Showing posts with label agama. Show all posts
Showing posts with label agama. Show all posts

Monday, 5 April 2010

Meneladani Sahabat Nabi Abu Bakar Ash-Shiddiq

Meneladani Sahabat Nabi Abu Bakar Ash-Shiddiq
Pada Kesempatan kali ini Kami akan mengangkat biografi sahabat Nabi Muhammad SAW, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq. Seorang sahabat Nabi yang mula-mula masuk Islam, di kala orang lain masih meragukan risalah Nabi. Dan beliau pula yang paling percaya akan peristiwa Isra Mi'raj Nabi, dikala orang lain mendustakan dan menentangnya. 

Melalui Beliau pula, banyak perjuangan kaum muslimin yang mencapai kemenangan dan kesuksesan yang terang benderang. Seluruh harta dan jiwanya dikorbankan untuk kemajuan Islam. Beliau pula orang yang paling dekat dengan Rasulullah SAW. Baiklah, untuk lebih menyingkatkan kata, langsung kita simak saja ulasan berikut.

A.     Abu Bakar sebelum masuk Islam
Abu Bakar bernama asli Abdullah bin Usman bin Amir. Ia dilahirkan pada tahun 573 M dari seorang ayah yang bernama Quhafah dan seorang ibu yang bernama Umul Khair Salman binti khair. Nama Abu bakar merupakan nama kinayahnya karena ia adalah orang yang pertama kali masuk islam yang diambil dari bahasa arab bukron yang artinya pagi-pagi adapun gelar Ash-shiddiq didapatkannya karena ia adalah orang yang membenarkan peristiwa isra mi’raj Nabi Muhammad Saw.
Sebelum masuk islam, Abu Bakar adalah seorabg pedagang. Setelah masuk islam, ia begitu cepat menjadi anggota yang paling menonjoldalam jamaah islam setelah Nabi. Ia terkenal karena keteguhan pendirian, kekuatan iman, kesetiaan, dan kebijakan pendapatnya. Kalaupu ia hanya sekali dua kali diangkat sebagai panglima perang tidak seperti Ali bin Abi thalibyang sanga lincah dalam memimpim peperangan , halitu barang kali disebabkan Nabi menghendaki agar Abu bakar mendampinginya untuk bertukar pendapat atau berunding.

B.      Sistem Pengangkatan Abu Bakar
Dengan wafatnya Nabi Muhammad pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 H bertepatan dengan 3 juni 632 M maka berakhirlah situasi yang sangat unik dalam sejarah umat islam, yakni kehadiran seorang pemimpin tunggal yang memiliki otoritas spiritual dan temporal yang berdasarkan kenabian yang bersumber dari wahyu ilahi, kewafatan Nabi membawa masalah yang sangat pelik bagi umatnya , sementara beliau tidak wasiat tentang siapayang akan menggantikannya sebagai pemimpin umat. Dalam Al-quran dan sunah tidak terdapat tuntunan tentang bagaimana cara menentukan pimpinan mereka, yaitu siapa yang berhak menggantikan kedudukan nabi Muhammad sebagai penerus perjuangan islam. 
Adapun sistem pengangkatan Abu bakar sebagai khalifah pertama itu melalui pemilihan yang terjadi secara darurat yaitu dalam suatu pertemuan yang berlangsung pada hari kedua setelah Nabi wafat dan sebelum jenazah beliau damakamkan. 
Ketika sebagian para sahabat merundingkan proses pemakaman Nabi Muhammad, Umar bin Khatab mendengar bahwa kelompok golongan Anshar sedang melakukan pertemuan di Saqifah Bani Sa’idah di Madinah untuk mengangkat Sa’ad bin Ubadah, seorang tokoh Anshor dari suku Khazraj, untuk menjadikan khalifah. Setelah Umar mendengar hal tersebut Umar datang menemui Abu Bakar untuk keluar, semula Abu Bakar menolak karena beliau sedang sibuk mempersiapkan pemakaman Nabi, tetapi beliau akhirnya memenuhi panggilan Umar, segera beliau datang ke Saqifah Bani Sa’idah bersama dengan Abu Ubaidah bin Jarrah seorang senior dari muhajirin.
Setelah mereka datang kesana telah terjadi pertempuran sengit antara golongan Anshar dan golongan Muhajirin, masing-masing merasa berhak untuk menggantikan kedudukan sebagai khalifah Nabi dengan memgajukan berbagai argumen dan jasa masing-masing terhadap islam. 
Golongan anshar yang diwakili oleh Sa’ad bin Ubadah berpidato mengajukan argumentasi tentang keutamaan dan peranan golonhan Anshar dalam 

membela perjuangan Rasulallah, sehingga Rosul berhasl menaklukan Makkah dan menyebarkan islam diseluruh semenanjung Arabia, yang tiada lain itu berkat pertolongan kaum Anshar, karena itu sangat layak bahwa kekhalifaan menjadi hak golongan ini. Mendengar pidato tersebut kaum anshar mengusulkan Sa’ad bin Ubadah sebagai khalifah. 
Kaum Muhajirin juga mengajukan argmentasi bahwa merekalah yang pertama-tama mendukung perjuangan Rasulallah sehinggaislam berkembang dari jumlah yang sangat kecil menjadi kekuatan yang besar. Golongan ini yang mengajukan argumentasi bahwa Nabi pernah bersabda”Pemimpin itu dari golongan Quraisy” serta perinah nabi kepda Abu Bakar untuk menjadi imam pada pelaksanaan shalat berjamaah. Argumentasi Muhajiri yang menghubungkan kapada Nabi Muhammad berhasil bukan saja menutup kesempatan golongan Anshar, tetapi juga diterima sebagai ajaran politik ajaran islam sampai beberapa abad kemudian. 
Ada salah seorang dari golongan Anshar yang mengusulkan untuk mengajukan masing-masing satu pemimpin, tetapi hal tersebut tidak disetujui oleh para sahabat, terutama oleh Umar bin Khattab dengan Abu Ubaidah sebagai pemimpin yang dipilih sebagai pemimpin untuk dipilih sebagai khalifah Umar tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, ia bergarak dan menghampiri Abu Bakar untuk membai’atnya sebagai khalifah Rasulallah dan menyatakan kesetiaanya kepadanya, lalu umar mengajukan argumentasi bahwa Abu Bakarlah yang layak untuk dipilih karena ia adalah orang yang menemani Rasul dalam gua Tsur dan yang ditunjuk oleh Rasul sebagai pengganti imam shalat berjamaah. 
Bai’at Umar merupakan titik awal dari sebuah perjalanan suksesi dalam masyarakat islam, karena bai’at tersebut diikuti oleh para hadirin yang berada di Saqifah Bani sa’idah baik dari golongan Muhajirin maupun dari golongan Anshar. Pembai’atan tersebut diikuti dengan bai’at umum, sebagai legalisasi rakyat terhadap Abu Bakar. 
Abu Bakar terpilih sebagai pengganti Rasulallah dan dibai’at oleh seluruh umat. Keluarga dekat rasulallah tidak mengikuti prosesi suksesi kepemimpinan itu karena sibuk mengurusi janazah dan penguburan Nabi. Bahkan Ali baru menyatakan bai’atnya sesudah istrinya, fatimah wafat, lebih kurang 75 hari sesudah Nabi wafat namun demikian Abu Baakar tidak melihat dan mengalami oposisi terbuka dan yang lebih berarti terhadap keabsahan kepemimpinannya baik Ali bin Abi Thalib r.a maupun dari keluarga dekat Nabi yang lain. 
Sewaktu Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, sebagai pengganti Nabi mengepalai negara Madinah.


C.      Pengembangan, pembangunan dan perluasan wlayah
Kepemmpinan Abu Bakar dimulai setelah dilakukan dua bai’at (sumpah seti) pertam, bai’at dilakukan olh kalangan terkemuka dari kalangan Muhajirin dan Anshar di Saqifah Bani Sa’idah; kedua, bai’at umum yang dilakukan oleh umat islam yang hadir di masjid.
Di awal kepemimpinan, Abu Bakar dihadapkan pada ikhtilaf antara dirinya dengan Fatimah, putri Rasullah. Dan Ali bin Abi Thalib mengenai warisan Nabi. Oleh karena itu, Fatimah tidak dapat memperoleh harta peninggalan dari Nabi. Dan Ali bin Abi Thalib tidak membai’at Abu Bakar kecuali setelah isrtinya, Fatimah meninggal dunia. Selama memimpin umat islam, Abu Bakar dihadapkan kepada beberapa persoalan keagamaan dan kenegaraan.
a.      Penolakan Zakat
Suku atau kabilah yang menolak zakat adalah Abs dan Sufyan. Penolakan mereka menurut Muhammad Husain Haikal kemungkinan didasarkan pada dua alasan: kikir atau karena mereka mengannggap bahwa zakat merupakan upeti yang tidak berlaku lagi ketika Nabi wafat. Disamping itu, mereka juga menunjukan sikap politik pembangkangan, yaitumereka menyatakan tidak tundak lagi kapada Abu Bakar. Jadi, penolakan pembayaran zakat merupakan symbol ketidak tundukan secara politik. Abu Bakar dihadapkan pada situasi sulit, dan akhirnya dadakan musyawarah yang dihadiri para sahabat besar untuk mengatasi para pembangkang. Dalam musyawarah tersebut muncul dua pendapat: pertama, membiarkan mereka dan diharapkan dapat membantu umat islam dalam menghadapi musuh lain dan berarti mentolelir pembangkangan; kedua, memerangi mereka berarti tidak mentolelir pembangkangan dan sekaligus menambah musuh umat islam. Umar cenderung untuk tidak memerang mereka; sedangkan Abu Bakar bersikukuh akan memerangi mereka. Kabilah Abs, Zufyan, Banu Kinanah, Gatafan, dan Fazarah mengutus utusan kepada Abu Bakar dengan mengatakan bahwa kami akan melaksanakan shalat tapi tidak akan menunaikan zakat. Abu Bakar menjawab bahwa ia akan memerangi siapapun yang tidak menunaikan zakat.

b.      Memerangi kemurtadan
kepribadian Nabi Muhannad yang dinamis menyebabkan seluruh bangsa arab bersatu. Di samping itu, banyak suku Arab yang menganggap bahwa persetujuan mereka dengan Nabi sebagai persetujuan pribadi yang berakhir dengan wafatnya Nabi. Segara setelah kabar tentang wafatnya Nabi telah sampai ke luar negeri, unsure-unsur yang tidak mau nurut mulai bangkit. Sejumlah suku mulai melepaskan diri dari kekuasaan Madinah dan menolak perintahnya. Sebagian di antara mereka bahkan menolak islam, hal itu merupakan hal yang gawat. Islam tidak pernah masuk ke dalam hati orang-orang badui. 
Bertambahnya orang yng masuk islam setelah takluknya Mekkah begitu cepat sehingga Nabi mampu berbuat banyak untuk mengajari orang-orang yang baru masuk islam. Beliau hanya mampu menghimpun orang-orang inti yang berpengalaman yang benar-benar telah mengerti prinsip-prinsip revolusi, tetapi tempat-tempat yang jauh di Arabia itu tidak bisa segara dididik karena Nabi tidak hidup cukup lama untuk membuat persiapan-persiapan yang perlu. Secara fisik tidaklah mungkin, di dalam waktu beberapa bulan setelah penaklukan Mekkah Nabi dapat mengatur pendidikan atau latihan bagi masyarakat-masyarakat yang terpencar di seluruh wilayah yang luas. Orang-orang yang datang kepada Nabi sebagai utusan suku-suku padang pasir yang jauh ini, membawa pulang kesan yang mendalam tentang islam, tetapi mereka hanyalah setitik air di samudra. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa setelah wafatnya Nabi mereka melepaskan diri dari kekuasaan islam. 
Secara politik, suatu pemerintah yang terpusat, yang menuntut dan menerima kesetiaan orang-orang, belum dikenal di Arabia, yang suku-sukunya hidup dalam kebebasan yang sempurna. Lebih-lebih, suku-suku Arab benci terhadap Madina, ibu kota imperium islam pada waktu itu. Kepemimpinan Madinah jadi tek tertahankan oleh semangat gegas suku-suku Arab. 
Bangsa Arab tidak bisa menyesuaikan diri dengan aturan-aturan moral islam yang kers itu, prinsip-prinsip yang kuat yang didukung oleh islam dan ketaatan terhadap upacara-upacara agama, seperti shalat lima waktu, ibadah puasa di bulan Ramadhan, pembayaran zakat, larangan meminum khamer dan berjudi, serta ikatan-ikatan perkawinan, sungguh sangt membantu orang Arab yang berpikik bebas, yang hany adiam takut kepada Nabi. 
Banyak calon baru untuk kenabian yang, karena menganggap jabatan kenabian itu sangat menguntungkan, menyatakan diri sebagai nabi dan menarik hati orang-orang dengan membebaskan prinsip-prinsip moral dan upacara agama, seperti menyatakan minum-minuman keras dan berjudi adalah halal, pelksanaan shalat mereka dikurangi, puasa ramadhan dihapuskan sama sekali, pembatasan-pembatasan dalam perkawinan ditiadakan, dan pembayaran zakat dijadikan suka rela.

c.      Nabi Palsu dan Riddat
Pada zaman kepemimpinan Abu Bakar terdapat sejumlah umat islam yang melakukan pelanggaran agama dengan mengaku sebagai nabi seperti Musailamah al-kadzadzab (Musailamah sang pembohong) dan beberapa suku yang murtad.sejumlah negeri yang penduduknya myrtad dijadikan sasaran oleh Abu Bakar dalam rangka mengembalikan mereka kepada islam: Ikrimah ibn Jahl diutus ke Aman, Almuhajir ibn Abi Umayah diutus ke Nujair, dan Ziad ibn Lubaid diutus kebeberapa daerah yang terdapat orang yang murtad. Disamping itu, Abu Bakar juga telah memperluas wilayah dengan menaklukan Irak dan Syam; dan bahkan sudah mulai bertempur melawan Byzantium(Romawi). 
Khalifah Abu Bakar telah meletakan peraturan berperang yang dijadikan pegangan bagi para perwira militer dan pejabat lainnya. Diantara peraturan tersebut adalah:
a. Orang Tua, wanita, dan anak-anak tidak boleh dibunuh
b. Biarawan tidak boleh dianianya dan tempat ibadah nereka tidak boleh dirusak
c. Mayat yang gugur tidak boleh dirusak
d. Pohon-pohon tidak boleh ditebang, hasil panen tidak boleh dibakar, dan tempat tinggal tidak boleh dirusak.
e. Perjanjian-perjanjian dengan agama lain harus dihormati
f. Orang-orang yang menyerah harus diberi hak yang sama dengan hak-hak penduduk islam.

d.      Pembagian Wilayah
Pada masa kepemimpinan Abu Bakar, perluasan wilayah telah dilakukan dan disetiap wilayah dibentuk semacam gubernur(penguasa daerah)yang memerintah pada wilayah tertentu yang disertai dengan pasukan perang.pada akhir tahun 12 H., Abu Bakar memilih empat panglima terbaik untuk memerintah didaerah:
a.  Anr ibn Al-ash dikirim dan memeerintah di Palestina
b.  Yazid ibn Abi Sufyan dikirim dan memerintah di Damaskus
c.  Abu Ubaidah ibn Al-jarah dikirim dan memerintah di Himsh
d.  Syurahbil ibn Hasnah dikirim dan memerintah di Ardan. 

Pada zaman khalifah Abu Bakar telah ada tiga gelar kepemimpinan yang didasarkan pada cakupan wilayah. Pemimpin polotik umat islam tertinggi disebut khalifah. Pemimpin wilayah disebut wali dan amir. Tidak terdapat penjelasan yang rinci mengenai perbedaan wilayah dipimpin oleh wali dan amir.

e.      Pengumpulan Mushhaf Al-quran
Perang Yamamah merupakan perang dalam mengatasi oramg-orang murtad yang menghawatirkan Umar. Ia khawatir karena dalam perang yamamah terdapat 12000 tentara islam yang gugur syahid dan 39 orang diantaranya adalah sahabat besar yang hafal al-quran. Kekhawatiran Umar mendorng dirinya untuk memberikan usul kepada khalifah Abu Bakaragar mengumpulkan Al-quan dengan alasan bahwa dengan wafatnya para penghafal Al-quran, berarti pelestarian Al-quan telah rusak dan penyelamatannya adalah dengan menilis dan mengu,pulkan mshhaf. 
Perdebatan terjadi antara Umar dengan Abu Bakar. Umar bertahan dengan argumennya, Abu Bakar pada awalnya menolak gagasan tersebut dengan alasan pengumpulan Al-quran tidak dilakukan oleh Nabi. Perbedaan antara Umar dan Abu Bakar diatasi oleh Zaid ibn Stabit dengan menyetujui gagasan Umar yakni mengumpulkan Al-quran.
Kelebihan pengumpulan Al-quran pada fase ini terletak pada dua peristiwa: pertama, pada waktu itu ditemukan ayat Al-quran yang hanya ada di tangan Khuzaimah ibnStabit al-Anshari yang tidak terdapat dalam tulisan ulama yang lain, yaitu QS. At-taubah (9): 128-129, kedua, ditemukannya QS. Al-ahzab (33): 23 yang juga hanya ada di tangan Khuzaimah. 
Lembaran-lembaran yang berisi tulisan Al-quran yang telah dikumpulkan, disimpan di sisi Abu Bakar hingga beliau wafat. Menurut Abu Abdullah al-janjani pengumpulan Al-quran pada zaman Abu Bakar dilakukan dengan cara mengumpulkan ayat-ayat Al-quran yang ditulis di tulang, pelepah kayu, dan bebatuan kemudain disalin oleh Zaid ibn Stabit di atas kulit hewan yang telah disamak.
D.      Wafatnya Abu Bakar
Abu Bakar jatuh sakit dalam musim panas tahun 534 M, dan selama 15 hari ia berbaring di tempat tidur. Khalifah ingin sekali memyelesaikan masalah penggantian dan mencalonan seoarang pengganti, kalau-kalau hal itu akan melibatkan rakyatnya ke dalam suatu perang saudara. Meskipun dari pengalamannya Abu Bakar benar-benar yakin bahwa tidak ada seorang pun kecuali Umar bin khattab yang dapat mengambil tanggung jawab kekhalifaan yang berat itu, karena masih ingin menggembleng pendapat umum, dia bermusyawarah dengan para sahabat yang terpandang. 
Thabari menulis bahwa Abu Bakar naik ke tas balkon rumahnya dan berbicara kepada banyak orang yang berkerumun di bawah dan berkata “Apakah kalian akan menerima orang yang saya calonkan sebagai pengganti saya?” kata khalifah” Saya bersumpah bahwa saya melakukan yang terbaik dalam hal ini, dan saya telah memilih Umar bin Khattab sebagai pengganti saya.”mereka semua berkata serempak “kami telah mendengar anda dan kami akan mentaati anda.” 
Kemudian ia memanggil Umar dan mendiktekan teks perintah yang menunjukan Umar sebagai penggantinya. Ia meninggal dunia pada hari Senin tanggal 23 Agustus 624 M. shalat jenazah dipimpin oleh Umar, dan ia dikuburkan di rumah Aisyah di samping makam Nabi. Ia berusia 63 tahun ktika meninggal dunia, dan kekhalifahannya berlangsung selama 2 tahun 3 bulan dan 11 hari.

Makalah Metode Pendidikan Tasawuf

Makalah Metode Pendidikan Tasawuf

Alhamdulillahirobbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT, Robb Semesta Alam. Sholawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Atas berkah, rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan Makalah Metode Pendidikan Tasawuf.

Dalam kesempatan ini, penyusun mengucapkan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan Makalah Metode Pendidikan Tasawuf ini, sehingga bisa kami suguhkan kepada kalayak umum.

Akhir kata, semoga Makalah Metode Pendidikan Tasawuf ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca umumnya, semoga Allah SWT membalas segala kebaikan bagi semua pihak yang telah penyusun sebutkan. Amin.


BAB I
PENDAHULUAN


A. Pengantar

Kecanggihan material sebagai hasil dari kemajuan ilmu dan teknologi modern dewasa ini telah mempermudah hidup dan kehidupan. Banyak kesenangan dan fasilitas hidup dan kehidupan dapat dinikmati dengan bertambahnya setiap penemuan baru dalam bidang ilmu dan teknologi. Kita semua dapat menyaksikan, melihat dan merasakan sendiri secara langsung kemajuan-kemajuan dan kemudahan tersebut umpama pada sarana pemenuhan kebutuhan sehari-hari, seperti alat transportasi dan komunikasi, tempat dan sarana hiburan dan lain sebagainya. Dengan demikian hidup terasa bertambah mudah, enak dan nyaman.

Tetapi kenyataannya bukanlah sebuah garis lurus. Kemudahan, kesenangan dan kenyamanan lahiriah yang diberikan oleh ilmu dan teknologi tidk selalu membahagiakan umat manusia, malah ada yang memandangnya sebagai pembawa banyak bencana daripada rahmat.

Perlu dicatat, menurut pengamatan Harun Nasution, direktur Program Pasca Sarjana IAIN Sayid Jakartam yang beliau sampaikan dalam diskusi yang diselenggarakan Yaysan Wakaf Paramadina di Jakarta, bahwa akhir-akhir ini kelihatan gejala-gejala di barat bosan dengan hidup kematerian dan mencari hidup kerohanian dengan agama Budha, ada kerohanian dalam agama Hindu dan kristen, tak sedikit pula yang mengikuti kerohanian ke agama Islam. Dalam menghadapi materialisme yang melanda dunia sekarang, kata beliau selanjutnya, perlu dihidupkan kembali spiritulisme. Disini tasawuf dengna ajaran kerohanian dan akhlak meulianya dapat memainkan peranan penting.

Tasawuf, kata Abu Al-Wafa’ Al-Taftazani, tidak berarti suatu tindak pelarian diri dari kenyataan hidup sebagaimana telah dituduhkan mereka yang anti, tetapi ia adalah usaha mempersenjatai diri (manusia) dengan nilai-nilai kerohanian baru yang akan menegakkannya saat menghadapi kehidupan materialisme dan juga untuk merealisasikan kesinambungan jiwanya, sehingga timbul kemampuannya ketika menghadapi berbagai keseulitan ataupun masalah hidupnya.

B. Tasawuf Dan Kehidupan Rohani

Di atas telah diuraikan tentang adanya tendensi masyarakat modern untuk mencari nilai-nilai ilahiyah rohaniyah yang sekian lama dikesampingkan sebagai akibat dari perkembangan ilmu dan teknologi.
Kehidupan dewasa ini telah berkembang menjadi demikian materialistis. Materi menjaditolok ukur segala hal, kesuksesan, kebahagiaan semuanya ditentukan oleh materi. Orang berlomba-lomba mendapatkan materi sebanyak-banyaknya, karena dengan semuanya manusia merasa dirinya sukses. 

Akibatnya, manusia sering bertindak tanpa kontrol demi materi. Semakin terlihat kecenderungan manusia menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Nilai-nilai kemanusiaan semakin surut, toleransi sosial dan solidaritas sesama serta ukhuwah Islamiah (di kalangan umat Islam) nampak hilang dan memudar, manusia cenderung semakin individualis. Di tengah suasana itu, manusia merasakan kerinduan akan nilai-nilai ke-Tuhanan, nilai-nilai Illahiah. Nilai-nilai berisi ke-Tuhanan inilah yang dapat menuntun manusia kembali kepada nilai-nilai kebaikan yang pada dasarnya fitrah (sifat dasar) manusia.

Adanya kecenderungan manusia untuk kembali mencari nilai Illahiah merupakan bukti bahwa manusia itu pada dasarnya makhluk rohani di samping sebagai makhluk jasmani. Sebagai makhluk jasmani, manusia membutuhkan hal-hal yang bersifat materi, namun sebagai makhluk rohani ia membutuhkan hal-hal yang bersifat immateri atau rohani. Sesuai dengan orientasi ajaran tasawuf adalah fitrah manusia.

Menurut ajaran kaum sufi, selama manusia belum bisa keluar dari kungkungan jasmani/materi selama itu pula dia tidak akan menemukan nilai-nilai rohani yang dia dambakan. Untuk itu dia harus berusaha melepaskan rohnya dari kungkungan jasmaninya. Untuk itu harus ditempuh dengan jalan riyadah (latihan) yang memakan waktu cukup lama.

Berdasarkan uraian di atas banyak menekankan pada ajaran tasawuf, yang dapat membimbing manusia kembali ke jalan benar. Sementara itu dalam bertasawuf ada tata cara dan aturannya. Memasuki duni atasawuf tidak semudah membalikkan terlapak tangan, karena tasawuf memiliki metode pendidikan tasawuf. Maka dari itu, dlam makalah ini penyusun ingin menyampaikan tentang metode pendidikan tasawuf tersebut. Maka penyusun mengambil judul “METODE PENDIDIKAN TASAWUF”.

BAB II
PENJABARAN TENTANG
METODE PENDIDIKAN TASAWUF


A. Hawa Nafsu dalam Pandangan Kaum Sufi

Sebelum memasuki metode pendidikan tasawuf, alangkah baiknya kalau kita memahami terlebih dahulu tentang apa yang dimaksud dengan hawa nafsu? Bagaimanakan hawa nafsu dalam pemandangan kaum sufi? Bagaimana hubungan hawa nafsu dengan metode pendidikan tasawuf?

Walaupun pada bab I Pendahuluan dalam pengantar dan juga tasawuf dan kehidupan rohani, penyusun sekilas telah menyinggung tentang hawa nafsu tetapi untuk pengertiannya belum dijelaskan, maka penyusun menjabarkanhawa nafsu pada bab II ini, sekaligus juga untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang hawa nafsu yang ada.

Demikian adanya tujuan Bab I Pendahuluan tentang pengantar serta tasawuf dan kehidupan rohani yang ingin penyusun sampaikan dengan maksud saat kita memasuki metode pendidikan tasawuf, sekilas kita sudah memahaminya karena pada hakekatnya hawa nafsu dan metode pendidikan tasawuf memiliki hubungan dan adanya saling keterkaitan, adanya metode pendidikan tasawuf itu dikarenakan adanya hawa nafsu.

Dalam pandangan kaum sufi, manusia cenderung mengikuti hawa nafsu. Manusia dikendalikan oleh dorongan-dorongan nafsu pribadi, bukan manusia yang mengendalikan hawa nafsunya. Ia cenderung ingin menguasai dunia atau berusaha agar berkuasa di dunia. Cara hidup seperti ini menurut Al-Ghazali, akan membawa manusia ke jurang kehancuran moral. Sebab sadar atau tidak sadar, lambat atau cepat, manusia akan terbawa kepada pemujaan dunia. Kenikmatan hidup di dunia akan menjadi tujuan utama, bukan sebagai jembatan atau sarana untuk menuju kebahagiaan dan kenikmatan yang hakiki.

Pandangan hidup seperti itu menjurus ke arah pertentangan manusia dengan sesanya, sehingga ia lupa akan wujud dirinya sebagai hamba Allah SWt yang harus berjalan di atas aturan-Nya. Karena sebagian besar waktu dihabiskan untuk persoalan-persoalan duniawi, ingatan dan perhatiannya pun jauh dari Tuhan. Itu semua, kara Al-Ghazali disebabkan oleh tidak terkontrolnya hawa nafsu.

Sebenarnya manusia tidak boleh mematikan sama sekali nafsunya, tetapi ia harus menguasainya agar hawa nafsu itu tidak sampai membawa kesesatan. Nafsu adalah salah satu potensi yang diciptakan Tuhan di dalam diri manusia agar ia dapat hidup lebih maju, penuh kreatifitas, dan bersemangat. Jika manusia tidak mempunyai nafsu, tidak akan ada kemajuan dalam kehidupan mereka. Tidak ada kompetensi di antara mereka untuk memenuhi tuntutan hidup yang selalu berkembang setiap saat.

Memang hawa nafsu manusia, sebagaimana diterangkan al-qur’an , mempunyai kecenderungan untuk baik dan buruk, “Nafsu akan menjadi baik jika ia dibersihkan dari pengaruh-pengaruh jahat dengan menanamkan ajaran-ajaran agama sejak dini sehingga tabiat nafsu yang jahat itu dapat dikendalikan nafsunya, dikatakan Allah, sebagai orang yang menuhankan hawa nafsu”, (QS. 45 : 23), dan menyimpang dari kebenaran (QS. 45 : 135)

B. Metode Pendidikan Tasawuf

Rehabilitas kondisi mental yang tidak baik, menurut orang sufi, tidak akan berhasil baik apabila terapinya hanya dari aspek lahiriah. Itulah sebabnya, pada tahap-tahap awal memasuki kehidupan tasawuf, seorang murid diharuskan melakukan amalan dan latihan kerohanian yang cukup berat. Tujuannya adalah untuk menguasai hawa nafsu dalam rangka pembersihan jiwa untuk dapat berada di hadirat Allah SWT. Tindakan manusia yang dikendalikan oleh hawa nafsu dalam mengejar kehidupan duniawi merupakan tabir penghalang antara manusia dengan Tuhan. Sebagai usaha menyingkap tabir yang mematasi manusia dengna Tuhan, ahli tasawuf membuat suatu sistem (metode pendidikan tasawuf) yang tersusun atas dasar didikan tiga tingkat yang dinamakan “takhalli”,”Tahalli”, dan “Tajalli”, yang masing-masing akan diuraikan sebagai berikut :

TAKHALLI
Takhalli, berarti memberihkan diri dari sifat-sifat tercela, dari maksud lahir dan bathin. Diantara sifat-sifat tercela dan maksiat lahir dan bathin. Diantara sifat-sifat tercela yang mengotori jiwa (hati) manusia ialah hasad (dengki), hiqd (rasa mendongkol), Su’u al-zann (buruk sangka), takkabur (sombong), ‘Ujub (membanggakan diri), riya’ (pamer), bukhl (kikir), dan gadab (pemarah). Dalam firman Allah SWT,”Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensucikan jiwanya, dan rugilah orang-orang yang mengotorinya (QS. 91 : 9 – 10).

Dalam hal menanamkan rasa benci kepada kehidupan duniawi serta mematikan hawa nafsu, kaum sufi berbeda pendapat kelompok sufi yang moderat berpendapat, aras kebencian terhadap kehidupan duniawi cukuplah sekedar jangan sampai lupa kepada tujuan hidup, tidak perlu meninggalkannya sama sekali. Demikian pula dengan penguburan hawa nafsu, cukup dengna sekedar dikuasai melalui pengaturan disipliin kehidupan. Golongan ini tetap memanfaatkan dunia sekedar kebutuhannya dengan mengatur dan mengontrol dorongan hawa nafsu yang dapat mengganggu stabilitas akal dan perasaan. Dengan pola hidup serasi dan seimbang, sufi kelompok ini merasa menemukan kebebasan menempatkan Allah SWT sebagai inti dari segala citanya. Kehidupannya terarah kepada pengabdian dan selalu berpegang pada garis kebijaksanaan yang relevan dengan tujuan hidupnya.

Kelompok sufi yang ekstrem berkeyakinan, kehidupan duniawi benar-benar sebagai racun pembunuh “Kelangsungan cita-cita sufi. Dunia adalah penghalang perjalanan. Karena itu, nafsu duniawi harus “dimatikan” dari diri manusiaagar ia bebas berjalan menuju tujuan, mencapai kenikmatan spiritual yang hakiki. Bagi mereka, memperoleh keridhoan Tuhan tidak sama dengna kenikmatan-kenikmatan material. Pengingkaran pada ego dengan meresepkan diri pada kemauan Tuhan adalah perbuatan utama. Dengan demikian, nilai moral benar-benar agamis karena setiap tindakan disejajarkan dengan ibarat yang lahir dari motivasi eskatologi.

Menurut orang sufi, kemaksiatan dibagi menjadi dua yaitu maksiat lahir dan batin. Maksiat lahir adalah sifat tercela yang diajarkan oleh anggota lahir seperti tangan, mulut dan mata. Maksiat batin adalah segala sifat tercela yang diperbuat oleh anggota batin, yaitu hati contoh maksiat lahir diantaranya mencuri, mencopet, membunuh, dan sebagainya.

Maksiat batin yang terdapat pada manusia tentulah lebih berbahaya lagi, karena ia tidak kelihatan seperti maksiat lahir, dan kadang-kadang kurang disadari. Selanjutnya, maksiat batin itu secara tidak langsung menciptakan manusia yang tidak bermoral, jahat dan ingkar kepada Tuhannya. Karena itu, kedua maksiat tersebut harus dibersihkan lebih dahulu, yaitu melepaskan diri dari sifat-sifat tercela agar dapat mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji untuk memperoleh kebahagiaan hakiki.

TAHALLI
Tahalli yakni mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji, dengan taat lahir dan batin. Dalam hal ini Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah SWT melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. 16 : 90)

Tahalli ini merupakan tahap pengisian jiwa yang telah dikosongkan pada tahap tahalli. Dengan kata lain, sesudah tahap pembersihan diri dari segala sifat dan sikap mental yang yang tidak baik dapat dilalui (takhalli), usaha itu harus berlanjut terus ke tahap berikutnya yaitu yang disebut dengan tahalli. Sebab apabila suatu kebiasaan telah dilepaskan tetapi tidak ada penggantinya, maka kekosongan itu dapat menimbulkan frustasi.

Apabila manusia dapat mengisi hatinya (setelah dibersihkan dari sifat-sifat tercela) dengan sifat-sifat terpuji, maka ia akan menjadi cerah dan terang, sehingga dapat lagi menerima cahaya Illahi. Jadi hati yang belum dibersihkan tidak akan mendapatkan atau tidak dapat menerima cahaya Illahi.

Manusia yang mampu mengosongkan hatinya dari sifat-sifat tercela (takhalli) dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji (Tahlli), maka segala perbuatannya dan tindakannya sehari-hari selalu berdasarkan niat yang ikhlas artinya tanpa mengaharapkan suatu balasan atau embel-embel lain seperti kata pribahasa : “Ada udang dibalik batu” seluruh hidup dan gerak kehidupannya diikhlaskan untuk mencari kerelaan Allah SWT semata. Karena itulah manusia yang seperti ini dapat mendekatkan dirinya kepada-Nya.

TAJALLI
Untuk pemantapan dan pendalaman materi yang telah dilalui pada fase tahalli, maka rangkaian pendidikan mental itu disempurnakan pada fase tajalli. Tajalli berarti terungkapnya nur gaib untuk hati. Dalam hal ini kaum sufi mendasarkan pendapatnya pada firman Allah SWT : “ Allah adalah nur (cahaya) langit dan bumi”. (QS. 24 : 35), selanjutnya mustafa zahri dalam bukunya kunci memahami tasawuf merumuskan arti tajalli sebagai berikut : “Tajalli ialah lenyapnya/hilangnya dari hijab dari sifat-sifat kebasyaiahan (kemanusiaan), jelasnya nur yang selama itu gaib, fanahnya lenyapnya segala yang lain ketika nampaknya wajah Allah SWT. Berdasarkan ayat tersebut di atas, kaum sufi yakin bahwa seseorang dapat memperoleh pancaran nur Illahi”.

Karena itulah setiap calon sufi mengadakan latihan-latihan jiwa (riyadah), berusaha membersihkan dirinya dari sifat-sifat yang tercela, mengosongkan hati dari sifat-sifat yang keji, melepaskan segala sangkut paut dengan dunia, lalu mengisi dirinya dengan sifat-sifat terpuji, segala tindakannya selalu dalam rangka ibadah, memperbanyak zikir, menghindarkan diri dari segala yang dapat mengurangi kesucian diri, baik lahir maupun batin. Seluruh jiwa (hati) hanya semata-mata untuk memperoleh tajalli, untuk menerima pancaran nur Illahi. Apabila Tuhan telah menembus hati hamba-Nya dengan Nur-Nya. Pada tingkat ini hati hamba Allah SWT itu bercahaya terang benderang, dadanya terbuka luas dan lapang, terangkatlah tabir rahasia alam malakut dengan karunia rahmat itu. Pada saat itu jelaslah segala hakikat ketuhanan yang selama ini terdinding oleh kekotoran jiwanya.

Apabila jiwa telah terisi dengan sifat-sifat terpuji dan mulia dan organ-organ tubuh sudah terbisa melakuan amalan-amalan Shaleh dan perbuatan-perbuatan luhur, maka untuk selanjutnya agar hasil yang diperoleh itu tidak berkurang, perlu penghayatan rasa keTuhanan. Untuk melestarikan dan memperdalam rasa keTuhanan, ada beberapa cara yang diajarkan kaum sufi, antara lain adalah :

a. Munajat
Secara sederhana kata ini mengandung arti melaporkan diri kehadirat Allh SWT atas segala aktivitas yang dilakukan. Munajat biasanya dilakukan dalam suasana keheningan malam sesuai shalat tahajud, agar ekspresinya tertuju bulat ke hadirat Illahi. Pemusatan jiwa dengan sebulat hati yang diiringi derai air mata, membuat suasana kontemplasi itu seakan ia sedang berhadapan langsung dengan Allah SWT.

b. Muraqabah dan Muhasabah
Menurut Imam Al-Qozali, perkataan muraqabah sama artinya dengan ihsan. Dan menurut Abu Zakaria Ansari, kata muraqabah jika dilihat dari segi bahasanya (etimologi) dapat diartikan dengan selalu memperhatikan yang diperhatikan, sedangkan menurut istilahnya (terminologi), dikatakan : “Senatiasa memandang dengan hati kepada Allah dan selalu memperhatikan apa yang diciptakan-Nya dan tentang hukum-hukum-Nya”. Jadi, sesuai dengan pengertian ini bahwa muraqabah itu merupakan suatu sikap mental yang senantiasa melihat dan memandang, baik dalam keadaan bangun/jaga atau tidur, baik dalam keadaan bergerak atau diam dalam waktu lapang atau susah.

Kemudian yang dimaksud dengan musagabah, imam Al- Gozali mengatakan : “Hakikat musagabah ialah selalu memikirkan dan memperhatikan apa yang telah diperbuat dan yang akan diperbuat, dan musagabah ini lahir dari iman dan kepercayaan terhadap hari hitungan (hari kiamat)”.

c. Memperbanyak Wirid dan Zikir
Memperbanyak wirid dan zikir merupakan suatu keharusan bagi seseorang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan ini merupakan ciri khas dari kehidupan kaum sufi.

Wirid (bentuk jamaknya : awarad) berarti bacaan-bacaan zikir, doa-doa atau amalan-amalan lain yang dibiasakan membacanya atau mengamalkannya. Biasanya wirid itu dilakukan setelah shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunah. Dalam prakteknya wirid dibagi menjadi dua bagian. Pertama wirid ‘amma/zikir jahri yaitu wirid dalam formula eksotrik atau dalam bentuk amal lahir menurut beberapa ukuran tertentu seperti membaca istigfar beberapa ratus kali dan beberapa kali dalam satu hari, dilakukan setelah shalat subuh dan magrib sebagaimana dikalangan kaum Alawiah. Kedua wirid khas atau zikir sirr, yaitu wirid yang dijalankan secara rahasia (tanpa suara) seperti menyebut nama Tuhan, Ya latif dengan hati dikalangan-kalangan kaum Sanusiah.

Kemudian yang dimaksud dengan zikir ialah ucapan yang dilakukan dengan lisan atau mengingat Allah dengan hati, dengan ucapan atau ingatan untuk mensucikan Tuhan dan membersihkan-Nya dari sifat-sifat yang menunjukan kebesaran dan keagungan-Nya.
1. Zikir lisan, atau disebut juga zikir nafi isbat atau ucapan lailaha illah’llah (tiada Tuhan selain Allah)
2. Zikir Gaib, disebut juga zikir, yaitu ucapan Allah, Allah
3. Zikir sirr disebut jugua zikir isyarat dan nafs artinya yaitu berbunyi Hu-Hu
Zikir memang penting bagi manusia sepanjang hidupnya karena manusia dalam hidup ini tidak terleps dari empat keadaan pertama, dalam keadaan taat apabila ia selalu ingat kepada Allah SWT pada saat itu, maka akan terlahirlah suatu keyakinan bahwa ketaatan yang diperbuatnya merupakan karunia Allah dan dengan taufik-Nya.

Kedua, dalam keadaan maksiat. Kalu ia dalam keadaan maksiat, maka dengan zikir kepada Allah akan membangkitkan kesadarannya untuk memperbaiki keadaan dirinya dengan bertaubat dan dengan bertaubat ia menjadi manusia yang mencintai Allah dan Allah pun mencintainya. Ketiga, dalam keadaan memperoleh nikmat, kalau ia dalam keadaan memperoleh nikmat maka dengan zikir kepada Allah akan menimbulkan kesadaran untuk mensyukuri nikmat tersebut maka nikmat yang didapatnya akan tetap dan bertambah. Dan keempat, dalam keadaan menderita, jika ia ingat kepada Allah/zikir kepada Allah timbullah keyakinan bahwa penderitaan pada hakikatnya cobaan baginya dan ia harus menghadapinya dengan sabar.

Disamping itu, zikir memiliki dampak terhadap sifat dan sikap dalam hidup dan kehidupan manusia yaitu :
  1. Memperlunak hati seseorang sehingga ia cenderung untuk bersedia menerima dan mengikutinya.
  2. Membangkitkan kesadaran bahwa Allah Maha pengatur dan apa yang ditetapkan-Nya adalah baik, hanya mungkin manusia yang tidak mampu menangkapnya.
  3. Meningkatkan mutu apa yang dikerjakan, karena Allah tidak menilai sesuatu perbuatan dari segi lahirnya saja, tetapi dia menilainya dari segi motif dan keikhlasannya.
  4. Memelihara diri dari godaan setan, karena setan hanya dapat menggoda dan menipu orang yang lalai kepada Allah SWT.
  5. Memeliharanya dari perbuatan kemaksiatan, karena selama ingat kepada Allah SWT ia tidak akan berbuata sesuatu yang dilarang-Nya.
Demikian keagungan dan manfaat zikir bagi manusia. Begiyu banyak ayat, sunnah dan pendapat ulama yang mendorong agar selalu zikir kepada Allh SWT kalangan kaum sufi menaykini bahwa orang yang selalu ingat bkepada Allah, maka Allah akan selalu ingat kepadanya, Allah selalu bersamanya, Allah senantiasa hadir dalam kalbunya.

d. Mengingat Mati
Pada dasarnya manusia diciptakan Tuhan dengan dibekali dua kecenderungan atau sifat, yakni sifat yang membawa kepada kebaikan dan sifat yang membawa kepada kejahatan. Kedua sifat ini tidak dapat dipisahkan dari diri manusia, karena itulah dinamakan sifat manusiawi. Allah SWT berfirman “ Dan (demi) jiwa serta penyempurnaan (ciptaanya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaanya”. (QS. 91:7-8)

Tetapi, tidaklah semua orang mempergunakan kemampuan yang diberikan Tuhan tersebut untuk membersihkan jiwanya, karena itu tidaklah jarang manusia selalu hidup dalam kekotoran jiwanya yakni bergelimang dalam dosa dan tingkah laku yang tercela serta lalai terhadap tugas dan kewajibannya terhadap Allah SWT dan sesamanya.

Oleh karena itu, ingat kepada kematian, kapan dan dimana pun adalah satu hal yang paling penting. Orang sufi berkeyakinan ingat akan akn mati dan hidup kembali diakhirat termasuk rangkaian aktivitas rohani yang perlu dibina. Orang yang selalu ingat mati akan selalu merasa takut. Dan rasa takut itulah yang mendorongnya untuk bertaubat. Karena persiapan untuk menghadapi kematian itu sudah barang tentu dalam bentuk amal sholeh dan doa.

e. Tafakur
Kata tafakur (bahasa arab) berasal dari kata kerja (fi’il) tafakur yang berarti berfikir, memikirkan, merenungkan atau meditasi. Dalam ajaran islam kita hanya disuruh memikirkan dan merenungkan makhlik Allah, alam semesta ini dengan segala fenomenanya, tetapi kita dilarang untuk memikirkan zat Allah. Rosullah SAW bersabda: “berfikirlah mengenai makhluk Allah dan janganlah berfikir tentang zat Allah, karena dapat menyebabkan engkau semua menjadi rusak”. Dalam hadis lain beliau bersabda: “Janganlah merenung tentang hakikat zat Tuhan, tetapi renungkanlah sifat-sifat Tuhan dan rahmatnya”.

Demikianlah fungsi tafakur dalam membentuk dan membina akhlak al-karimah dan dalam meningkatkan ma’rifah serta rasa ketuhanan dalam jiwa. Dengan sifat mulia dan mental yang kuat serta iman dan pendirian yang kukuh, manusia sanggup dan mampu menghadapi berbagai tantangan dan rintangan dalam hidupnya sehingga ia betul-betul menjadi hamba Allah yang sejati.



BAB III
KESIMPULAN


Tasawuf, sufisme, atau mistisme sering juga dikatakan sebagai kekayaan rohani islam yang masih terpendam. Kini dalam era globalisasi, ia benar-benar amat didambakan dalam upaya memadatkan kualitas iman dan takwa.

Sesuai dengan orientasi hidup sufi, mereka berkeyakinan bahwa kebahagiaan yang paripurna dan langgeng adalah bersifat spiritual. Kaum sufi sependapat bahwa kehidupan duniawi beserta kenikmatannya bukanlah tujuan, tetapi dunia hanya sekedar jembatan. Dalam rangka pendidikan mental, menurut kaum sufi, yang pertama dan utama adalah dengan cara menguasai atau mengendalikan penyebab utama yang dapat menjuruskan manusia ke dalam kehinaan, yaitu bahwa nafsu. Sebab tak terkontrolnya bahwa nafsu dalam mengejar kehidupan material adalah sumber utama dari kerusakan moral dan kehancuran umat manusia. Rasanya tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa ajaran tasawuf dalam arti sebenarnya mampu membimbing manusi menjadi hamba Allh SWT yang membawa kedamaian dan mengendalikannya agar tidak menjadi malapetaka bagi dirinya dan alam sekitarnya.

Maka rehabilitasi kondisi mental yang tidak baik, menurut orang sufi,tidak akan bersifat baik apabila terapinya hanya dari aspek lahiriah. Itulah sebabnya, pada tahap-tahap awal memasuki kehidupan tasawuf, seorang murid diharuskan melakukan amaln dan latihan kerohaian yang cukup berat. Oleh karena itu, ahli tasawuf membuat suatu sistem (Metode Pendidikan Tasawuf) yang tersusun atas dasar didikan tiga tingkat yaitu yang dinamakan Takhalli, Tahalli, dan Tajalli.

Setelah melalui tiga tingkatan tersebut, untuk melestarikan dan memperdalam rasa ketuhanan, ada beberapa cara yang diajarkan kaum sufi, diantaranya yaitu :

a. Munajat
b. Muraqabah dan munasabah
c. Memperbanyak wirid dan zikir
d. Mengingat mati, dan
e. Tafakur.

Jadi apa yang diajarkan oleh tasawuf tidak lain bagaimana menyembah Tuhan dalam suatu kesadaran penuh bahwa kita berda didekat-Nya sehingga kita “Melihat-Nya” atau bahwa ia senantiasa mengawasi kita dan kita senantiasa berdiri dihadapan-Nya. Dalam hubungan ini, tasawuf atau sufusme sebagaimana halnya dengan mistisme di luar agama islam, mempunyai tujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada dihadirat Tuhan. Intisari dari mistisme, termasuk didalamnya sufisme ialah keasadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dan Tuhan dengan mengasingkan diri dan berkontemplsi.



DAFTAR PUSTAKA


Aboe Bakar Atjeb, Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf, Ramadhani, Solo, 1984.
Ahmad, Zainal Abidin, Riwayat Hidup Iman Al-Gazali, Bulan Bintang, Jakarta 1
_________, Filsafat Mistis Ibn ‘Arabi, Gaya Media Pratama, Jakarta, 1989.
Hamka, Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1984.
Dr. Asmaran As M.A, Pengantar Studi Tasawuf Edisi Revisi, Raja Gravindo Persada. Jakarta. 1994.


Demikian Makalah Metode Pendidikan Tasawuf ini, semoga Makalah Metode Pendidikan Tasawuf ini bermanfaat unt uk semuanya. Terima kasih atas kunjungannya.

Makalah Agama Akhlakul Karimah

Makalah Agama Akhlakul Karimah
Makalah Agama Akhlakul Karimah ini Kami susun untuk melengkapi Koleksi Makalah Agama yang akan membahas tentang Akhlakul Karimah. Makalah Agama Akhlakul Karimah ini terdiri atas 3 Bab. Semoga Makalah Agama Akhlakul Karimah ini dapat bermanfaat untuk anda semua.

Semoga kehadiran Makalah Agama Akhlakul Karimah ini dapat dijadikan referensi dalam pembuatan makalah-makalah lain yang berhubungan dengan Agama dan Akhlakul Karimah.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan Makalah Agama Akhlakul Karimah ini, semoga usahanya dalam membantu kami mendapatkan pahala yang lebih baik di sisi Allah SWT.


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Akhlak merupakan suatu keadaan yang melekat dalam jiwa, maka suatu perbuatan baru dapat disebut akhlak kalau terpenuhi beberapa syarat, antara lain :
1. Perbuatan tersebut dilakukan secara kontinyu atau berkesinambungan.
Kalau perbuatan dilakukan hanya sekali saja maka tidak disebut sebagai akhlak. Contoh, pada orang yang jarang berinfaq, tiba-tiba memberikan uang kepada orang lain dengan alasan tertentu. Dengan tindakan tersebut tidak dapat disebut murah hati atau berakhlak dermawan, karena hal tersebut tidak melekat dalam jiwanya.
2. Perbuatan tersebut timbul secara tiba-tiba, bukan sebab difikirkan atau direncanakan dahulu. Jika perbuatan itu timbul karena terpaksa atau detelah difikirkan secara matang, maka tidak dapat disebut akhlak.


B. Tujuan

Diharapkan manusia bisa membiasakan perilaku terpuji, supaya dapat mengendalikan diri untuk tidak berbuat maksiat kepada Allah SWT, serta dapat mendorong manusia untuk menunaikan kewajiban beribadah kepada Allah SWT.



BAB II
TINJAUAN TEORI


A. Pengertian Akhlakul Karimah

Akhlak adalah suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia, yang dari padanya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan atau penelitian. Jika hal tersebut melahirkan perbuatan yang baik dan terpuji menurut pertimbangan Akal dan Syar’i, maka disebut akhlak yang baik. Sedangkan sebaliknya jika yang timbul adalah kemungkaran maka disebut akhlak yang buruk.
Jadi akhlakul karimah dapat diartikan sebagai akhlak yang baik yang daripadanya terdapat unsur dan sifat-sifat kebaikan.

Kata akhlak merupakan bentuk jamak dari kata Al-Khulq yang artinya :
1. Tabi’at atau budi pekerti
2. Kebiasaan atau adat
3. Keperwiraan.

Akhlak merupakan suatu keadaan yang melekat dalam jiwa, maka suatu perbuatan baru dapat disebut akhlak kalau terpenuhi beberapa syarat, antara lain:

1. Perbuatan tersebut dilakukan secara kontinyu atau berkesinambungan.
Kalau perbuatan hanya dilakukan sekali saja maka tidak dapat disebut dengan akhlak. Contoh, pada suatu saat orang yang jarang berinfak tiba-tiba memberikan uang kepada orang lain dengan alasan tertentu. Dengan tindakan tersebut tidak dapat disebut murah hati atau berakhlak dermawan, karena hal tersebut tidak melekat dalam jiwanya.
2. Perbuatan tersebut timbul secara tiba-tiba, bukan sebab dipikirkan atau direncanakan terlebih dahulu. Jika perbuatan itu timbul karena terpaksa atau setelah dipikirkan secara matang, maka tidak dapat disebut akhlak.
Akhlak Nabi Muhammad SAW dapat disebut dengan akhlak Islam. Karena akhlak tersebut bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Qur’an datangnya dari Allah SWT, maka akhlak Islam mempunyai ciri-ciri tertentu yang berbeda dengan perbuatan yang diatur manusia.
Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut :
1) Kebaikan bersifat mutlak, yaitu kebaikan yang terkandung dalam akhlak Islam adalah murni baik untuk individu maupun masyarakat.
2) Kebaikannya bersifat menyeluruh, yaitu kebaikan yang selalu berlaku secara universal.
3) Tetap, artinya kebaikannya tidak mengalami perubahan.
4) Kewajiban yang harus dipenuhi, yaitu kebaikan yang terkandung dalam akhlak Islam merupakan hukum yang harus dilaksanakan sehingga ada sangsi hukum tertentu bagi yang tidak melaksanakan.
5) Pengawasan yang menyeluruh, karena akhlak dari Allah maka pengaruhnya lebih kuat dari akhlak buatan manusia.


B. Tawadhu

Tawadhu berarti rendah hati. Kata tawadhu lawan kata takabur. Sikap tawadhu disukai dalam pergaulan sehingga menimbulkan rasa simpatik dan senang. Sikap takabur tidak disukai dalam pergaulan. Orang yang rendah hati tidak akan menurunkan martabatnya, justru mengangkat derajat orang tersebut. Orang yang sombong menginginkan agar dirinya tampak lebih tinggi dan dihormati orang lain. Namun justru sebaliknya, sikap sombong menghidangkan rasa simpati dan dijauhi dalam pergaulan.
Islam memberi tuntunan kepada umatnya untuk memiliki sikap tawadhu dan menjauhi sikap takabur. Seperti pada Al-Qur’an surat Luqman ayat : 18 - 19.


Artinya : "Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Seburuk-buruk suara adalah suara keledai".
Dari ayat di atas dapat diambil pelajaran :
1. Memalingkan muka saat berbicara dengan orang lain adalah suatu sikap tidak bersahabat dan menimbulkan rasa kecewa pada lawan bicara.
2. Mengeraskan suara adalah hal yang kurang terpuji. Allah menyatakan seburuk-buruk suara adalah suara keledai. Maksud pernyataan itu adalah orang yang suka berbicara dengan keras, padahal jika lirih saja sudah terdengar maka Allah mengibaratkannya seperti tingkah keledai.

C. Taat
Yang dimaksud taat adalah sifat atau laku yang mampu untuk menjalankan semua perintah terutama perintah yang didasarkan atas perintah Allah SWT serta Rasulullah SAW serta menjaga harga diri, nama baik, serta kredibilitas bagi pelakunya. Baik di hadapan Allah maupun sesama manusia. Orang memiliki sifat taat tidak akan dipandang nista di hadapan Allah dan juga dalam pergaulan di masyarakat.
Allah memerintahkan Kepada manusia untuk berusaha dengan sunguh-sunguh dan bekerja keras, dengan bekerja keras manusia sudah melaksanakan perintah Allah untuk taat dan tunduk kepada hukum-hukum Allah, dengan taat kepada Allah dan Rasulnya, manusia akan mampu mempertahankan hidup serta mengembangkan kehidupan dirinya dan lingkungannya.
Firman Allah Q.S. Jum'at : 10

Artinya : "Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah"
Firman Allah SWT Q.S. Ar Ra'du : 11:


Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
D. Qana'ah
Arti Qana'ah adalah rela menerima apa adanya. Rela menerima apa adanya dalam hal ini, adalah menerima atas hasil usaha. Jika seseorang sudah berusaha dengan sebaik-baiknya, namun hasilnya belum sesuai dengan apa yang diharapkan, maka dengan rela hati ia menerima hasil tersebut dengan
syukur dan lapang dada atau bersabar. Rela menerima apa adanya bukan berarti merasa cukup dengan apa yang ada sambil bermalas-malasan, tidak mau berusaha meningkatkan kesejahteraan hidup. Qana'ah merupakan sikap yang ditiru dari para sufi, Karena qana'ah dapat menjauhkan dan ajakan nafsu terhadap berbagai tipu daya kehidupan dunia yang membuatnya lupa kepada Allah. Akibat godaan nafsu, seseorang tidak merasa takut atas ancaman yang diterimanya, sehingga sikap dan perilakunya melampaui batas-batas norma ilahiah. Untuk menghindari hal itu, seorang muslim dituntut bersikap qana'ah dalam hidupnya. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwa.yatkan Jabir yang artinya "qana'ah adalah perbendaharaan yang tidak akan musnah". Adapun yang dimaksud dengan perbendaharaan adalah sesuatu yang mempunyai nilai yang amat berharga dan bermanfaat. Bagi seorang muslim, harta benda seperti inah yang harus dicari walaupun memerlukan pengorbanan dan perjuangan untuk memperolehnya.
Qana'ah diibaratkan dengan harta benda itu tidak akan hidang dan musnah jika dipelihara dengan iman yang kuat. Hal ini berbeda dengan perbendaharaan harta benda dunia yang mudah hidang atau musnah karena bersifat fana dan sementara. Harta benda dunia tidak membawa kebaikan dan bahkan membawa kemadharatan.
Seseorang yang memilki sifat qana'ah, maka ia akan merasa cukup dengan harta atau rizki yang ada pada dirinya. Pikirannya tidak berangan-angan pada hal-hal yang lain. Ia berpendirian, bahwa apa yang diperoleh atau apa yang ada pada dirinya semua sudah menurut kadar ketentuan Allah SWT.

Wahyu Allah SWT. Surat Huud : 6


Artinya : “Tiada sesuatu yang melata di bumi, melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya.
Sifat qana'ah merupakan dasar atau dandasan dalam menghadapi hidup, menumbuhkan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari, menimbulkan energi atau semangat kerja untuk meraih rizki. Jadi, manusia harus berikhtiar dibarengi dengan percaya akan takdir yang diperoleh sebagai hasilnya.
Selain itu, sifat qana'ah menjadikan orang tidak tamak. Seseorang bekerja bukan karena apa yang dimiliki itu belum cukup kemudian mengejar yang lainnya, tetapi orang bekerja karena dalam hidup ini manusia tidak boleh bermalasan-malasan serta menyadari bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah kepada Allah SWT. Qana'ah tidak bertentangan dengan penguasaan harta, selama harta itu tidak menghilangkan ketentraman hati, sebab qana'ah merupakan tangga ketentraman hati. Harta bahkan sangat diperlukan selagi masih diikat dengan niat yang suci yakni untuk mendukung segala keperluan hidup, berhubungan dengan sesama manusia dan beribadah kepada Allah SWT. Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah berkata, "Walaupun seseorang menyimpan semua harta benda yang ada di bumi ini, tetapi dengan niat hendak menghadap Allah SWT, maka tidaklah Allah SWT akan berpaling darinya".
Sikap qana'ah dapat diterapkan dalam kondisi lapang maupun kondisi sempit. Bersyukur ketika mendapat kelapangan dan kenikmatan yang banyak (bukan lupa daratan) dan bersabar ketika menerima kesempitan (bukan putus asa).
1. Qana'ah dalam Kehidupan
Sikap qana'ah telah diterapkan oleh para sahabat, bahkan sudah sangat melekat dalam perikehidupan sehari-hari mereka. Hal ini dikarenakan, mereka telah mendapat contoh nyata dari rasulullah SAW. Dalam kehidupan sehari-hari beliau senantiasa merasa cukup dengan apa yang ada. Sifat terpuji ini sudah melekat pada diri beliau sejak masa kanak-kanak.


Artinya : "Bahwa Nabi Muhammad SAW itu lebih sempurna Akhlak dan Dzatnya".


Artinya : "Sebaik-baik manusia adalah yang lebih baik akhlaknya".


Artinya : "Orang mukmin yang sempurna adalah orang mukmin yang baik akhlaknya".

Seorang yang beriman pada Allah akan menjadikan Rasul sebagai suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, sangat pantas bagi kaum mukminin untuk menerapkan sikap qana'ah ini dalam kehidupan sehari-harinya sebagaimana Rasulullah SAW. Penerapan sikap qana'ah membutuhkan pemahaman yang baik. Untuk lebih memahami tentang qana'ah perlu kiranya diketahui unsur-unsur yang terkandung di dalam sikap qana'ah, di antaranya :

a. Qana'ah mengandung unsur "Bekerja dengan Rajin dan Giat"
Qana'ah mengharuskan seseorang untuk bekerja dan berusaha dengan giat sebelum menerima segala pemberian Allah. Jika ada orang yang beranggapan bahwa qana'ah akan membuat malas bekerja, tidak berikhtiar, maka itu adalah anggapan yang keliru. Islam menghendaki agar manusia giat bekerja dan berusaha, baik untuk kepentingan hidup di dunia maupun kepentingan akhirat.
Sudah jelas bahwa hidup di dunia ini harus bekerja. Rizki tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus dicari. Namun demikian hasil tetap di tangan Allah SWT bukan manusia yang menentukan. Bekerja giat adalah kewajiban manusia dan Allah menilai proses memperoleh rizki bukan hasilnya, sedangkan penyikapan terhadap hasil adalah penilaian Allah tersendiri.
b. Qana'ah mengandung unsur "Berdo'a"
Semua manusia tentu ingin hidup senang baik di dunia maupun di akherat. Oleh karena itu manusia harus berusaha. Setelah berusaha hendaknya berdo'a, sebab giat berusaha belum jaminan segala keinginan akan terpenuhi. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Ia juga Maha Adil, lagi Maha Bijaksana. Sepantasnyalah jika manusia berharap hanya kepada Allah atas segala Rahmat dan Karunia-Nya karena segala ketentuan ada di tangan Allah. Jadi, manusia harus memohon kepada Allah, jika ingin rizki bertambah. Manusia harus yakin bahwa Allah telah mendengar do'a hambanya.
c. Qana'ah mengandung unsur "Menerima Apa Adanya dengan Lapang Dada"
Menerima apa yang ada dengan dada yang lapang merupakan unsur qana'ah yang sangat penting dalam mengarungi lautan kehidupan ini. Sikap ini menghilangkan keraguraguan dalam diri seseorang, karena orang sudah siap menerima apa pun yang akan diberikan oleh Allah SWT.
Jika ditimpa kesusahan, ia sudah siap menerima takdir Allah SWT itu dengan kesabaran, jika mendapat kesenangan ia sudah siap bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang dilimpahkan padanya. Bagi orang yang memiliki sifat ini kepuasan bukan karena harta yang banyak, akan tetapi dapat mensyukuri nikmat Allah.
d. Qana'ah mengandung unsur "Tidak Terperdaya oleh Dunia"
Gemerlap dunia ini penuh dengan tipu daya dan fatamorgana, berupa berbagai macam keindahan dan kesenangan. Jika manusia tidak berhati-hati, maka akan terjerumuslah dalam jurang kesengsaraan.
Firman Allah SWT :

Artinya : "Dan tidaklah kehidupan dunia itu melainkan hanyalah permainan dan kesenangan yang melalaikan". (Q. S. A1 Hadiid : 20)
Orang sering mengatakan bahwa kebaikan itu pahit sedangkan kejahatan itu manis. Maksud kata-kata ini adalah bahwa melakukan kebaikan itu sulit dan tidak menyenangkan, sedangkan berbuat kejahatan itu mudah dan menyenangkan. Hal ini termasuk tipu daya setan untuk mengelabuhi manusia dengan menghias duniawi untuk melenakan manusia sehingga berbuat kebaikan yang sebenarnya mudah terasa berat dan menyusahkan, sebaliknya berbuat jahat yang sebenarnya berat terasa ringan dan menyenangkan.
e. Qana'ah mengandung unsur "Bersabar"
Sabar adalah meninggalkan segala macam pekerjaan yang digerakkan oleh hawa nafsu, tetap pada pendirian agama yang mungkin bertentangan dengan kehendak hawa nafsu, semata-mata karena menghendaki kebahagiaan dunia dan akherat. Berbuat sabar bukan hal yang ringan, karena berhadapan dengan kehendak hawa nafsu yang melekat di dalam diri. Apalagi ketika harus berlaku sabar dalam keadaan yang serba sulit, godaannya sangat besar. Ketentuan Allah SWT, bagaimanapun keadaannya atau sesulit apapun derita yang yang dialami, harus dihadapi dengan penuh kesabaran, karena hanya dengan kesabaran segala kesulitan dan penderitaan akan terobati. Allah SWT memberi kemuliaan kepada orang yang sabar sebagaimana firman Allah SWT :


Artinya : Mereka itu orang-orang yang dikaruniai oleh Allah dengan martabat yang mulia dalam surga karena kesabaran dan mereka diberikan penghormatan dan ucapan selamat selama memasuki surga. (0. S. A1 Furqan : 75)
f. Qana'ah mengandung unsur "Berfawakal"
Tawakkal kepada Allah SWT adalah menyerahkan segala sesuatu (hasil) kepada Allah SWT setelah berusaha (berikhtiar) scmaksimal mungkin. Manusia hanya merencanakan dan berusaha (bekerja) sedangkan ketentuan ada di tangan Allah SWT. Jadi, Tawakkal bukan berarti menyerah atau pasrah begitu saja tanpa usaha. Menyerah atau pasrah begitu saja membuat orang malas dan putus asa.
Firman Allah SWT :


Artinya : "Dan kepunyaan Allah-lah segala rahasia danqit dan bumi, dan kepada-Nya lah dikembalikan segala sesuatu. Oleh karena itu sembahlah Dia dan benavrlakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak melrrpakan apa yang kamu kerjakan". (Q. S. Huud : 123)
Seseorang dikatakan sudah memiliki sikap qana'ah apahila dia rela menerima apa yang ada dengan lapang dada, sementara itu ia tetap giat bekerja sambil berdo'a kepaaa Allah SWT. Apabila ditimpa sesuatu yang menyulitkan atau terkena musibah, ia bersabar dan bertawakal dalam menerima ketentuan Allah SWT. Semua ia serahkan kepada-Nya. Ia juga memiliki pendirian yang teguh mengenai tujraan hidup ini, ia menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, kehidupan yang kekal adalah di akherat kelak. Oleh karena itu ia tidak terpengaruh oleh bujukan dan tipu daya dunia yang menyesatkan.
Pada kehidupan yang penuh persaingan dan materialistik ini, dimana manusia saling berlomba memburu kesenangan dan materi dunia, sifat qana'ah akan mampu menjadi benteng yang kokoh sehingga manusia tidak terjangkit penyakit-penyakit hati seperti sombong, kikir, iri, dengki dan sebagainya. Dengan sifat qana'ah ini pula, manusia dapat terhindar dari stres dan gangguan jiwa karena hatinya senantiasa tenang dan damai dalam segala kondisi.

E. Sabar
Arti sabar adalah menahan diri dalam menanggung suatu penderitaan atau cobaan, baik dalam menemukan sesuatu yang tidak diingini atau dalam bentuk kehilangan sesuatu yang disenangi. Imam AI Ghozali mengatakan "Sabar adalah suatu kondisi mental dalam mengendalikan nafsu yang tumbuhnya atas dorongan ajaran agama" karena sabar merupakan salah satu tingkatan yang harus dijalani oleh seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di dalam suatu tingkatan yang harus dilalui oleh manusia biasanya tingkatan sabar diletakkan sesudah zuhud. Karena orang yang dapat mengendalikan dirinya dalam menghadapi kelezatan duniawi berarti dia telah berusaha menahan diri dari kelezatan tersebut. Keberhasilan dalam tingkatan zuhud akan membawanya ke dalam tingkatan sabar. Dalam tingkatan sabar orang tidak lagi tergoncang oleh penderitaan dan hatinya sudah betul-betul teguh dalam menghadap Allah SWT.

1. Pengertian Sabar
Dalam bahasa Arab, sabar sering didefinisikan : Menahan diri sejalan dengan tuntutan akal dan agama.
Menurut Imam Ghozali, hakekat sabar ialah tahan menderita gangguan dan tahan menderita ketidaksenangan orang. Siapa yang mengeluh dari buruknya kelakuan orang lain hal yang demikian menunjukkan atas buruknya kelakuan sendiri, karena budi pekerti yang baik adalah sanggup menderita yang tidak disenangi. Beliau berkata, sabar itu kokohnya dorongan agama dalam menghadapi dorongan hawa nafsu.
Sabar artinya tahan terhadap setiap penderitaan atau sesuatu yang tidak disenangi dengan sikap ridha dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT Ada juga yang mengartikan sabar adalah keteguhan hati dalam menghadapi berbagai kesulitan dan bahaya.. Kata sabar memang kedengarannya sangat sederhana, akan tetapi pada prakteknya tidak semua orang mampu melakukannya, dan sudah tidak menjadi rahasia lagi di lingkungan kita banyak orang sering kehilangan kesabaran.
Dalam mengarungi samudra kehidupan, kita tidak akan terlepas dari ujian dan cobaan yang datang menjemput setiap waktu, baik cobaan yang menimpa terhadap kehidupan diri sendiri, kelompok ataupun bencana yang menimpa terhadap bangsa. Perjalanan hidup yang penuh liku itu kadang naik kadang turun, berbelok. penuh onak dan duri. Itu semua tidak mungkin kita atasi jika tidak didasari dengan kesabaran.
2. Macam-macam Sabar
Sabar mempunyai dua macam pengertian berbeda, yaitu Sabar yang berarti lapang dada dan tabah menghadapi segala kasus, problematika, musibah dan ujian yang menimpa diri sendiri. Mushabarah yang berarti tabah dan teguh menghadapi persaingan dalam memperjuangkan suatu cita-cita.
Dalam hal ini kita diuji apakah kita mampu menghadapi persaingan, teguh mempertahankan prinsip dan lebih tabah dan teguh dalam menjalaninya atau tidak.
Secara garis besar Sabar itu dikelompokan menjadi dua yaitu :
a. Jasmani, seperti menderita kesukaran dalam beramal dan beribadah.
b. Rohani, ialah sabar menahan hawa nafsu dan keinginan tabi'at manusiawi dan ajakan hawa nafsu. Misalnya :
1) Sabar menahan syahwat (nafsu) perut dan kemaluan namanya "iffah" (perwira)
2) Tahan menerima musibah dan penderitaan, nama istilahnya adalah "sabar" (tabah).
3) Sabar menahan diri dari hidup berlebih-lebihan, namanya “Zuhud" (sederhana).
4) Sabar menahan diri ketika mendapat kekayaan yaitu Dhabtum nafsi.
5) Sabar menerima bagian atau pemberian yang sedikit, dikenal denyan istilah "Qona'ah" (rela dengan yang telah ada).
6) Sabar dalam menghadapi peperangan yaitu : "syaja'ah" (berani).
7) Sabar dalam menahan amarah, disebut : "hilmi" (lapang dada).

Sabar pada Kenyataannya dapat Dikelompokan Menjadi tiga macam, yaitu :
1) Sabar atau menahan diri dari segala perbuatan jahat (maksiat)
Sabar merupakan dandasan yang kokoh untuk mewujudkan apa saja yang kita inginkan. Sabar di sini termasuk di dalamnya menghindarkan diri dari perbuatan maksiat yang dapat menjerumuskan. Karena kita sudah mengetahui bahwa perbuatan maksiat itu perbuatan yang termasuk pembangkangan yaitu suatu perbuatan jahat yang menurut hawa nafsu syaithaniyah juga suatu perbuatan yang bisa menjerumuskan diri sendiri maupun orang lain sehingga mengakibatkan orang lain yang dirugikan. Ketika iman kita tergoda karena nafsu syaithaniyah, orang tersebut senantiasa ingin melampiaskannya walapun sudah mengerti bahwa perbuatan yang dilakukan itu termasuk perbuatan yang dilarang Allah SWT. Keinginan atau dorongan nafsu itu apabila tidak terlampiaskan, seringkali membuat kita semakin tertekan. Apabila iman kita goyah karena nafsu yang tidak terbenduny maka akan berarti telah hilang pula rasa kesabaran kita dalam menghalang perbuatan jahat. Jadi, sabar dalam hal ini merupakan suatu pertahanan yang dapat mencegah berbagai dorongan nafsu yang setiap saat menggoda iman manusia.
Rasulullah SAW bersabda :


Artinya : "Surga itu dikelilingi dengan kebencian-kebencian hawa nafsu, sedangkan neraka itu dikelilingi oleh kesenangan-kesenangan hawa nafsu." (H. R. Muslim)
Hadits di atas menjelaskan betapa sulitnya meraih jalan ke surga. Karena dikelilingi oleh hawa nafsu yang setiap saat mengintai kita agar terjerumus ke lembah dosa.
Rasulullah SAW mengingatkan kita bahwa ke jalan surga penuh dengan hal-hal yang tidak disenangi hawa nafsu. Sedangkan jalan ke neraka justru dipenuhi dengan kesenangankesenangan hawa nafsu.
Menjauhkan diri dari godaan-godaan hawa nafsu tidaklah gampang kecuali bagi orang-orang yang sabar. Sabar disini adalah pengaruh dari keyakinan yang mendalam dan tujuan yang bulat mencari ridha Allah. Dengan demikian hanya shabarlah yang dapat membendung semuanya. Dan inilah hiasan yang menjadikan seorang muslim itu ke tingkat derajat yang mulia, yang menjuhkan seorang mukmin dari kehinaan dan tipu daya kejahatan. Untuk memperoleh derajat itulah kita harus berdoa sebagaimana yang diajarkan oleh Al-Qur’an yaitu :


Artinya : " Ya Allah Tuhan kami, Iimpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepadamu)," ( Q. S. Al Araf: 126)
2) Sabar dalam Melakukan Ibadah
Sabar dalam melaksanakan agama Allah, baik dalam menjalankan perintah-Nya, maupun menjauhi larangan-Nya. Sabar digini merupakan sikap menahan diri dari berbagai kesulitan dan rasa berat dalam menjalankan ibadah.
Dalam ibadah tidak hanya dituntut memenuhi syarat dan rukunnya secara lengkap, tapi harus dilakukan secara khusuk dan penyerahan diri secara total. Di dalam AI Quran banyak kita jumpai tentang perintah beribadah kepada Allah diantaranya yaitu surat Adz Dzariyaat ayat : 56 yang berbunyi :

Artinya : "Tidaklah sekali-kali kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah" (Q. S. Adz Dzariyaat : 56)
Dalam beribadah pasti banyak ditemukan berbagai rintangan dan halangan yang berupa godaan-godaan yang selalu menghantui pikiran sehirigga shalat kita tidak khusuk atau hendak memulainya terasa berat dan kadang ditunda-tunda. Padahal sudah kita ketahui bahwa diantara fungsi ibadah adalah meninggikan kualitas nilai kemanusiaan artinya dengan ibadah diharapkan manusia akan dapat mengembangkan fungsinya sebagai hamba dan khalifah Allah SWT.
Dengan berfungsinya manusia sebagai hamba dan khalifah Allah, maka manusia akan mencapai kebahagiaan hakiki dan ketinggian derajat dan martabat sebagai manusia.
Akan tetapi untuk mewujudkan fungsi manusia sebagai kalifah di muka bumi ini jelas tidak mudah, banyak halangan, rintangan dan cobaan yang senantiasa menghadang. Seperti perasaan malas, merasa tidak mendapatkan manfaat apa-apa setelah menjalankan ibadah, padahal pengamalan ibadah shalat itu jika dilaksanakan secara sesungguhnya kita disiplin dan berkesinambungan akan dapat meningkatkan kesucian jiwa, ketenangan batin dan bahkan menjaga kesehatan fisik dan mental. Hal ini telah diketemukan oleh para ahli di bidang ilmu kesehatan. Oleh karena itu pengamalan ibadah ini sangat memerlukan kesabaran.
Ada beberapa dalil-dalil yang berkaitan dengan perintah beribadat dengan sabar dan khusu' diantaranya adalah :
A1 Qur'an surat Thahaa ayat : 132

Artinya : "Dan perintahkan kepada keluargamu mendirikan shalat, dan bershabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan Akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa. (Q.S. Thahaa : 132)

Al Qur'an surat Al Baqarah ayat : 45


Artinya : "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusu". (Q. S. Al Baqarah : 45)

Demikian pula ibadah-ibadah yang bersifat umum seperti melakukan perbuatan-perbuatan baik dan bermanfaat bagi dirinya lebih-lebih bagi orang banyak. Semakin besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain, maka semakin tinggi pula nilainya.
Untuk dapat memberikan manfaat tentu harus memiliki ilmu dan ketrampilan, maka kita harus banyak belajar dengan tekun dan disiplin, untuk dapat tekun dan disiplin dalam bela)ar kita memerlukan kesabaran yang tinggi, tanpa memiliki rasa kesabaran kita tidak dapat menguasainya, sebab penguasaan ilmu dan keterampilan itu memerlukan waktu yang cukup lama.
3) Sabar Karena Menghindari Kemunduran
Sabar karena menghindari kemunduran maksudnya adalah menahan diri dari berbagai macam godaan yang menyebabkan kita tidak berani dalam melakukan sesuatu yang baik seperti ; membela keadilan, membela harga diri kita atau orang lain, berjuang demi masyarakat, bangsa dan sebagainya.
Hidup ini adalah perjuangan yang kadang tidak luput dari ujian dan cobaan yang diberikan Allah. Ujian itu bisa berupa ketakutan, musibah sakit, kelaparan dan kekurangan harta benda atau bahkan kematian. Sikap pantang mundur dalam menghadapi berbagai rintangan dan cobaan ini seperti yang digambarkan oleh para sahabat nabi ketika diperintahkan untuk hijrah ke Madinah dengan meninggalkan sanak saudara, harta kekayaan dan sejumlah posisi lain yang sudah mapan. Hijrah tersebut dilakukan tak lain karena mengharapkan ketentraman dalam beribadah dan memenuhi panggilan Allah semata.
Ayat-ayat Al-Qur’an yang memberikan petunjuk kepada kita agar senantiasa sabar dalam menghadapi beruagai macam ujian dan cobaan adalah sebagai berikut :
Al Qur'an surat A' Ahqaaf ayat : 35

Artinya : "Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dan rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. (Q,S. Al Ahqaaf ayat : 35)
Begitu tingginya nilai orang yang bersabar itu, sampai-sampai Syayidina Ali Bin Abu Thalib berkata : "Orang yang bersabar itu pasti mendapat kemenangan walaupun terlambat hasilnya".
Al Qur'an surat Muhammad ayat : 31

Artinya : "Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu, agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bershabar diantara kamu, dan kami menyatakan (baik buruknya) hal ikhwalmu.(Q.S. Muhammad :"31)
AI-Qur'an Surat Az Zumar : 10

Artinya : "Katakanlah (hai Muhammad, Allah berfirman) hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Tuhanmu. Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia (menaati) diberikan kebaikan (pahala di akhirat) dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya orang-orang yang sabar (menaati) akan diberi pahala tanpa hitungan. " (Q. S. Az Zumar : 10)
Ayat tersebut memerintahkan kepada nabi Muhammad SAW, agar menyeru umatnya untuk bertaqwa dan bersabar. Dengan kesabaran tersebut Allah akan melimpahkan anuyrahnya berupa segala kemudahan dan kesuksesan di dunia dan pahala di akhirat kelak.
Menurut Imam AI Ghazali, kondisi manusia dalam kehidupan ini ada dua macam, yaitu :
1. Kehidupan yang sesuai dengan kehendak hati.
2. Kehidupan atau perjalanan hidup yang tidak sesuai dengan kehendak hati.
Kedua kondisi di atas pasti akan dilalui oleh setiap manusia yang mana jika menemui salah satu kondisi tersebut harus disikapi dengan sabar, baik pada perjalanan hidup yang dikehendaki ataupun yang tidak dikehendaki.
4) Sabar Menahan Derita
Sabar menahan derita maksudnya adalah sabar dalam menerima cobaan dan musibah. Orang yang sabar, jika ditimpa musibah tidak akan mengeluh dan putus asa, tetapi mengembalikan semuanya kepada Allah. Ia tetap tabah menerima musibah itu karena yakin bahwa yang memberikan musibah itu adalah Allah SWT.
Firman, Allah :


Artinya : "Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan beritakanlah berita gembira ini kepada yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Inna lillahi wainna ilaihi raaji'uun. (Q. S. Al Baqaarah :155- 156)
5) Sabar Menahan Marah
Sabar menahan amarah artinya tidak mudah emosi, berarti mampu dan sanggup mengendalikan emosi. Sabar menahan marah harus dilatih. Orang yang mampu menahan amarah adalah termasuk ciri-ciri orang yang bertaqwa. Dan termasuk golongan orang yang kuat.

Contoh Prilaku Orang-orang yang Sabar
  • Contoh Konkret Sabar adalah Seorang Petani yang menunggu panen padi. Sebelum ia dapat memanen padinya, dengan tekun ia menjaga dan memelihara tanamannya. Sebelum padi menguning, ia senantiasa dengan teratur mengairi, memberi pupuk, dan menyiangi tanamannya. Dia juga selalu menghadapi gangguan-gangguan yang menimpa padinya seperti diserang hama, tikus, banjir atau angin ribut. Semua itu ia hadapi dengan tabah dan rela, walaupun pada akhirnya panennya mengalami kegagalan.
  • Contoh Mushabarah adalah misalnya anak-anak bersaing dalam memperoleh kemajuan belajar. Bila teman-temannya mendapatkan nilai B, sedang dia ingin memperoleh nilai A maka ia berusaha keras meningkatkan belajarnya. Jadi, mushabarah adalah upaya (kerja keras).
Hikmah Sabar :
1. Manusia akan memperoleh kesuksesan dalam meraih cita-cita.
2. Dapat mendorong manusia untuk menunaikan kewajiban beribadah kepada Allah SWT.
3. Dapat mengendalikan diri untuk tidak berbuat maksiat kepada Allah SWT.
4. Manusia akan selalu teguh menerima cobaan yang manimpanya

BAB III
PENUTUP


A. KESIMPULAN
Akhlak adalah suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia, yang dari padanya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan atau penelitian. Jika hal tersebut melahirkan perbuatan yang baik dan terpuji menurut pertimbangan akan dan syar’i maka disebut akhlak yang baik. Sedangkan sebaliknya jika yang timbul adalah kemungkaran maka disebut akhlak yang buruk.
Kata akhlak merupakan bentuk jamak dari kata Al-Khulq yang artinya :
1. Tabiat atau budi pekerti
2. Kebiasaan atau adat
3. Keperwiraan
Macam-macam akhlak yaitu :
a. Tawadhu (rendah hati)
b. Taat (sifat atau tingkah laku yang mampu untuk menjalankan semua perintah terutama perintah yang didasarkan ataa perintah Allah SWT serta Rasulullah SAW serta menjaga harga diri, nama baik, serta kredibilitas bagi pelakunya).
c. Qana’ah (rela menerima apa adanya atas hasil usahanya sendiri)
d. Sabar (menahan diri dalam menanggung suatu menderitaan atau cobaan, baik dalam menemukan sesuatu yang tidak diingini atau dalam bentuk kehilangan suatu yang tidak diingini atau dalam bentuk kehilangan sesuatu yang disenangi.

B. SARAN :
Dari uraian di atas maka alangkah mulianya kita sebagai umat islam untuk menerapkan akhlak-akhlak yang mulia dan meninggalkan perbuatan yang tercela yang bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.


DAFTAR PUSTAKA


Syamsuri 2006. Pendidikan Agama Islam. Jakarta : Erlangga.
Aziz, Saefudin dkk. 2007. Pendidikan Agama Islam. Jakarta : Sekawan.

Demikian Makalah Agama Akhlakul Karimah yang bisa Kami suguhkan. Semoga Makalah Agama Akhlakul Karimah ini bermanfaat untuk anda semua. Terima Kasih atas kunjungannya.

Makalah Peranan Syariah terhadap Kehidupan Manusia

BAB I
PENDAHULUAN


Kehidupan manusia di dunia merupakan anugerah dari Allah SWT. Dengan segala pemberian-Nya manusia dapat mengecap segala kenikmatan yang bisa dirasakan oleh dirinya. Tapi dengan anugerah tersebut kadangkala manusia lupa akan dzat Allah SWT yang telah memberikannya. Untuk hal tersebut manusia harus mendapatkan suatu bimbingan sehingga di dalam kehidupannya dapat berbuat sesuai dengan bimbingan Allah SWT.

Makalah Sholat 2

KATA PENGANTAR


Puji Syukur Kehadirat Allah SWT yang memberikan kenikmatan serta petunjuk bagi manusia. Serta iringan sholawat senantiasa tercurahkan kehadirat Nabi Muhammad SAW.
Berkat bimbingan guru mata pelajaran Bahasa indonesia dan guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, penulis dapat menyelesaikan Tugas Karya Tulis tema Sholat dengan topik “Tuntunan Sholat” guna memenuhi tugas karya tulis Bahasa dan Sastra Indonesia.

Makalah Sholat 2

KATA PENGANTAR


Puji Syukur Kehadirat Allah SWT yang memberikan kenikmatan serta petunjuk bagi manusia. Serta iringan sholawat senantiasa tercurahkan kehadirat Nabi Muhammad SAW.
Berkat bimbingan guru mata pelajaran Bahasa indonesia dan guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, penulis dapat menyelesaikan Tugas Karya Tulis tema Sholat dengan topik “Tuntunan Sholat” guna memenuhi tugas karya tulis Bahasa dan Sastra Indonesia.

Makalah Agama Sholat

KATA PENGANTAR


Puji Syukur Kehadirat Allah SWT yang memberikan kenikmatan serta petunjuk bagi manusia. Serta iringan sholawat senantiasa tercurahkan kehadirat Nabi Muhammad SAW.
Berkat semangat dan jerih payah serta ridho Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan Makalah dengna Judul Sholat

Makalah Agama Hadits

BAB I
PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna di dunia ini, dengan akal dan fikirannya manusia dapat membedakan antara yang hak dan yang bathil, antara kesalahan dan kebenaran dengan berpedoman kepada Al-Qur'an dan Asunnah (hadis).

Sunday, 4 April 2010

Makalah Manusia dan Agama

MANUSIA DAN AGAMA


A. Adab Bergaul
Topik ini terjadi atas :
1. Adab terhadap ibu
2. Adab dalam pergaulan
3. Adab Silaturahmi

Makalah Jihad

KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat dan hidayah-Nya, yang diberikan kepada penulis sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini yang berjudul “Jihad” makalah ini di susun untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh Dosen Mata Kuliah Hadist.
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda! Jangan Lupa Untuk Meninggalkan Komentar!.