obat sedative, vitamin B1 dan B6, anti muntah (mediamer, B6, Drammamin, Avopreg, Avomin, Torecan, Antisida dan anti mulas).
2.2.6.9 Menganjurkan pemeriksaan hamil lebih sering.
2.2.6.10 Menganjurkan segera datang bila terjadi keadaan abnormal.
( Diktat Asuhan Kebidanan I )

2.2.7 Evaluasi
2.2.7.1 Ibu mengerti dan bisa mengulangi konseling yang diberikan.
2.2.7.2 Ibu bersedia untuk tidak makan-makanan yang berminyak
2.2.7.3 Ibu bersedia makan sedikit tapi sering
2.2.7.4 Ibu bersedia banyak minum
2.2.7.5 Ibu bersedia untuk tidak memakan makanan dan meminum-minuman yang asam
2.2.7.6 Ibu tahu dan mengerti tentang keadaan kehamilannya
2.2.7.7 Ibu telah mendapatkan terapi obat
2.2.7.8 Ibu bersedia untuk datang pada kunjungan ulang berikutnya
( Diktat Asuhan Kebidanan I )





BAB III
TINJAUAN KASUS


3.1 Pengkajian
3.1.1 Identitas
Nama : Ny. T Nama : Tn. J
Umur : 21 tahun Umur : 23 tahun
Kebangsaan : Indonesia Kebangsaan : Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Pasawahan Alamat : Pasawahan
3.1.2 Anamnesa
Pada tanggal 16-04-2008 pukul :10.00 WIB
1. Alasan kunjungan ini
Klien memeriksa diri di BPS Hj. Iming karena mengeluh mual dan muntah, pusing sepanjang hari.
2. Riwayat menstruasi
a Menarche : 14 tahun
b Siklus : + 28 hari
c Lamanya : 7 hari
d Dismenorhoe : tidak
e Banyaknya : 2 x ganti pembalut
f Teratur/tidak : teratur
g Konsistensi : encer
3. Riwayat kehamilan sekarang
a. Tanda-tanda kehamilan
Tes kehamilan (+) positif dilakukan di BPS pada tanggal 25 April 2008
b. HPHT = 21-03-2008, HTP = 28-12-2008
c. Keluhan yang dirasakan sekarang
Ibu mengeluh mual muntah terus menerus, tidak ada nafsu makan, badan lemah.
d. Pola makan
Klien mengatakan nafsu makannya berkurang bahkan tidak mau makan sama sekali
e. Pola eliminasi
BAK : 4-6 x/hari
BAB : 1 x/hari
f. Aktifitas sehari-hari dan tidur
Klien mengatakan masih mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tapi sebatas pekerjaan yang ringan. Seperti menyapu, kalau malam ibu tidak bisa tidur dengan tenang dan tidak pernah tidur siang.
g. Imunisasi
Belum dilakukan
h. Kontrasepsi yang pernah digunakan
Belum pernah
i. Gerakan janin belum dirasakan
4. Riwayat obstetri
No Umur UsiaKehamilan JenisPersalinan Tempat Persalinan Komplikasi Penolong JK Nifas
Hamil Sekarang

5. Riwayat kesehatan
Klien tidak pernah mempunyai penyakit diabetes mellitus,jantung, dan hipertensi.
6. Riwayat kesehatan keluarga
Dalam keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit berat seperti jantung, TBC, DM, ginjal dan lain-lain.
7. Riwayat sosial
Ibu tinggal dirumah sendiri bersama suami. Ibu mengatakan hubungan dengan suami dan anggota keluarga lainnya juga dengan masyarakat sekitarnya terjalin dengan baik. Kehamilan ini direncanakan. Ibu dan suami sangat bahagia dengan kehamilan ini
8. Pengambilan keputusan dalam keluarga
Sepenuhnya oleh suami

3.2 Data Objektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Letih, lemas
Kesadaran : Composmetis
Keadaan emosional : Stabil
2. Tanda-tanda vital
TD : 90/60 mmHg
P : 89 x/menit
N : 24 x/menit
S : 37°C
TB : 159 cm
BB sebelum hamil 47 kg
BB sesudah hamil 46 kg
Lila 24 cm
3. Pemeriksaan fisik
Inspeksi
1. Rambut : Tidak rontok, warna hitam pendek
2. Muka : Tidak ada oedem
3. Mata : Konjungtiva : Pucat
Sklera : Putih
Kelopak mata : Tidak ada oedem
4. Mulut : Bibir Kering
5. Gigi : Tidak ada caries, gusi tidak mengalami pendarahan
6. Leher : Tidak ada pembesaran pada kelenjar tyroid
7. Payudara : Bentuk : Simetris
Areola : Hyperpigmentasi
Putting : Menonjol
Massa : Tidak ada
Kolestrum : Tidak ada
8. Paru – paru : Tidak ada wheezing
Tidak ada ronchi
9. Jantung : Reguler
10. Abdomen
· Striae : Tidak ada
· Linea : Tidak ada
· Luka bekas SC : Tidak ada
11. Pemeriksaan kehamilan
Palpasi
Leopold I : TFU 3 jari atas symphisis
Leopold II : Tidak dilakukan
Leopold III : Tidak dilakukan
Leopold IV : Tidak dilakukan
12. CVAT : Tidak ada nyeri ketuk
13. Genetalia
Vulva dan vagina : Tidak ada varises
Oedem : Tidak ada
Kondiloma : Tidak ada
Kelenjar bartolini : Tidak ada pembesaran
14. Ekstremitas
Atas : Tidak ada oedem dan telapak tangan tidak pucat
Bawah : Oedem : Tidak ada
Kekakuan sendi : Tidak ada
Kemerahan : Tidak ada
Varises : Tidak ada
Refleks Patella : Kanan positive
Kiri positive


3.3 Assesment
G1 P0 A0 gravida 13 minggu, balotement (+) dengan hyperemesis gravidarum tingkat I, dengan keadaan umum ibu lemah.

3.4 Planning
a. Memberitahukan hasil pemeriksaan kepada klien dan keluarga tentang hasil pemeriksaan yang telah dilakukan → Ibu tahu dan mengerti hasil pemeriksaan yang telah dijelaskan.
b. Memberikan konseling tentang kehamilan kepada ibu bagaimana menghilangkan rasa takut → Ibu mengerti dan sekarang ibu sudah tidak takut lagi dengan kehamilannya.
c. Menganjurkan agar makan-makanan sedikit tapi sering dalam porsi hangat → Ibu mengerti dan akan makan-makanan yang telah dianjurkan.
d. Menghindari makan-makanan yang merangsang terjadinya mual dan muntah seperti makan yang berlemak → Ibu akan menghindari makanan yang merangsang.
e. Memberikan terapi obat-obatan seperti luminal 30mg. minum vitamin BI 200mg. vit B6 200mg vit B12 150mg. Ibu harus meminumnya → Ibu mengerti dan akan meminum obat yang diberikan.
f. Mengajurkan ibu untuk tidak langsung berdiri waktu bangun pagi karena akan menyebabkan mual dan muntah → Ibu mengerti.
g. Menganjurkan ibu istirahat cukup → Ibu bersedia untuk istirahat.
h. Menganjurkan untuk kunjungan ulang berikutnya minimal 1 bulan sekali guna mengetahui perkembangan kesehatanya atau jika ada keluhan → Ibu akan datang satu bulan kemudian atau jika ada keluhan.

BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah dilakukan pengkajian dan diberikan asuhan kebidanan pada Ny.T hamil dengan hyiperemesis gravidarum tingkat I maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut :

4.1 Pengkajian
Dalam teori di sebutkan bahwa pada hiperemesis gravidarum tingkat 1 ditandai dengan adanya mual, muntah, keadaan umum lemah, mata cekung, conjungtiva pucat, tekanan darah rendah, nadi meningkat, nafsu makan berkurang, berat badan turun, nyeri epigastrium.
(mochtar, 1998: 195)
Pada Ny. T dengan hiperemesis gravidarum tingkat 1 didapatkan data adanya mual muntah, keadaan umum lemah, conjungtiva pucat, mata cekung, berata badan menurun, tekanan darahnya 90/60 mmHg, nadi 89x/mnt, pernafasannya 24x/mnt, suhunya 37,2ÂșC dan nyeri epigastrium.

4.2 Interpretasi Data
Pada langkah ini data yang didapat pada Ny. T sebagai berikut : mual muntah, keadaan umum ibu lemah, mata cekung, konjungtiva pucat, tekanan darah rendah, nadi meningkat, nafsu makan berkurang, berat badan menurun dan nyeri epigastrium. (Mochtar, 1998 : 195)
Diagnosa yang penulis tegakan : hamil dengan hiperemesis gravidarum tingkat I
Dasar :
- Mual, muntah
- Keadaan umum ibu lemah, mata cekung, konjungtiva pucat
- Tekanan darah 90/60 mmHg
Masalah :
Ibu kurang mengetahui masalah kehamilan
Kebutuhan :
Konseling lebih lanjut
4.3 Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Dalam identifikasi diagnosa dan masalah potensial dikemukakan bahwa potensial terjadinya hiperemesis gravidarum tingkat I adalah hiperemesis tingkat II dan tingkat III yaitu dehidrasi, abortus, anemia dan pada bayi IUGR.

