Senin, 05 April 2010

Makalah Bahasa Indonesia "Menuju Indonesia Merdeka"

KATA PENGANTAR


Alhamdulillah Puji serta Syukur Kehadirat Allah SWT yang memberikan Rahmat-Nya dan tidak lupa iringan shalawat tercurahkan kehadirat Nabiyullah Muhammad SAW.
Dengan terselesaikannya Karya Ilmiah ini bertemakan “Menuju Indonesia Merdeka” maka sedikit banyaknya memberikan kontribusi yang baik bagi para pembaca terkhusus buat penulis sendiri. Dengan mempelajari sejarah kita bisa mengetahui kerjadian masa lalu untuk di pelajari pada masa sekarang dan diproyeksikan pada masa mendatang.

Penulis menyadari bahwa tiada gading yang tak retak, maka dari itu penulis mengharapkan masukan kritik dan saran yang bersifat membangun guna penyempurnaan karya tulis pada masa yang akan datang.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca dan akhir kata Wassalamu ‘Alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



Karangampel, Mei 2006

Penulis

DAFTAR ISI


Lembar Persetujuan i
Motto ii
Persembahan iii
Kata pengantar iv
Daftar Isi v

BAB I PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Rumusan Masalah 1
1.3. Tujuan Penulisan 1
1.4. Metode Penulisan 1
1.5. Kegunaan Penulisan 1
1.6. Sistematika Penulisan 1

BAB II PEMBAHASAN 2
2.1. Politik Etis 2
2.2. Perjuangan Partai Politik dan Organisasi Massa 3
2.2.1. Budi Utomo 3
2.2.2. Serikat Islam 3
2.2.3. Indische Partij 4
2.3. Menyusun Teks Proklamasi Kemerdekaan 5
2.4. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 5
2.4.1. Peristiwa-peristiwa Penting Sekitar
Proklamasi Kemerdekaan 5
2.4.2. Pemanggilan Tokoh-tokoh Indonesia
ke Dalat Vietnam 6
2.4.3. Peristiwa Rengasdengklok 6
2.4.4. Upacara Proklamasi Kemerdekaan RI 6

2.4.5. Sambutan Rakyat Indonesia terhadap Proklamasi 7
2.4.6. Makna Proklamasi 7

BAB III PENUTUP 9
3.1. Kesimpulan 9
3.2. Saran 9

Daftar Pustaka 10
BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
Agar tetap memperingati dan mengenang perjuangan para pahlawan Indonesia yang telah gugur demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Dan akhirnya sejarah kemerdekaan Indonesia adalah tema yang tepat agar terus dikenang jasa beliau.

1.2. Rumusan Masalah
Karena Karya Tulis ini yang bertema sejarah dan dengan topik “Menuju Indonesia Merdeka” merupakan perang dengan pertumpahan darah dan mengorbankan nyawa demi negara tercinta negara Indonesia, mereka berani mengorbankan nyawanya untuk meraih bendera merah putih.

1.3. Tujuan Penulisan
Untuk memberitahukan terhadap warga Indonesia maupun pembaca karya ilmiah ini terutama penulis agar mengenang peristiwa yang sangat penting bagi kelangsungan hidup warga Indonesia.

1.4. Metode Penulisan
Karya Ilmiah ini mengambil metode dari daftar pustaka.

1.5. Kegunaan Penulisan
Agar pembaca dan penulis mengetahui peristiwa yang sangat penting bagi Indonesia.

1.6. Sistematika
Karangan ini mencakup politik etis, perjuangan partai politik dan organisasi masa, menyusun teks proklamasi kemerdekaan, proklamasi kemerdekaan Indonesia, pelaksanaan demokrasi terpimpin dan perkembangan PKI pada masa demokrasi terpimpin.
BAB II
PEMBAHASAN
MENUJU INDONESIA MERDEKA



Masa ini ditandai munculnya berbagai organisasi pemuda dan partai politik, kemudian muncul pemimpin-pemimpin bangsa mereka berjuang tidak lagi untuk daerah masing-masing tetapi untuk bangsa Indonesia.

2.1. Politik Etis
Politik Eksploitasi yang dijalankan oleh Hindia Belanda abad ke-19 dikecam oleh berbagai golongan di Negeri Belanda karena hanya mengeruk keuntungan tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyat. Politik etis ini dilaksanakan oleh pemerintah kolonial pada awal Abad ke-20.
Tokoh politik etis, C. Th. Van Deventer mengemukakan bahwa kemakmuran yang diperoleh Belanda merupakan hasil kerja dan jasa rakyat Indonesia, secara etis bangsa belanda merasa beruntung pada bangsa Indonesia, utang budi perlu dibayar melalui 3 cara yaitu mengadakan irigasi, transmigrasi dan education (isatilah ini dikenal trilogi van deventer). Status penduduk Indonesia pada masa kolonial dibagi 3 golongan, yaitu kulit putih (Eropa), Kulit Kuning (Cina) dan kulit hitam (timur asing).
Pada awal abad ke-20 peranan pendidikan mengubah status seseorang dalam masyarakat, pendidikan memberi prioritas untuk memperoleh posisi yang baik dan kekuasaan, karena itu pendidikan barat menjadi idaman orang. Orang lebih menghargai pendidikan barat kemudian berprilaku kebarat-baratan dan mereka memandang rendah hal yang berbau pribumi (inlander).


2.2. Perjuangan Partai Politik dan Organisasi Masa
1) Budi Utomo
Pada tahun 1906 dan 1907 Dr. Wahidin Sudiro Husodo mengadakan kampanye ke seluruh pulau Jawa, ia mengajarkan berbagai langkah memajukan kehidupan rakyat, ia juga menganjurkan pembentukan dana pelajar yang hasilnya untuk menyokong pelajar-pelajar yang kurang mampu, pada akhir tahun 1907 Dr. Wahidin bertemu dengan Sutomo (Mahasiswa Stovia) di Jakarta, mereka membincangkan nasib rakyat yang kurang mendapat pendidikan. Cetusan dan cita-cita mereka ini membentuk organisasi Boedi Oetomo (20 Mei 1908). Organisasi ini diketuai Sutomo disusun dalam organisasi modern sehingga dipandang sebagai pelopor pergerakan nasional Indonesia (PPNI).
Budi utomo sangat menarik perhatian masyarakat dan hanya 6 bulan cabang budi utomo telah berdiri di Jakarta, Bogor, Magelang, Surabaya, dan Yogyakarta.
Pada bulan Oktober 1908 Budi Utomo menyatakan Kongres Pertama di Yogyakarta dan mengambil keputusan sebagai berikut :
1. Budi Utomo tidak ikut mengadakan kegiatan politik
2. Kegiatan utama pada bidang pendidikan dan budaya
3. Ruang geraknya yaitu hanya untuk daerah Jawa dan Madura

2) Serikat Islam
Semula bernama Serikat Dagang Islam, didirikan RM. Tirto Adi Suryo pada tahun 1911. semula membela pedagang Indonesia dari ancaman pedagang Cina, penghinaan dan ketidakadilan yang menimpa rakyat Indonesia. Baik yang datang dari pemerintah jajahan, orang Cina, maupun dari kalangan bangsa sendiri yang bekerja sebagai pegawai pemerintahan kolonial.
Kekuatan besar yang terhimpun dalam lingkungan Serikta Islam pada bulan Juni 1916 diadakan Kongres Nasional Serikat Islam yang Pertama di Bandung. Serikat Islam tersebar ke seluruh Indonesia dengan jumlah anggota 800 ribu orang. Serikat Islam merupakan organisasi massa yang pertama di Indonesia. Serikat Islam merupakan partai yang kuat dan paling aktif pada masa itu. Pemimpin Serikat Islam ialah H.O.S. Cokroaminoto, H. Agus Salim, dan Abdoel Muis.
Pada akhir tahun 1922 Serikat Islam menghimpun aliran kaum muslimin di dalam kongres Al-Islam, tetapi kurang berhasil untuk menghidupkan Pan-Islamisme juga tidak dapat mencegah kemuduran Serikat Islam.

3) Indische Partij
Bersamaan Serikat Islam muncul pula Indische Partij (IP). Organisasi ini mempunyai cita-cita mempersatukan masyarakat Indonesia, asli Indonesia, golongan Indonesia, Cina, Arab, dan Golongan lainnya. Pencetus gagasan itu adalah Dr. E.F.E. Douwes Dekker dikenal dengan nama Dr. Danudirja Setia Budi. Ia seorang Indo-Belanda yang merasa dirinya orang Indonesia asli/sejati.
Sebelum mendirikan partainya pada tahun 1912, terlebih dahulu berkeliling pulau Jawa ia bertemu dan berbicara dengan Dr. TJipto Mangun Kusumo, Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), dan Abdul Moeis. Semua mendukung gagasan itu.
Pada tanggal 25 Desember 1912 Indische Partij didirikan sebagai organisasi politik dan berprogram nasionalisme Indonesia. Indische Partij disebarluaskan ke mana-mana ditegaskan nasib masa depan penduduk Indonesia terletak di tangan mereka sendiri. Oleh karena itu, kolonialisme harus dihanguskan.
Pada bulan Desember 1912 Indische Partij mengatakan permusyawaratan di Bandung. Dan memperjelas tujuan Indische Partij yaitu menumbuhkan dan meningkatkan jiwa Integrasi semua golongan untuk memajukan tanah air yang dilandasi jiwa nasional. Juga mempersiapkan ke arah kehidupan rakyat yang merdeka.
2.3. Menyusun Teks Proklamasi Kemerdekaan
Pada malam itu, Bung Karno dan Bung Hatta menyiapkan suatu rapat. Namun tidak ada hotel yang bersedia menyiapkan ruang rapat karena ada larangan mengadakan pertemuan lewat dari pukul 10 malam. Maka bung Karno dan Bung Hatta meminta bantuan kepada Laksamana Maeda (seorang perwira tinggi angkatan laut jepang). Maeda bersimpati kepada Perjuangan Bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Permintaan Bung Karno dan Bung Hatta dengan senang hati dikabulkan dan mempersilakan untuk mengadakan rapat di rumahnya.
Sebelum berangkat ke rumah Maeda, Bung Karno dan Bung Hatta mendapat telepon panggilan dari Somubucho. Bersama Maeda dan Letkol Miyoshi sebagai juru bahasa, para pemimpin dari para pemuda jumlahnya kira-kira sampai 50 orang. Bung Karno meminta agar Bung Hatta menyusun kata-kata teks proklamasi dan Bung Karno yang menulisnya. Dan teks proklamasi akan ditandatangani oleh Sukarno – Hatta atas nama rakyat Indonesia.
Teks proklamasi akan dibacakan di rumah Bung Karno, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 10 pagi hari Jum’at tepat pada tanggal 17 Agustus 1945, para pemuda mengumumkan kepada rakyat bahwa besok pagi diumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia di tempat kediaman Bung Karno.

2.4. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
2.4.1. Peristiwa-peristiwa penting sekitar Proklamasi Kemerdekaan.
Menjelang diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 telah terjadi beberapa peristiwa penting yang tidak berdiri sendiri dan merupakan mata rantai yang tidak dapat dipisahkan dari proklamasi kemerdekaan Indonesia.

2.4.2. Pemanggilan Tokoh-tokoh Indonesia ke Dalat Vietnam
Pada 09 Agustus 1945 Marsekal Teravehi, Panglima besar tentara besar di Asia Tenggara memanggil Ir. Sukarno, Drs. Moh. Hatta dan Dr. Tadjiman Wedyudiningrat, ke markasnya di Dalat (Segon) Vietnam. Pertemuan Dalat merupakan momentum penting ke arah terlaksananya sebuah proklamasi kemerdekaan. Tetapi sebaliknya justru penerimaan atau keputusan kemerdekaan dari pemerintah Jepang inilah yang menjadi pemicu terjadinya perbedaan pendapat antara tokoh-tokoh golongan tua dan golongan muda.

2.4.3. Peristiwa Rengasdengklok
Peristiwa pemboman kota Hirosima pada 8 Agustus 1945, dan Nagasaki pada 9 Agustus 1945, berita kekalahan tersebut pada tanggal 15 Agustus 1945, para pemuda berkumpul di ruang belakang gedung Bakteriologi Jalan Pegangsaan Timur No. 13 Jakarta. Pertemuan tersebut dipimpin Chairul saleh dengan pembahasan sekitar berita kekalahan Jepang dan persiapan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

2.4.4. Perumusan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Atas usaha Mr. Ahmad Subarjo diperolehlah sebuah tempat yaitu rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda, seorang perwira Jepang dengan jabatan wakil komandan angkatan laut Jepang di Jakarta. Tempat tersebut dianggap sebagai tempat paling aman dari ancaman Pemerintah Militer.
Di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda ternyata telah berkumpul dengan para pemuda dan beberapa tokoh PPKI. Sementara itu datang orang kepercayaan Nishimura yaitu Miyoshi bersama Sukarni Sudiro dan BM. Diah menyaksikan Sukarno – Hatta – Ahmad Subarjo merumuskan naskah teks proklamasi.

2.4.5. Upacara Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
Pada 17 Agustus 1945 dini hari, para perumus teks proklamasi baru keluar dari rumah Laksamana Muda tadashi Maeda. Kemudian mereka berkumpul kembali di rumah Ir. Sukarno untuk melaksanakan upacara Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Para pemuda menyebarluaskan teks proklamasi ke seluruh Nusantara dan dunia.
Orang-orang sibuk mempersiapkan Upacara, Sudiro menugasi Suhud agar menyiapkan tiang bendera dari bambu, bendera untuk upacara adalah bendera merah putih yang telah dijahit oleh ibu Fatmawati.
Pada hari Jum’at bulan Ramadhan, 17 Agustus 1945 tepat pukul 10.30 WIB dilaksanakan upacara Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Susunan upacaranya adalah pembacaan teks proklamasi, pengibaran bendera merah putih dan sambutan walikota Jakarta Suwirjo dan Dr. Muwardi.

2.4.6. Sambutan Rakyat Indonesia Terhadap Proklamasi
Semua alat komunikasi dipergunakan untuk menyebarluaskan kemerdekaan Indonesia. Berita Proklamasi juga disebarkan melalui radio, famplet-famplet, pengeras suara, pawai mobil, pers, dan selebaran surat di penjuru kota secara beranting. Berita disebarluaskan hingga keluar kota Jakarta.
Pada 20 Agustus 1945 pemancar Radio disegel oleh Jepang dan pegawainya dilarang masuk, namun pemuda membuat pemancar baru dengan bantuan teknisi radio seperti Sukarman, Sutamto, dan Suhendar. Hampir seluruh surat kabar di Jawa saat itu memuat berita proklamasi dan Undang-undang Negara Republik Indonesia. Dan akhirnya berita proklamasi menyebar ke seluruh pelosok tanah air.



2.4.7. Makna Proklamasi
Teks proklamasi merupakan pernyataan kemerdekaan atau membebaskan diri dari penjajahan atas negara Indonesia. Teks proklamasi memiliki arti penting bagi Indonesia, sebab pernyataan itu sejarah baru bagi Indonesia mulai dirintis dan Proklamasi adalah Jembatan Emas yang menghubungkan dan mengantarkan masyarakat Indonesia mencapai masyarakat baru bebas, tanpa tekanan dan ikatan. Proklamasi juga merupakan yang bersifat legal dan resmi, dengan proklamasi Indonesia dapat menentukan jalan hidupnya sendiri sesuai harkat dan martabat serta tradisi bangsa Indonesia. Apalagi proklamasi kemerdekaan telah berhasil mengantar ke depan pintu gerbang kemerdekaan yang adil dan beradab.


- - o O SELESAI O o - -

BAB III
PENUTUP


3.1. Kesimpulan
Jadi, sejarah yang tertulis dalam karya ilmiah ini menyangkut masalah pada masa Indonesia mencapai kesuksesannya yaitu mencapai kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 yang dipimpin oleh Sukarno dan Moh. Hatta
Dan bangsa Indonesia tidak mudah menyerah walau PKI terus menerus memberontak pada negara Indonesia.


3.2. Saran
Dengan latar belakang sejarah dan semangat kemerdekaan Indonesia hendaknya setiap warga negara Indonesia rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negaranya, mengisi kemerdekaan dengan segala kegiatan untuk kemajuan bangsa serta bangga sebagai bangsa indonesia.

DAFTAR PUSTAKA



Drs. Karso, dkk. 1996. IPS Sejarah. Bandung : Angkasa

Basri, Yusmar. 1997. Sejarah Nasional dan Umum 2. Jakarta : PT. Balai Pustaka

Drs. Supriatna, Nana. 2002. Sejarah Nasional indonesia dan Umum. Bandung : Grafindo Media Pratama

Drs. Suparman, dkk. 2003. Sejarah Nasional dan Umum. Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri





Rusyid, Ibnu. 1968. Hidayatul Mujtahid. Jakarta : Bulan Bintang.
Asnawi, Juhri. 1966. Fashalatan. Surabaya : Menara Kudus.

Tidak ada komentar: