Terima Kasih Atas Kunjungan Anda! Jangan Lupa Untuk Meninggalkan Komentar!.

Wednesday, 14 March 2012

PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH (PTS) UPAYA MENJELASKAN HUBUNGAN ANTARA STRUKTUR BUNGA TUMBUHAN DENGAN FUNGSINYA MELALUI METODA NUMBER HEAD TOGETHER DI KELAS V SDN JAYALAKSANA IV INDRAMAYU


UPAYA MENJELASKAN HUBUNGAN ANTARA STRUKTUR BUNGA TUMBUHAN
DENGAN FUNGSINYA MELALUI METODA NUMBER HEAD TOGETHER
DI KELAS V SDN JAYALAKSANA IV INDRAMAYU


PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH (PTS)



Oleh :
CASWITA, S.Pd.
NIP. 19650306 199405 1 001


DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
SEKOLAH DASAR NEGERI JAYALAKSANA KABUPATEN INDRAMAYU
TAHUN 2009


KATA PENGANTAR

Penulis memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Inayah-Nya kepada kita sekalian, sehigga penulis dapat menyelesaikan laporan penelitian ini dengan judul: "Upaya Menjelaskan Hubungan Antara Struktur Bunga Tumbuhan dengan Fungsinya Melalui Metoda Number Head Together di Kelas V SD Negeri Jayalaksana IV Indramayu Tahun Pelajaran 2007/2008". Penelitian ini di SDN Jayalaksana IV Indramayu. Laporan penelitian yang sangat sederhana ini, penulis susun sebagai salah satu pernyataan dan perlengkapan untuk mengikuti kenaikan pangkat atau golongan bagi Pegawai Negeri Sipil dalam jabatan guru dari IV. Selanjutnya penulis menyampaikan terimakasih yang tiada terhingga kepada semua, pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah mendukung, baik moril maupun materil kepada penulis, sehingga penyusunan laporan ini dapat terselesaikan sesuai dengan rencana.
Semoga amal baik semua pihak yang telah membantu penulisan Penelitian Tindakan Sekolah ini mendapat balasan pahala yang setimpal dari Allah SWT. Amin


Indramayu, 7 September 2009

Penyusun,


DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................................... i
Daftar Isi ..................................................................................................................... ii
Lembar Pengesahan .................................................................................................... iv
BAB I     PENDAHULUAN
A.        Latar Belakang Masalah ..................................................................... 1
B.         Perumusan Masalah ............................................................................ 2
C.         Tujuan Penelitian ................................................................................ 4
D.        Manfaat Penilitan ................................................................................ 4
E.         Kerangka Pemikiran ..................................................................... ...... 4
F.          Hipotesis ............................................................................................. 6
BAB II    TINJAUAN TEORITIS
A.        Pembelajaran Kooperatif dan Jenis-jenisnya ...................................... 7
B.         Penerapan Metode Number Head Together yang Efektif .................. 13
C.         Pembelajaran IPA dengan Menggunakan Metode Number
Head Together (kepala bernomor) ...................................................... 15
BAB III METODE PENELITIAN
A.        Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................. 19
B.         Langkah-langkah Pelaksanaan Penelitian ........................................... 20
1.      Sumber Data.................................................................................. 20
2.      Populasi dan Sampel...................................................................... 20
3.      Teknik Pengumpulan Data............................................................. 21
4.      Indokator Kinerja ......................................................................... 21
5.      Analisis Data ................................................................................. 21
6.      Prosedur Penelitian ....................................................................... 22
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBELAJARAN
A.        Siklus Pertama (Satu Kali Pertemuan) ................................................ 26
B.         Siklus Kedua (Dua Kali Pertemuan) ................................................... 30
C.         Siklus Ketiga (Tiga Kali Pertemuan)................................................... 34
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A.        Kesimpulan ......................................................................................... 38
B.         Saran ................................................................................................... 39

Daftar Pustaka

Lampiran



LEMBAR PENGESAHAN

1.      Judul                                               :   “Upaya Menjelaskan Hubungan antara Struktur Bunga Tumbuhan dengan Fungsinya Melalui Metoda Number Head Together Di Kelas V SDN Jayalaksana IV Indramayu”

2.      Ketua Peneliti
a.       Nama                                         :   CASWITA, S.Pd.
b.      Jenis Kelamin                            :   Laki-laki
c.       NIP.                                          :   19650306 199405 1 001
d.      Golongan Pangkat                    :   III d
e.       Jabatan Fungsional                    :   Kepala Sekolah
f.       Guru Kelas, Mata Pelajaran      :   -
g.      Sekolah                                     :   SDN Jayalaksana IV
h.      Lama Penelitian                        :   3 Bulan
i.        Biaya Yang diajukan                :   Rp. 7.500.000,00


Indramayu, 7 September 2009
Mengetahui
Kepala Sekolah,



CASWITA, S.Pd.
NIP. 19650306 199405 1 001

Peneliti,



CASWITA, S.Pd.
NIP. 19650306 199405 1 001


Mengesahkan :
Kepala UPTD Pendidikan




Drs. H. BURHAN
NIP. 19630520 198305 1 006


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Salah satu komponen pengajaran, tidak kalah pentingnya dari komponen lainnya dalam kegiatan belajar mengajar. Tidak ada satupun kegiatan belajar mengajar yang tidak menggunakan metode pengajaran. Ini berarti guru memahami benar kedudukan metode sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar.
Dalam penggunaan metode terkadang guru harus menyesuaikan dengan kondisi dan suasana kelas. Jumlah anak mempengaruhi penggunaan metode. Dalam perumusan tujuan, guru perlu merumuskannya dengan jelas dan dapat diukur. Dengan begitu mudahlah bagi guru menentukan metode yang dipilih guna menunjang pencapaian tujuan yang telah dirumuskan tersebut (Syaiful Bahri Djamarah, 1997 :  83).
Melalui nenerapan metode pembelajaran kooperatit tipe Number Head Together (NHT) pada Struktur Bunga dan Fungsinya ini, diharapkan siswa akan lebih mudah memahami struktur tersebut. Hal ini karena dalam metode pembelajaran ini harus komunikasi mengalir antar siswa dengan tidak terlepas dari bimbingan dan pengawasan guru. Peran guru dalam hal ini bukan lagi sebagai pemberi informasi belaka melainkan sebagai fasilitator dan motivator.
Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar di SD Negeri Jayalaksana IV Indramayu, selalu menggunakan metode-metode yang konvensional seperti ceramah, sehingga biasanya menghasilkan siswa yang pasif dan sangat tergantung pada guru sebagai satu-satunya sumber ilmu. Dengan demikian proses belajar mengajar mengalir satu arah saja dari guru ke murid, sehingga murid hanya Duduk, Diam, Dengar dan Catat. Untuk itu penulis ingin mencoba menerapkan pembelajaran yang lebih menyenangkan yaitu menggunakan metode Number Head Together (NHT) dengan harapan proses pembelajaran berjalan dengan aktif dan berjalan dua arah yakni dari guru ke murid dan sebaliknya.
Dari masalah di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul "Upaya menjelaskan hubungan antara struktur bunga tumbuhan dengan fungsinya melalui metoda Number Head Together Di Kelas V SD Negeri Jayalaksana IV Indramayu”.

B.     Perumusan Masalah
  1. Identifikasi Masalah
a.      Wilayah Penelitian
Dalam penelitian ini, wilayah penelitian yang digunakan adalah SBM (Strategi Belajar Mengajar) yaitu mengenai penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT).
b.      Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan empirik yaitu data diperoleh secara langsung pada objek penelitian.
c.       Jenis Masalah
Adanun jenis masalah dalam penelitian ini adalah adanya ketidakjelasan mengenai penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) terhadap prestasi belajar siswa pada pokok bahasan Struktur bunga dan fungsinya di kelas V SD Negeri Jayalaksana IV Indramayu .
  1. Pembatasan Masalah
a.      Masalah yang diamati adalah pengaruh penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) terhadap prestasi belajar siswa pada pokok bahasan Struktur bunga dan fungsinya di kelas V SD Negeri Jayalaksana IV Indramayu.
b.      Metode pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) yang dimaksud adalah suatu metode pembelaiaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling berkomunikasi secara aktif dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka.
c.       Prestasi belaiar yang dimaksud adalah prestasi belaiar siswa kelas V SD Negeri Jayalaksana IV Indramayu yang menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) dalam proses belajar mengajar IPA pada pokok bahasan Struktur bunga dan fungsinya.
d.      Respon siswa disini merupakan tanggapan siswa terhadap penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT).
  1. Pertanyaan Penelitian
a.      Bagaimana respon siswa Kelas V SD Negeri Jayalaksana IV Indramayu terhadap penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) pada pokok bahasan Struktur Bunga dan Fungsinya?
b.      Bagaimanakah prestasi belaiar siswa Kelas V SD Negeri Jayalaksana IV Indramayu yang menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) pada pokok bahasan Struktur Bunga dan Fungsinya?
C.     Tujuan Penelitian
    1. Untuk mengkaji seberapa besar respon siswa Kelas V SD Negeri Jayalaksana IV Indramayu terhadap penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) pada pokok bahasan Struktur Bunga dan Fungsinya dalam kegiatan belajar IPA.
    2. Untuk mengkaji prestasi belajar siswa yang menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) pada pokok bahasan Struktur Bunga dan Fungsinya di Kelas V SD Negeri Jayalaksana IV Indramayu.

D.    Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini yakni :
1.      Pencerahan terhadap dunia pendidikan khususnya dalam kegiatan belajar mengaiar.
2.      Mempermudah murid dalam memahami pelajaran.
3.      Membantu guru dalam menyampaikan materi kepada murid.
  1. Bahan informasi dan kajian ulang bagi siswa dan pembaca agar terdorong untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

E.      Kerangka Pemikiran
Kegiatan belajar mengajar adalah sebuah interaksi yang bernilai pendidikan. Di dalamnya terjadi interaksi edukatif antara guru dan anak didik, ketika guru menyampaikan bahan pelajaran kepada anak didik di kelas. Bahan pelajaran yang guru berikan itu akan kurang memberikan forongan (motivasi) kepada anak didik bila penyampaiannya menggunakan strategi yang kurang tepat. Di sinilah kehadiran metode menempatkan posisi penting dalam penyelesaian bahan pelajaran.
Bahan pelajaran yang disampaikan tanpa memperhatikan pemakaian metode justru akan mempersulit bagi guru dalam mencapai tujuan pengajaran. Pengalaman membuktikan bahwa kegagalan pengajaran salah satunya disebabkan oleh pemilihan metode yang kurang tepat. Kelas yang kurang bergairah dan kondisi anak didik yang kurang kreatif dikarenakan penentuan metode yang kurang sesuai dengan sifat bahan dan tidak sesuai dengan tujuan pengajaran. Karena itu, dapat difahami bahwa metode adalah suatu cara yang memiliki nilai strategi dalam kegiatan belajar mengajar. Nilai strateginya adalah metode dapat mempengaruhi jalannya kegiatan belajar-mengajar.
Ketika anak didik tidak mampu berkonsentrasi, ketika sebagian besar anak didik membuat kegaduhan, ketika anak didik menunjukan kelesuan, ketika minat anak didik semakin berkurang dan ketika sebagian besar anak didik tidak menguasai bahan yang telah guru sampaikan, ketika itulah guru mempertanyakan faktor penyebabnya dan berusaha mencari jawabannya secara tepat. Karena bila tidak, maka apa yang guru sampaikan akan sia-sia. Oleh sebab itu, guru sebaiknya memperhatikan dalam pemilihan dan penentuan metode sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di kelas.
Melalui penerapan metode pembelajaran kooperatif tip eNumber Head Together (NHT) pada konsep Struktur Bunga dan Fungsinya ini diharapkan siswa akan lebih mudah memahami konsep-konsep tersebut. Hal ini karena dalam metode pembelajaran ini harus komunikasi mengalir antar siswa dengan siswa tidak terlepas dari bimbingan dan pengawasan guru. Peran guru dalam hal ini bukan lagi sebagai pemberi informasi belaka melainkan sebagai fasilitator dan motivator.
Untuk lebih memperjelas, penulis tuangkan kerangka pemikiran tersebut ke dalam sebuah bagan sebagai berikut :

Bagan Kerangka Pemikiran


 










F.      Hipotesis
Menurut Suharsimi Arikunto (1998 : 67) hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Berdasarkan pendapat tersebut, maka penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut :
Dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas V SD Negeri Jayalaksana IV Indramayu.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A.    Pembelajaran Kooperatif dan Jenis-jenisnya
Metode Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif sebenarnya bukan suatu metode pembelajaran yang baru. Melainkan telah dikenal abad pertama setelah masehi ketika para pilusuf Yunan mengemukakan bahwa agar seseorang dapat belajar, maka ia harus pertner dalam belajar. Hal ini mengandung pengertian bahwa dalam melaksanakan kegiatan belajarnya, seseorang memerlukan teman atau mitra belajar.
Berbeda dengan metode kerja kelompok, dalam pembelajaran kooperatif buka hanya sekedar kerja kelompok saja yang diperkenalkan, tetapi juga pada penstrukturannya. Seperti yang diuangkapkan oleh Anita Lie (2005 : 18) pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai sistem kerja. Belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok, yaitu saling ketergantungan positif, tanggungjawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok. Dalam pembelajaran kooperatif ini, siswa-siswi dikelompokan dalam kelompok-kelompok kecil sehingga mereka akan lebih leluasa untuk berpendapat sehingga dalam kelompok kecil ini akanmenjamin semua siswa berkesempatan mengeluarkan pendapatnya. Dengan demikian, siswa diberi kesempatan untuk dapat terlebih secara aktif dalam proses berfikir pada kegiatan belajarnya.
Kelompok-kelompok dalam pembelajaran kooperatif ini terdiri dari siswa yang kemampuannya berbeda-beda sehingga mereka diberi kesempatan untuk saling membelajarkan (peer teaching) sehingga siswa yang berkemampuan akademik tinggi akan membantu teman-teman lainnya dalam menylesaikan tugas-tugas mereka. Jadi metode pembelajaran ini memberdayakan bantuan siswa lain untuk meningkatkan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran.
Pembelajaran kooperatif sebagai metode pembelajaran memiliki kelebihan. Pertama, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan konsep sendiri dan cara memecahkan masalah. Ke-dua, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menciptakan kreativitas dan melakukan komunikasi dengan teman sekelompoknya. Ke-tiga, membiasakan siswa untuk bersikap terbuka namun tegas. Ke-empat, meningkatkan motivasi belajar siswa karena interaksi berkembang antarsiswa. Ke-lima, membantu guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran karena langkah-langkah pembelajaran kooperatif mudah diterapkan di sekolah. Ke-enam, mendorong inovasi guru untuk menciptakan media pengajaran karena media begitu penting dalam pembelajaran kooperatif.
Selain memiliki kelebihan, metode pembelajaran ini juga memiliki kelemahan. Pertama, diperlukan waktu yang cukup lama untuk melakukan diskusi. Kedua, seperti belajar kelompok biasa, siswa yang pandai lebih banyak menguasai jalannya diskusi sehingga siswa yang kurang pandai kurang memiliki kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya. Ketiga, siswa yang terbiasa dengan kelompok merasa asing dan sulit untuk bekerja sama.
Kebersihan dalam belajar menurut pembelajaran kooperatif bukan hanya dapat diperoleh dari guru melainkan bisa juga dari kerja sama dengan pihak lain yang terlibat dalam pembelajaran itu, yaitu teman sebaya. Kerja sama tersebut terdapat dalam kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih dan keberhasilan kerjanya dipengaruhi oleh keterlibatan setiap individu dalam kelompok itu sendiri. Jadi, belajar menurut belajar kooperatif bukan semata-mata ditentukan oleh kemampuan individu secara utuh melainkan juga diperoleh dari kerja sama di dalam kelompok-kelompok belajar kecil yang struktur dengan baik.
Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal, maka usaha yang harus dilakukan adalah dengan mengefektifkan pmbelajaran. Agar pembelajaran dapat lebih efektif sebaiknya dalam pembelajaran ditanamkan unsurunsur dasar belajar kooperatif. Pertama, siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama”. Selain itu, siswa harus berbagi tugas dan berbagi tanggung jawab diantara anggota kelompoknya serta berbagi kepemimpinan. Sementara mereka memperleh keterampilan bekerja sama selama belajar. Akhirnya siswa akan mempertanggungjawabkan secara individual terhadap materi yang dipelajari dalam kelompok kooperatif.
Ironisnya, metode pembelajaran cooperatif learning ini belum banyak diterapkan dalam pendidikan walaupun orang Indonesia sangat membanggakan sifat gotong royong dalam kehifupan masyarakat. Kebanyakan pengajar enggan menerapkan sistem kerja sama di dalam kelas karena beberapa alasan. Alasan yang utama adalah kekhawatiran bahwa akan terjadi kekacauan di kelas dan siswa tidak belajar jika mereka ditempatkan dalam group. Selain itu, banyak orang mempunyai kesan negatif mengenai kegiatan kerja sama atau belajar dalam kelompok. Banyak siswa juga tidak senang disuruh bekerja sama dengan yang lain. Siswa yang tekun merasa harus bekerja melebihi siswa yang lain dalam group mereka. sedangkan siswa yang kurang mampu, minder ditempatkan dalam satu group dengan siswa yang lebih pandai. Siswa yang tekun juga merasa temannya yang kurang mampu hanya menumpang saja pada hasil jerih payah mereka.

Beberapa Metode Pembelafaran Kooperatif
1.      Mencari Pasangan
Teknik belajar mengajar Mencari Pasangan (Make a Match) dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
Adapun caranya yaitu :
Guru menyiapkan kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang mungkin cocok untuk sesi review (persiapan menjelang tes atau ujian).
Setiap siswa mendapat satu buah kertas. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya. Siswa bisa juga bergabung dengan dua atau tiga, siswa lain yang memegang kartu yang cocok.
2.      Bertukar Pasangan
Teknik belajar mengajar Bertukar Pasangan memberi kesempatan kepada siswa untuk bekeija sama dengan orang lain. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik. Langkah-langkahnya sebagai berikut :
Guru memberikan tunas dan siswa mengerjakan tunas dengan pasangannya. Setelah selesai, setiap-pasangan bergabung dengan satu pasangan yang lain. Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan. Masing-masing pasangan yang baru ini kemudian saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban mereka. Temuan baru yang didapatkan dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula.
3.      Think – Pair – Share
Teknik belajar ini dikembangkan oleh Frank Lyman. Teknik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Langkah-langkahnya sebagai berikut :
Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok. Setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri. Siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya. Kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa mempunvai kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat.
4.      Number Head Together (kepada bernomor)
Teknik belajar ini dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992). Teknik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling benar dan tepat. Selain itu, teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik. Langkah-lanakahnya sebagai berikut :
Siswa dibagi dalam kelompok. Setiap siswa dalam kelompok mendapat nomor. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memasukan setiap kelompok mengetahui jawaban ini, guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja.
5.      Jigsaw
Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson et al. sebagai metode Cooperatif Learning, teknik ini bisa digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan ataupun berbicara. Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Pendekatan ini bisa pula digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperti Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Matematika, Agama dan Bahasa. Teknik ini cocok untuk semua kelas/tingkatan. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut : 
Pengajar membagi bahan pelajaran yang akan diberikan menjadi empat bagian. Sebelum bahan pelajaran diberikan, pengajar memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas dalam bahan pelajaran untuk untuk hari itu. Pengajaran bisa menuntaskan topik di papan tulis dan menanyakan apa yang siswa ketahui mengenai topik tersebut. Kegiatan brainstorming ini dimaksudkan untuk mengaktifkan skemata siswa agar lebih siap menghadapi bahan pelajaran baru. Siswa dibagi dalam kelompok berempat.
Bagian pertama bahan diberikan kepada siswa yang pertama, sedangkan siswa yang kedua menerima bagian yang kedua. Demikian seterusnya. Kemudian, siswa disuruh membaca/mengerjakan bagian mereka masing-masing. Setelah selesai, siswa saling berbagi mengenai bahan yang dibaca/dikerjakan masing-masing. Dalam kegiatan ini, siswa bisa saling melengkapi dan berinteraksi antara satu dengan yang lainnya. Khusus untuk kegiatan membaca, kemudian pngajar membagikan bahan centa yang belum terbaca kepada masing-masing siswa. Siswa membaca bagian tersebut. Kegiatan ini bisa di akhiri dengan diskusi mengenai topik dalam bahan pelajaran hari itu. Diskusi bisa dilakukan antara pasangan atau dengan seluruh kelas.

B.     Penerapan Metode Number Head Together (NHT) yang Efektif
Metode pembelajaran Number Head Together (NHT) merupakan salah satu dari sekian banyak teknik dalam metode pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling berkomunikasi secara aktif dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka. Seperti yang di kemukakan Anita Lie (2003 : 40) metode pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selanjutnya Anita Lie juga mengungkapkan bahwa metode pembelajaran ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan semua tingkatan anak didik. Dalam metode pembelajaran ini, siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, kemudian setiap anggota kelompok masing-masing tersebut. Setiap kelompok kemudian diberi pertanyaan-pertanyaan berbentuk Lembar Diskusi Siswa (LDS) untuk dijawab dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, mereka diskusi untuk memutuskan jawaban yang paling tepat dan harus memastikan bahwa setiap anggota kelompok mengetahui jawabannya. Karena selanjutnya pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dibahas secara keseluruhan dalam diskusi kelas secara random dengan dipimpin oleh guru. Artinya, guru akan memanggil secara random kelompok serta nomor siswa yang harus melaporkan hasil kerjasama mereka. Jika siswa menjawab dengan benar, kelompoknya mendapat satu point. Hingga akhimya akan dapat diputuskan kelompok terbaik pada saat itu di akhir proses pembelajaran, yaitu yang mengumpulkan point yang paling banyak.
Pengelompokan dalam metode pembelajaran ini berupa pengelompokan heterogen yang mempunyai ciri yang menonjol dalam metode pembelajaran kooperatif (Anita Lie, 2005 : 41). Pengelompokan heterogen ini pula yang membedakan pembelajaran kooperatif dan belajar kelompok secara tradisional yang biasanya berupa pengelompokan homogen.
Lie juga mengungkapkan bahwa heterogenitas kelompok ini bisa dibentuk dengan memperhatikan keanekaragaman gender, latar belakang sosial ekonomi dan etnik serta kemampuan akademis. Dalam hal kemampuan akademik, kelompok pembelajaran kooperatif biasanya terdiri dari siswa berkemampuan akademis tinggi, sedang dan kemampuan akademis kurang.
Pengelompokan tersebut bertujuan supaya siswa berkemampuan akademis tinggi akan membantu teman-teman sekelompoknya yang lain yang berkemampuan akademis lebih rendah, walau bagi siswa yang berkemampuan akademis sedang hal ini tidak terlalu diperlukan. Seperti yang diungkapkan Lie (2005 : 43) kelompok heterogen ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling mengajar (peer tutoring) dan saling mendukung sehingga memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang yang berkemampuan akademis tinggi, guru mendapatkan satu asisten untuk anggota lain dalam satu Kelompoknya.
Pengelompokan bisa sering diubah (untuk setiap kegiatan) atau dibuat agak permanen, misalnya siswa tetap dalam kelompok yang sama selama satu caturwulan atau semester. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Jika kelompok sering diubah, siswa akan mempunyai lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan siswa-siswa yang lainnya. Namun, membentuk kelompok-kelompok baru ini akan memakan waktu, baik itu waktu persiapan maupun waktu di kelas.
Dalam metode pembelajaran kooperatif, penataan ruang kelas perlu memperhatikan prinsip-prinsip tertentu. Bangku perlu ditata sedemikian rupa sehingga semua siswa dapat melihat guru atau papan tulis dengan jelas serta melihat rekan-rekan kelompoknya dengan baik dan berada dalam jangkauan kelompoknya dengan merata. Kelompok­-kelompok yang dibentuk ini dapat berada dalam posisi dekat satu sama lain tetapi tidak mengganggu antara satu kelompok dengan kelompok yang lainnya.

C.     Pembelajaran IPA dengan Menagunakan Metode Number Head Together (kepala bernomor)
Metode mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki anak didik, akan ditentukan oleh kerelevansian penggunaan suatu metode yang sesuai dengan tujuan. Itu berarti tujuan pembelajaran akan dapat tercapai dengan penggunaan metode yang tepat. sesuai dengan standar keberhasilan yang terpatri di dalam suatu tujuan. Metode yang dapat dipergunakan dalam kegiatan belajar mengajar bermacam-macam. Penggunaannya tergantung dari rumusan tujuan. Dalam mengajar jarang ditemukan guru menggunakan satu metode, tetapi kombinasi dari dua atau beberapa metode. Penggunaan metode dimaksudkan untuk menggairahkan belajar anak didik. Dengan bergairahnya belajar anak didik tidak sukar untuk mencapai tujuan pengajaran. Karena bukan aura yang memaksakan anak didik untuk mencapai tujuan, tetapi anak didiklah dengan sadar untuk mencapai tujuan (Syaiful Bahri Djamarah, 1995 : 3 -4).
Dalam kegiatan belajar mengajar terdapat dua hal ikut menentukan keberhasilan, yakni pengaturan proses belajar mengajar, dan pengajaran itu sendiri dan keduanya mempunyai saling ketergantungan satu sama lain. Kemampuan mengatur proses belajar mengajar yang baik, akan menciptakan situasi yang memungkinkan anak belajar, sehingga merupakan titik awal keberhasilan pengajaran. Siswa dapat belajar dalam suasana wajar, tanpa tekanan dan dalam kondisi yang merangsang untuk belajar. Dalam kegiatan belajar mengajar siswa memerlukan seseatu yang memungkinkan berkomunikasi secara baik dengan guru, teman maupun dengan lingkungannya. Kebutuhan akan bimbingan, bantuan, dan perhatian guru yang berbeda untuk setiap individu siswa (Syaiful Bahri Diamarah. 1995 : 37-38).

D.    Sebelum menggunakan metode Number Head Together (kepala bernomor)
Yang diterapkan di kelas, diberikan tes awal (pretes) terlebih dahulu. Fungsi dari tes ini adalah :
1.      Untuk mempersiapkan peserta didik dalam proses belajar, karena dengan pretes makan pikiran mereka akan terfokus pada soal-soal yang akan mereka kerjakan.
2.      Untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan dengan proses pembelajaran yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan membandinakan basil pretes dan postes.
3.      Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta didik mengenai ajaran yang akan dijadikan topik dalam proses pembelajaran. (E. Mulyasa, 2004 : 127)
Lanakah-lanakah penerapan metode Number Head Together (kepala bernomor) yaitu sebagai berikut :
Siswa dibagi dalam kelompok. Setiap siswa dalam kelompok mendapat nomor. Guru memberikan tugas dan masing-masng kelompok mengerjakannya. Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap kelompok mengetahui jawaban ini. Guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerj a. (Anita Lie. 2005 : 60)
Dalam penerapan metode Number Head Together (kepala bernomor) memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling benar dan tepat. Selain itu, teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka.
Untuk mengetahui apakah ada peningkatan terhadap prestasi belajar sesudah mendapat pengajaran, maka diberikan tes akhir (postes). Fungsi dari tes ini adalah :
1.      Untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditentukan baik secara individu atau kelompok.
2.      Untuk mengetahui kompetensi dan tujuan-tujuan yang dapat dikuasai oleh peserta didik, serta kompetensi dan tujuan-tujuan yang belum dikuasai oleh peserta didik.
3.      Untuk mengetahui peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belaiar.
4.      Sebagai bahan acuan untuk melakukan perbaikan terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, baik terhadap perencanaan, pelaksanaan maupun. evaluasi.


BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Tempat dan Waktu Penelitian
  1. Tempat Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis melakukan penlitian di SD Negeri Jayalaksana IV Indramayu.
  1. Waktu Pelaksanaan
Penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan tahapan-tahapan yang harus dilalui, yaitu dari mulai mengajukan proposal hingga penyusunan laporan. Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan, yaitu dari bulan Mei 2008 sampai dengan bulan Agustus 2008.
No
Uraian
Mei
Juni
Juli
Agustus
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
Penyusunan proposal
Ö
Ö
Ö

















2
Pengajaran seminar



Ö
















3
Pengurusan SK



Ö
















4
Pelaksanaan




Ö















5
Penyusunan laporan











Ö
Ö
Ö
Ö





6

















Ö
Ö
Ö
Ö


Tabel
Keadaan Siswa SD Negeri Jayalaksana IV Indramayu

No
Kelas
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
1
I
14
10
24
2
II
15
13
28
3
III
12
13
25
4
IV
13
13
26
No
Kelas
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
5
V
19
18
37
6
VI
20
15
35
Jumlah
93
82
175
 Sumber : Tata Usaha SD Negeri Jayalaksana IV Indramayu

B.     Langkah-Langkah Pelaksanaan Penelitian
  1. Sumber Data
a.      Teoritik
Yaitu sumber data yang diambil daribuku-buku yang relevan dengan pembahasan dalam skripsi.
b.      Empirik
Yaitu sumber data yang diperoleh secara langsung dari objek penelitian, dalam hal ini yaitu di SD Negeri Jayalaksana IV Indramayu
  1. Populasi dan Sampel
a.      Populasi
Menurut Suharsimi Arikunto (1998 : 155), populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.
Dalam penelitian ini yang dijadijan populasi adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri Jayalaksana IV Indramayu.
b.      Sampel
Menurut Suharsimi Arikunto (1998 : 117), sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dalam pengambilan sampel, penulis melakukan pengundian secara acak dari keseluruhan jumlah kelas yang berjumlah 6 kelas. Adapun hasil pengundiannya penulis mendapatkan kelas V yang bejumlah 65 siswa (semua siswa kelas V).
  1. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :
a.      Observasi
Observasi merupakan metode pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan langsung ke lapangan. Dalam hal ini penulis terjun langsung ke SD Negeri Jayalaksana IV Indramayu .
b.      Wawancara
Wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data melalui percakapan, tanya jawab dan diarahkan pada masalah tertentu. Dalam hal ini, penulis melakukan wawancara dengan semua pihak yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi.
c.       Tes Tertulis
Teknik ini digunakan untuk mengukur kemampuan dan pencapaian prestasi belajar objek yang diteliti.
  1. Indikator Kinerja
Dalam PTK ini yang akan dilihat indicator kinerjanya selain siswa adalah Guru, karena guru merupakan pasilitator yang sangat berpengaruh terhadap kineja siswa.
1)      Siswa
    1. Tes rata-rata nilai ulangan harian.
    2. Observasi : keaktipan siswa dalam proses belajar mengajar IPA.
2)      Guru
a.      Dokumentasai : kehadiran siswa.
b.      Observasi : hasil observasi.
  1. Analisis Data
Data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan observasi pada pelaksanaan siklus penelitian dianalisis secara deskriptif dengan mengguanakan teknik persentase untuk melihat kecenderungan yang akan terjadi dalam kegiatan pembelajaran.
a.      Hasil belajar : dengan menganalisis nilai rata-rata ulangan harian. Kemudian dikatagorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang dan rendah.
b.      Aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar IPA : dengan menganalisis tingkat keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar IPA. Kemudian dikatagorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah.
c.       Implementasi pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (Nomor di kepala ) dengan menganalisis tingkat keberhasilan tipe Number Head Together (Nomor di kepala ) Kemudian dikatagorikan dalam klasifikasi berhasil, kurang berhasil, dan tidak berhasil.
  1. Prosedur Penelitian
Siklus I
Siklus pertama dalam Penelitian Tindakan ini terdiri dari Perencanaan (Planning), Pelaksanaan (Acting), Pengamatan (Observation), Refleksi (Reflektion).
1.      Perencanaan (Planning)
    1. Tempat peneliti melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui kompetensi dasar yang akan disampaikan kepada siswa dengan menggunakan pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together.
    2. Membuat rencana pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together.
    3. Membuat lembar kerja siswa.
    4. Membuat instrument yang digunakan dalam siklus Penelitian.
    5. Menyusun alat evaluasi pembelajaran.
2.      Pelaksanaan (Acting)
    1. Membagi siswa dalam 13 kelompok.
    2. Menyajikan materi pelajaran.
    3. Diberikan materi diskusi.
    4. Dalam diskusi kelompok, guru mengarahkan kelompok.
    5. Salah satu dari kelompok diskusi, mempersentasikan hasil kerja kelompoknya.
    6. Guru memberikan kuis pertanyaan.
    7. Siswa diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan.
    8. Penguatan dan kesimpulan secara bersama-sama.
    9. Melakukan pengamatan atau observasi.
3.      Pengamatan (Observation)
    1. Situasi kegiatan belajar mengajar.
    2. Keaktifan siswa.
    3. Keaktifan siswa dalam diskusi kelompok.
4.      Refleksi (Reflektion)
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini berhasil apabila memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :
    1. Sebagian besar dari siswa berani dan mampu menjawab pertanyaan dari guru.
    2. Sebagian besar dari siswa berani menanggapi dan mampu mengemukakan pendapat tentang jawaban siswa yang lain.
    3. Sebagian besar berani dan mampu untuk bertanya tentang, materi pelajaran pada hari itu.
    4. Anggota kelompok aktif dalam mengerjakan tugas kelompoknya.
    5. Penyelesaian tugas kelompok sesuai dengan waktu yang disediakan.

Siklus II
Sebagaimana halnya siklus pertama, siklus keduapun terdiri dari Perencanaan (Planning), Pelaksanaan (Acting), Pengamatan (Observation). Refleksi (Reflektion).
1.      Perencanaan (Planning)
Tim peneliti membuat rencana pembelajaran berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama.
2.      Pelaksanaan (Acting)
Guru melaksanakan pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together berdasarkan rencana pembelajaran hasil refleksi pada siklus pertama.
3.      Pengamatan (Observation)
Tem peneliti (guru dan kolaborator) melakukan pengamatan terhadap aktivitas pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together.


4.      Refleksi (RefleAtion)
Tem peneliti melakukan refleksi terhadap pelaksanaan siklus kedua dan menyusun rencana (replanning) untuk siklus III.

Siklus III
Siklus ke III merupakan putaran ke tiga dari pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT), dengan tahapan yang sama seperti pada siklus pertama dan kedua.
1.      Perencanaan (Planning)
Tem peneliti membuat rencana pembelajaran berdasarkan hasil refleksi pada siklus II.
2.      Pelaksanaan (Acting)
Guru melaksanakan pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT) berdasarkan rencana pembelajaran hasil refleksi pada siklus II.
3.      Pengamatan (Observation)
Tem peneliti (Guru dan Kolaborator) melakukan pengamatan terhadap aktivitas pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT).
4.      Refleksi (Reflektion)
Tem peneliti melakukan refleksi terhadap pelaksanaan siklus III dan menganalisis untuk serta membuat kesimpulan atas pelaksanaan pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT), dan peningkatan aktivitas hasil belajara siswa dalam pembelajaran pengetahuan sosial di sekolah dasar.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Hasil penelitian diuraikan dalam tahapan yang berupa siklus-siklus pembelajaran yang dilakukan dalam proses belajar mengajar di kelas. Dalam penelitian ini pembelajaran dilakukan dalam tiga siklus sebagaimana pemaparan berikut ini.
A.    Siklus Pertama (Satu Kali Pertemuan)
Siklkus pertama terdiri dari empat tahap yakni : Perencanaan (Planning), Pelaksanaan (Acting), Observasi dan Evaluasi (Observation and Evaluation), Refleksi dan Perencanaan Ulang (Reflektion and Replanning). Seperti berikut ini :
  1. Perencanaan (Planning)
a.      Tem peneliti melakukan analisis kurikulum untuk menentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan disampaikan siswa dengan menggunakan pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT).
b.      Membuat rencana pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT).
c.       Membuat lembar ker a siswa.
d.      Membuat instrument yang digunakan dalam siklus Penelitian.
e.       Menyususn alat evalimsi pembelajaran.

  1. Pelaksanaan (Acting)

Pada saat awal siklus pertama pelaksanaan belum sesuai dengan rencana, hal ini disebabkan :
a.      Sebagian kelompok belum terbiasa dengan kondisi belajar berkelompok.
b.      Sebagian kelompok belum memahami langkah pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT) secara utuh dan menyeluruh. Untuk mengatasi masalah diatas, dilakukan upaya sebagai berikut.
Ø  Guru dengan intensif memberi pengertian pada siswa kondisi dalam kelompok, kejasama kelompok, keikit sertaan siswa dalam kelompok.
Ø  Guru membantu kelompok yang belum memahami langkah-langkah Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT).
Pada akhir siklus pertama dari hasil pengamatan guru dan kolaborasi dengan teman sejawat dapat disimpulkan :
1.      Siswa mulai terbiasa dengan kondidsi belajar kelompok.
2.      Siswa mulai terbiasa dengan pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT)
3.      Siswa mampu menyimpulkan bahwa pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT)  memiliki langkah–langkah tertentu.
  1. Observasi dan Evaluasi (Observation and Evaluation)
a.      Hasil observasi aktivitas siswa dalam PBM selama siklus pertama dapat dilihat pada tabel berikut :


b. Tabel I
Perolehan sekor aktivitas siswa dalam Siklus I
Kelompok
Sekor
perolehan
Sekor ideal
Persentase
(%)
Keterangan
1
5
7
71,42

2
5,5
7
78,57

3
4,6
7
65,71

4
5,4
7
77,14

5
4,8
7
68,57

6
4
7
57,14

7
5,2
7
74,28

8
5
7
71,42

9
6
7
85,71

10
6,3
7
90

11
7
7
100
Tertinggi
12
5,2
7
74,28

13
3
7
42,85
Terendah
Rata rata
5,15
7
73


b.      Hasil observasi aktivitas guru dalam sillus I
Hasil observasi aktivitas guru dalam kegiatan belajar mengajar pada siklus pertama masih tergolong rendah, dengan perolehan sekor 61 atau 61 %. Sedangkan sekor idealnya adalah 100. Hal ini terjadi karena lebih banyak terdiri didepan kelas dan kurang memberikan pengarahan kepada siswa bagaimana melakukan pembelajaran secara Kooperatif.
c.       Hasil evahiasi siklus I . penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran.
Selain aktivitas guru dalam PBM, penguasaan siswa terhadap penguasaan materi pembelajaran pun masih tergolong kurang dari sekor ideal 100, sekor perolehan rata-rata hanya mencapai 62 atau 62 %.



Grafik I
Perolehan Sekor Aktivitas Siswa Dalam PBM Siklus



 









  1. Refleksi dan Perencanaan Ulang (Reflektion and Replanning)
Adapun keberhasilan dan kegagalan yang, ter adi pada siklus pertama adalah sebagai berikut :
a.      Guru belum terbiasa menciptakan suasana pembelajaran yang mengarah kepada pendekatan pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT). Hal ini diperoleh dari hasil observasi terhadap aktivitas guru dalam PBM hanya mencapai 61%.
b.      Sebagian siswa belum terbiasa dengan kondisi belajar dengan menggunakan pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT). Mereka merasa senang dan antusias dalam belajar hal ini bisa dilihat dari hasil observasi terhadap aktivitas siswa dalam PBM hanya mencapai 69%.
c.       Hasil evaluasi pada siklus pertama mencapai rata-rata 6,20.
d.      Masih ada kelompok yang belum bisa menyelesaikan tugas dengan waktu yang ditentukan. Hal ini karena anggota kelompok tersebut kurang serius dalam belajar.
e.       Masih ada kelompok yang kurang mampu dalam mempresentasikan kegiatan. Untuk memperbaiki kelemahan dan mempertahankan keberhasilan yang telah dicapai pada siklus pertama, maka pada pelaksanaan siklus II dapat dibuat perencanaan sebagai berikut :
1.      Memberikan motivasi kepada kelompok agar lebih aktif lagi dalam pembelajaran.
2.      Lebih intensip membimbing kelompok yang mengalami kesulitan.
3.      Member pengakuan atau penghargaan (Reward)

B.     Siklus Kedua (Dua Kali Pertemuan)
Seperti pada siklus pertama siklus kedua ini terdiri dari Perencanaan (Planning), Pelaksanaan (Acting), Observasi dan Evaluasi (Observation and Evaluation).
1.      Perencanaan (Planning)
Planning pada siklus II berdasarkan replanning siklus pertama yaitu :
a.      Memberikan motivasi kepada kelompok agar lebih aktif lagi dalam pembelaj aran.
b.      Lebih intensif membimbing kelompok yang mengalami kesulitan.
c.       Member pengakuan atau penghargaan.
d.      Membuat perangkat pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT) yang lebih mudah dipahami oleh siswa.
2.      Pelaksanaan (Acting)
a.      Suasana pembelajaran sudah mengarah pada pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT) Tugas yang diberikan guru pada kelompok dengan menggunakan lembar kerja akademik mampu dikerjakan dengan baik. Siswa dalam satu kelompok menunjukan saling membantu untuk menguasai materi pelajaran yang telah diberikan melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama dengan anggota kelompok.
b.      Sebagian besar siswa merasa termotivasi untuk bertanya dan menanggapi suatu presentasi dari kelompok lain.
c.       Suasana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan sudah mulai tercipta.
3.      Observasi dan Evaluasi (Observation and Evaluation)
a.      Hasil observasi aktivitas siswa dalam PBM selama siklus II dapat dilihat pada Label berikut ini.
Tabel 2
Perolehan sekor aktivitas siswa dalam Siklus II
Kelompok
Sekor
perolehan
Sekor ideal
Persentase
Keterangan
1
5,5
7
78,57

2
6
7
85,71

3
5
7
71,42

4
5,7
7
81,42

5
5,3
7
75,71

6
5,5
7
78,57

7
5,6
7
81,42

8
5,5
7
78,57

9
6,6
7
94,28

10
6,7
7
95,71

11
7
7
100
Tertinggi
12
6
7
85,71

13
5,5
7
78,57
Terendah
Rata rata
5,83
7
83,47

Grafik 2
Perolehan Skor Aktivitas Siswa Dalam PBM Siklus II



 










b.      Hasil observasi aktivitas guru dalam PBM pada siklus II tergolong sedang hal ini berarti mengalami perbaikan dari siklus pertama. Dari skor ideal 50 nilai yang diperoleh adalah 35 atau 70%.
c.       Hasil evaluasi penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran pada siklus II juga tergolong sedang, yakni dari skor ideal 100 nilai rata-rata skor perolehan adalah 60 atau 60%.
d.      Hasil ulangan ke 2 (setelah menggunakan pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT) juga mengalami peningkatamn yang sebelumnya belum menggunakan pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT) 5,48 menjadi 6,53 setelah dilakukan pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT). Ini berarti naik 1,05.


4.      Refleksi dan Perencanaan Ulang (Reflektion and Replanning)
Adapun keberhasilan yang diperoleh selama siklus II ini adalah sebagai berikut.
a.      Aktivitas siswa dalam PBM sudah mengarah kepada pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT). Siswa mampu membangun kerjasama dalam kelompok untuk memahami tugas yang diberikan guru. Siswa mulai mampu berpartisifasi dalam kegiatan dan tepat waktu dalam melaksanakannya. Siswa mulai mampu mempersentasikan hasil keda dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari data hasil observasi terhadap aktifitas siswa meningkat dari 69% pada, siklus pertama menjadi 74% pada siklus II.
b.      Meningkatnya aktivitas siswa dalam PBM didukung oleh meningkatnya aktifitas guru dalam mempertahankan dan meningkatkan suasana pembelajaran yang mengarah pada pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT). Guru intensif membimbing siswa-siswa mengalami kesulitan dalam PBM dapat dilihat dari hasil observasi aktivitas guru dalam PBM meningkat dari 61,36% pada siklus pertama menjadi 80% pada siklus II.
c.       Meningkatnya aklivitas siswa dalam melaksanakan evaluasi terhadap kemampuan siswa menguasai materi pembelajaran. hal ini berdasarkan hasil evaluasi 6,20. Pada siklus pertama meningkat menjadi 7,00 pada siklus II .
d.      Meningkatnya rata-rata nilai ulangan harian dari 5,48 (ulangan harian I). Sebelum menggunakan pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT) menjadi 6,53 (ulangan harian II setelah menggunakan pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT) .

C.     Siklus Ketiga (Tiga Kali Pertemuan)
  1. Perencanaan (Planning)
Planning pada siklus III berdasarkan replanning siklus II yaitu :
a.      Memberikan motivasi pada kelompok agar lebih aktif lagi dalam pembelajaran.
b.      Lebih intensif membimbing kelompok yang mengalami kesulitan.
c.       Member pengakuan atau penghargaan.
d.      Membuat perangkat pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT) yang lebih baik lagi.
  1. Pelaksanaan (Acting)
a.      Stinsana, pembelajaran sudah lebih mengarah kepada pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT) Tugas yang diberikan guru pada kelompok dengan menggunakan lembar kerja akademik, mampu Biker akan dengan lebih baik lagi. Siswa dalam sate kelompok menunjukan Baling membantu untuk menguasai materi pelajaran yang telah diberikan melalui tanya jawab atau diskusi melalui antar sesama antar kelompok. Siswa kelihatan lebih antusias mengikuti proses belajar mengajar.
b.      Hampir semua siswa merasa termotivasi untuk bertanya dan menanggapi suatu prosentasi dari kelompok lain.
c.       Suasana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan sudah lebih tercipta.
  1. Observasi dan Evaluasi (Observation and Evaluation)
Hasil observasi selama siklus III dapat dilihat seperti dibawah ini.
a.      Hasil observasi aktivitas siswa dalam PBM pada siklus III dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 3
Perolehan skor aktivitas siswa dalam Siklus III

Kelompok
Sekor
perolehan
Sekor ideal
Persentase (%)
Keterangan
1
6
7
85,71

2
7
7
100

3
5
7
71,42
Terendah
4
6,7
7
95,71

5
7
7
100

6
7
7
100

7
5,6
7
81,42

8
7
7
100

9
6,6
7
94,28

10
5,5
7
78,57

11
7
7
100

12
6
7
85,71

13
7
7
100

Rata rata
6,41
7
91,64




 













b.      Hasil observasi siklus III aktivitas guru dalam PBM mendapat rata-rata nilai perolehan 40 atau 91. Hal ini berarti menunjukan adanya peningkatan yang sangat signifikan
c.       Hasil evalussi siklus III penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran memiliki rata rata nilai 85 atau 85 % dari sekor ideal 100 hal ini menunjukan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran tergolong tinggi.
d.      Hasil ulangan harian 3 (setelah menggunakan pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT) mengalami peningkatan yang cukup berarti yakni: 7,60, sedangkan sebelumnya 5,48 dan pada siklus II 6,53.
  1. Refleksi dan Perencanaan Ulang (Reflektion and Replanning)
Adapun keberhasilan yang diperoleh selama siklus III adalah sebagai berikut :
a.      Aktivitas siswa dalam PBM sudah mengarah ke pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT) secara lebih baik. Siswa mampu membangun kerja sama dalam kelompok untuk memahami tugas yang diberikan guru siswa mulai mampu berpartisisfasi dalam kegiatan dan tepat waktu dalam melaksanakannya. Siswa mulai mampu mempresentasikan hasil kerja. Hal ini dapat dilihat dari data hasil observasi terhadap aktivitas siswa meningkat dari 74% pada siklus II menjadi 85% pada siklus III.
b.      Meningkatnya aktivitas siswa dalam PBM didukung oleh meningkatnya aktivitas guru dalam mempertahankan meningkatkan suasana pembelajaran yang mengarah pada pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT) Guru intensif membimbing siswa, terutama saat siswa mengalami kesulitan dalam PBM dapat dilihat dari hasil observasi aktivitas guru dalam PBM meningkat dari 80% pada siklus II menjadi 91% pada siklus III.
c.       Meningkatnya aktivitas siswa dalam melaksanakan evaluasi terhadap kemampuan siswa menguasai materi pembelajaran. Hal ini berdasarkan hasil evaluasi 7,00 pada siklus II meningkat menjadi 8,50 pada siklus III meningkatnya nilai rata-rata ulangan harian dari 5,48 (ulangan harian I) sebelum menggunakan pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT) menjadi 6,53 (ulangan harian II) dan 7,33 (ulangan harian III). Setelah menggunakan pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT).



BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Kelas dapat disimpulkan sebagai berikut :
  1. Penerapan pembelajaran dengan tipe Number Head Together (NHT). dapat meningkatkan aktivitas proses belajar mengajar.
  2. Dari hasil observasi memperlihatkan bahwa terJadi peningkatan aktivitas siswa yang pada siklus I hanya rata-rata 69% menjadi 74% pada siklus II dan 85% pada siklus III.
  3. Kemampuan dalam diskusi kelompok juga mengalami kemajuan yang sangat berarti. Hal ini dapat dilihat dan sudah mulai terbiasa dalam belajar berkelompok.
  4. Aktivitas siswa dalam kelompok mencapai kesempumaan setelah siklus III. Ini dapat dilihat dan peningkatan aktivitas siswa mencapai 85%.
  5. Penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran menunjukan peningkatan. Hal ini dapat di tunjukan dengan rata-rata hasil ulangan harian (rata-rata ulangan harian I tanpa pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT). 5,48 menjadi 6,53 (Ulangan harian II) dan 7,33 (Ulangan harian 3) setelah mengguanakan pembelajaran Kooperatif dengan tipe STAD.
  6. Pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT), Relevan dengan pembelajaran kontektual.
  7. Melalui pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT), siswa membangun sendiri pengetahuan menemukan langkah-langkah dalam mencari penyelesaian dari suatu materi yang harus dikuasai oleh siswa, baik secara individu maupun kelompok.
  8. Dengan pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT), pembelajaran pengetahuan sosial lebih menyenangkan.

B.     Saran
Telah terbuktinya pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT), dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Pengetahuan Sosial, maka kami sarankan hal-hal sebagai berikut :
  1. Dalam kegiatan belajar mengajar guru diharapkan menjadikan pembelajaran Kooperatif dengan tipe Number Head Together (NHT), sebagai satu alternatif dalam mata pelajaran pengetahuan sosial untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
  2. Karena kegiatan ini sangat bermanfaat khususnya bagi guru dan siswa, maka diharapkan kegiatan ini dapat dilakukan secara berkesinambungan dalam pelajaran Pengetahuan Sosial maupun pelajaran lain.


DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi, & Joko Triprasetya, Strategi Belajar Mengajar, Pustaka Setia, Bandung, 1997.
Anas Sudijono, Pengantar  Statiskik Pendidikan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1999.
Anita Lie, Coperative Learning, Grafindo, Jakarta, 2005.
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta, 2002.
Muhammad Ali, Guru dalam Proses Belajar Mengajar, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2002.
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005.
______________, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Remaja Rosda Karya, Bandung, 2005
Mulyasa, Implementasi Kurikulum, Rosda Karya, Bandung, 2004.
Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2002.
Nana Syaodih, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Prosda, Bandung, 2003.
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Rosdakaiya, Bandung, 2006.
Oemar Hamalik, Media Pendidikan, Penerbit Alumni, Bandung, 1986..
Roestiyah, N. V, Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta, 1998.
Slameto, Belajar dan Falaor-faktar yang Mempengaruhinnya, Rineka Cipta, Jakarta, 1995.
Subana Sudrajat, Dasar-dasar Penelitian Ilmiah, Pustaka Setia, Bandung, 2001.
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek), Rineka Cipta, Jakarta, 1998.
Sumarna Surapranata, Analisis, Validitas, Reabilitas dan Interpretasi Hasil Tes, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004.
Sudjana, Metode Statistika, Tarsito, Bandung, 1992.
Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di sekolah, Rineka Cipta, Jakarta, 1997.
Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, Usaha Nasional, Surabaya, 1994.
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta Jakarta, 1997.
Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Rosda Karya, Bandung, 1998.
Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan), Rineka Cipta, Jakarta, 1998.
W. Gulo, Strategi Belajar Mengajar, PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 2002.
Zainal Aqib, Profesionalisme Guru dalam Pembelajaran, Insan Cendekia, Surabaya, 2002.


 

No comments:

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda! Jangan Lupa Untuk Meninggalkan Komentar!.