4.4 Identifikasi Kebutuhan Akan Tindakan Segera / Kolaborasi
Dalam teori mengatakan : pada hiperemesis gravidarum tingkat I tidak diperlukan kolaborasi dengan SpOG (Mochtar, 1998 : 195) yang terjadi pada kasus Ny. T pun tidak dilakukan kolaborasi dengan SpOG.

4.5 Merencanakan Asuhan yang Menyeluruh
4.5.1 Kaji ulang keluhan ibu.
4.5.2 Berikan konseling tentang tanda bahaya kehamilan → penglihatan menjadi kabur, kepala pusing, nyeri perut yang hebat, oedema muka, tangan, dan kaki, pendarahan pervaginam.
4.5.3 Anjurkan ibu makan yang tidak merangsang mual dan berminyak.
4.5.4 Anjurkan makan sedikit tapi sering
4.5.6 Anjurkan banyak minum air.
4.5.7 Hindari minuman atau makanan yang asam untuk mengurangi iritasi lambung.
4.5.8 Berikan informasi dan edukasi tentang kehamilan kepada ibu dengan maksud menghilangkan factor psikis rasa takut.
4.5.9 Berikan terapi obat sedative, vitamin B1 dan B6, anti muntah (Mediamer B6, Drammamin, Avomin, Torecan); antasida dan anti mulas.
4.5.10 Anjurkan pemeriksaan hamil lebih sering.
4.5.11 Segera datang bila terjadi keadaan abnormal.
Asuhan yang diberikan pada Ny. T pun sesuai dengan perencanaan dalam teori



4.6 Pelaksanaan
4.6.1 Mengkaji ulang keluhan ibu.
4.6.2 Memberikan konseling tentang tanda bahaya kehamilan → penglihatan menjadi kabur, kepala pusing, nyeri perut yang hebat, oedema pada muka, tangan dan kaki, perdarahan pervaginan.
4.6.3 Menganjurkan ibu makan yang tidak merangsang
4.6.4 Menganjurkan ibu makan sedikit tapi sering
4.6.5 Menganjurkan banyak minum air.
4.6.6 menghindari minuman atau makanan yang asam untuk mengurangi iritasi lambung.
4.6.7 Memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan kepada ibu dengan maksud menghilangkan factor psikis rasa takut.
4.6.8 Memberikan terapi obat sedative, vitamin B1 dan B6, anti muntah (mediamer, B6, Drammamin, Avopreg, Avomin, Torecan, Antisida dan anti mulas).
4.6.9 Menganjurkan pemeriksaan hamil lebih sering.
4.6.10 Menganjurkan segara datang bila terjadi keadaan abnormal.

4.7 Evaluasi
4.7.1 Ibu mengerti dan bisa mengulangi konseling yang diberikan.
4.7.2 Ibu bersedia untuk tidak makan-makanan yang berminyak
4.7.3 Ibu bersedia makan sedikit tapi sering
4.7.4 Ibu bersedia banyak minum
4.7.5 Ibu bersedia untuk tidak memakan makanan dan meminum-minuman yang asam
4.7.6 Ibu tahu dan mengerti tentang keadaan kehamilannya
4.7.7 Ibu telah mendapatkan terapi obat
4.7.8 Ibu bersedia untuk datang pada kunjungan ulang berikutnya atau dan jika diperlukan.
( Diktat Asuhan Kebidanan I )
.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Setelah penulis melakukan pangkajian dan memberikan asuhan kebidanan pada Ny. T dengan hiperemesis gravidarum tingkat I di BPS Hj.Iming pada tahun 2008 penulis menyimpulkan :
5.1.1 Pengkajian
Di dalam pengumpulan data penulis tidak menemukan kesenjangan antara teori dengan praktek.
5.1.2 Interpretasi Data
Di dalam interpretasi data penulis tidak menemukan kesenjangan antara teori dengan praktek.
5.1.3 Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Masalah potensial yang akan terjadi pada Ny. T dengan hiperemesis gravidarum tingkat I selanjutnya adalah tingkat II dan tingkat III yaitu dehidrasi, abortus dan anemia
5.1.4 Identifikasi Kebutuhan Akan Tindakan Segera
Di dalam identifikasi kebutuhan penulis tidak menemukan kesenjangan antara teori dengan praktek karena tidak dilakukan kolaborasi dengan SpoG
5.1.5 Perencanaan
Di dalam perencanaan penulis tidak menemukan kesenjangan antara teori dengan praktek
5.1.6 Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan penulis tidak menemukan kesenjangan antara teori dengan praktek
5.1.7 Evaluasi
Penulis dapat mengevaluasi perkembangan kehamilan yang dialami Ny. T dengan hasil yang sesuai diharapakan karena Ny. T memeriksakan kehamilannya dengan rutin dan mau melakukan apa yang dianjurkan oleh bidan sehingga penulis tidak menemukan kesenjangan antara teori dengan praktek
5.2 Saran
5.2.1 Untuk Prodi DIII Kebidanan STIKes Cirebon
Kepada Prodi DIII Kebidanan STIKes Cirebon agar dapat mempersiapkan mahasiswa dan alat-alat yang dibutuhkan untuk praktek sehingga mahasiswa siap mempelajari keterampilan yang ada di lapangan.
5.2.2 Bagi BPS agar lebih menegakkan pelayanan secara cepat dan tepat, diharapkan melengkapi alat dan sarana yang menunjang pada pelayanan kebidanan terutama yang bermasalah sehingga tercipta pelayanan yang komprehensif yang optimal.
5.2.3 Bagi Ny.T diharapkan agar dapat menjaga kehamilannya terutama keluarga turut berperan serta mengamati dan menerima keluhan dari ibu hamil.
5.2.4 Bagi Mahasiswi DIII kebidanan STIKes Cirebon agar dapat meningkatkan kualitas belajarnya sehingga dapat memberikan asuhan pelayanan kebidanan sesuai standart yang telah ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Sarwono, Prawirohardjo, 2001, Ilmu Kebidanan, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.
Mochtar, Rustam, 1998, Sinopsis Obstetri, Edisi 2 jilid 1, Jakarta : EGC
Mansjoer, Arif, 1999, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3 jilid 1, Jakarta : Media Aesculapius.
Manuaba, Ida Bagus Gde, 1998, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan, Jakarta : EGC.
Diktat Asuhan Kebidanan 1




KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah hasil Praktek Belajar dilapangan yang berjudul “ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. T KEHAMILAN DENGAN HYPEREMESIS GRAVIDARUM TINGKAT I DI BPS Hj.IMING ADMI PASAWAHAN KUNINGAN TAHUN 2008”.
Dalam penyusunan makalah ini penulis memperoleh bimbingan, arahan dan dorongan dari berbagai pihak sehingga pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Drs.H E Djumhana Cholil, MM, selaku Ketua YASRI Cirebon.
2. Djaenal Asikin, SKM, M.Kes, selaku Ketua STIKes Cirebon.
3. Rahayu Widiarti, Amd.Keb, selaku Ketua prodi D3 Kebidanan dan Sebagai Pembimbing Lapangan.
4. Hj.Iming Admi Amd.Keb, selaku Pembimbing Lapangan.
5. Orang tua yang selalu memanjatkan doa dan selalu memberikan dukungan.
6. Rekan-rekan mahasiswa prodi DIII Kebidanan STIKes Cirebon serta semua pihak yang telah memberikan banyak masukan dan bantuan dalam menyusun laporan kasus ini.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu segala saran dan koreksi dari manapun penulis terima.
Akhirnya penulis berharap, semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pembaca khususnya dunia kesehatan .


Cirebon, Juni 2008

Penulis


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan 1
1.3 Metode Penelitian 3
1.4 Sistematika Penulisan 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Medis 4
2.1.1 Definisi 4
2.1.2 Etiologi 5
2.1.3 Tingkatan Hiperemesis Gravidarum 6
2.1.4 Patofisiologi 7
2.1.5 Diet Pada Ibu Hamil Dengan Hiperemesis
Gravidarum 8
2.1.6 Penanganan 8
2.1.7 Penatalaksanaan 9
2.2 Konsep Asuhan Kebidanan 10
2.2.1 Pengkajian 10
2.2.2 Interpretasi Data 16
2.2.3 Identifikasikan Diagnosa / Masalah Potensial 16
2.2.4 Indentifikasi Kebutuhan Segera 16
2.2.5 Perencanaan Asuhan Secara Menyeluruh 16
2.2.5 Pelaksanaan 17
2.2.6 Evaluasi 18
BAB III TINJAUAN KASUS 19
BAB IV PEMBAHASAN 24
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan 27
5.2 Saran 28
DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar: