Minggu, 04 April 2010

Karya Tulis Ilmiah : Diabetes Melitus

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Diabetes Melitus sering disebut sebagai The Great Imitator karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan dan gejalanya sangat bervariasi. Diabetes Mellitus dapat timbul secara perlahan-lahan sehingga pasien tidak menyadari akan adanya perbahan seperti minum yang lebih menjadi banyak, buang air kecil sering ataupun berat badan menurun. Gejala-gejala tersebut dapat berlangsung lama tanpa diperhatikan, sampai kemudian orang tersebut pergi ke dokter dan diperiksa kadar glukosa darahnya (Waspadji, 2001).

. Pengetahuan adalah proses belajar dengan menggunakan panca indra yang dilakukan seseorang terhadap objek tertentu untuk dapat menghasilkan pengetahuan dan keterampilan (Hidayat, 2005). Dalam penelitian ini peneliti akan meneliti gambaran pengetahuan klien tentang penyakit diabetes mellitus.
Aspek pengetahuan merupakan unsur yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang. Semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang akan mempengaruhi pola pikir dan sikap terhadap suatu hal yang akhirnya terjadi perubahan perilaku (Notoatmojo, 2003).
Pengetahuan tersebut dalam proses penanggulangan penyakit dapat mempengaruhi. Hal ini dapat dilihat apabila seseorang dengan pengetahuan baik maka dalam proses penanggulangan penyakitnya pun akan baik, akan tetapi apabila pengetahuannya kurang maka akan menghasilkan penanggulangan yang kurang pula.
Diabetes adalah salah satu penyakit yang sering diderita dan penyakit kronik yang serius di Indonesia saat ini. Setengah dari jumlah kasus Diabetes
Mellitus (DM) tidak terdiagnosa karena pada umumnya diabetes tidak disertai gejala sampai terjadinya komplikasi prevalensi.
Penyakit Diabetes meningkat karena terjadi perubahan gaya hidup, kenaikan jumlah kalori yang dimakan, kurangnya aktivitas fisik dan meningkatnya jumlah populasi manusia usia lanjut. Dengan makin majunya keadaan sosio ekonomi masyarakat Indonesia serta pelayanan kesehatan yang makin baik dan merata, diperkirakan tingkat kejadian penyakit diabetes mellitus makin meningkat. Penyakit ini dapat menyerang segala lapisan umur dan sosio ekonomi, dan berbagai penelitian epidemiologis di Indonesia didapatkan prevalensi sebesar 1,5 - 2,3 % pada penduduk usia lebih besar dan 15 tahun. Pada penelitian di Manado didapatkan prevalensi 6,1 %. Penelitian di Jakarta pada tahun 1999 menunjukkan prevalensi 5,7 %. Melihat pola pertambahan penduduk saat ini diperkirakan pada tahun 2020 nanti akan ada sejumlah 178 juta penduduk berusia 20 tahun dan dengan asumsi prevalensi Diabetes melitus sebesar 2 %. Akan di dapatkan 3,56 juta pasien diabetes melitus. Suatu jumlah yang besar untuk dapat ditangani sendini mungkin oleh para ahli DM. Oleh karena itu antisipasi untuk mencegah dan menanggulangi timbulnya ledakan pasien DM ini harus sudah dimulai dari sekarang.
Dalam hal ini antisipasi untuk pencegahan DM ini yang sangat perlu diperhatikan adalah dengan memberikan penyuluhan kesehatan pada penderita
Diabetes Mellitus merupakan suatu hal yang amat penting dalam regulasi darah penderita DM dan mencegah atau setidaknya menghambat munculnya penyakit kronik maupun penyakit akut yang ditakuti oleh penderita.
Dalam hal ini diperlukan kerjasama yang baik antara penderita DM dan keluarganya dengan para pengelola/penyuluh yang terdiri dan dokter, perawat, ahli gizi, dan tenaga medis lain. Untuk dapat memahami dan
menyadari pentingnya pendidikan kesehatan DM serta disampaikan kepada pasien (Soedjono,1999).
LAPORAN 10 BESAR PENYAKIT
DI RST CIREMAI
PERIODE JANUARI-MEI 2008
No. Nama Penyakit Jumlah Prosentase
1 Diare 217 26,79 %
2 Dispepsia 177 21,85 %
3 Diabetes Mellitus 109 13,46 %
4 Hipertensi 77 9,51 %
5 DBD 71 8,77 %
6 Demam Tifoid 63 7,78 %
7 Gastritis 36 4,44 %
8 Asma 29 3,58 %
9 Bronchitis 16 1,98 %
10 Pneumonia 15 1,85 %
Jumlah 810 100 %
(Sumber Rekam Medik RST Ciremai, 2008)
Saat peneliti melakukan penelitian terdapat 3 klien yang di rawat dengan penyakit Diabetes Mellitus.
Melihat data di atas maka peneliti ingin mengetahui lebih lanjut bagaimana gambaran pengetahuan klien tentang penyakit Diabetes Mellitus yang di rawat di ruang penyakit dalam Ciremai Kota Cirebon tahun 2008.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dirumuskan penelitian ini adalah “Bagaimana Gambaran Pengetahuan Klien Tentang Penyakit Diabetes Mellitus di RPD RST Ciremai Kota Cirebon Tahun 2008 ?”

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran pengetahuan klien tentang Diabetes Mellitus di RPD RST Ciremai Kota Cirebon.

1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mendapatkan gambaran pengetahuan klien tentang Definisi Diabetes Me1litus.
b. Mendapatkan gambaran pengetahuan klien tentang Tanda dan
Gejala Diabetes Mellitus.
c. Mendapatkan gambaran pengetahuan klien tentang Faktor Penyebab Diabetes Mellitus.
d. Mendapatkan gambaran pengetahuan klien tentang Komplikasi
Diabetes Mellitus.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Kilen
Dapat mengetahui gambaran pengetahuan tentang penyakit yang di derita sehingga dapat dijadikan acuan dalam meningkatkan pengetahuan tentang penyakitnya.

1.4.2 Bagi Peneliti
Sebagai pengalaman nyata dalam melakukan penelitian tentang
gambaran pengetahuan pada klien dengan masalah Diabetes Melitus.

1.4.3 Bagi Rumah Sakit
Dapat memberikan informasi sebagai gambaran awal mengenai
pengetahuan klien tentang Diabetes Mellitus yang sekiranya dapat
dijadikan acuan dalam memberikan Asuhan Keperawatan yang komprehensif.

1.4.4 Bagi Diploma III Keperawatan
Sebagai literatur tambahan akademik pendidikan untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan
Diabetes Mellitus.

1.5 Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini mencakup gambaran pengetahuan klien tentang Diabetes Mellitus di Rumah Sakit TNI Ciremai yang meliputi Definisi, Penyebab, Tanda dan Gejala, dan Komplikasi Diabetes Mellitus ditinjau dari sudut pandang ilmu keperawatan.

1.6 Kerangka Konsep dan Definisi Operasional
1.6.1 Kerangka Konsep
Dalam hal ini penulis meneliti gambaran pengetahuan pada klien
dengan Diabetes Melitus yang mencakup aspek, definisi tanda dan gejala,
penyebab dan komplikasi, kerangka konsep digambar sebagai berikut:
Faktor yang mempengaruhi pengetahuan meliputi:







Keterangan :
: Variabel yang tidak diteliti
: Variabel yang diteliti

1.6.2 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah suatu definisi mengenai variabel yang berdasarkan karakteristik-karakteristik variabel tersebut yang dapat diamati dan benar-benar dilakukan peneliti sesuai dengan variabel yang terlibat dalam penelitian (Badriah, 2006).
Adapun definisi operasional pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Pengetahuan klien tentang pengertian DM
Adalah kemampuan penderita untuk mengerti tentang pengertian diabetes mellitus, untuk mengetahui hasil penelitian ini menggunakan kuesioner dengan kriteria baik 76-100%, cukup 56-75%, kurang <56%. b. Pengetahuan klien tentang gejala diabetes melitus Kemampuan klien DM untuk rnengerti dan mengetahui suatu hal atau keadaan tanda dan gejala seperti : rasa gatal, kesemutan/baal, polipagio, poliuria dan polidipsia, untuk mengetahuai hasil penelitian ini menggunakan kuesioner dengan kriteria baik 76-100%, cukup 56-75%, kurang <56%. c. Pengetahuan klien tentang penyebab diabetes melitus Klien untuk mengerti dan mengetahui suatu hal atau keadaan yang menyebabkan DM, untuk mengetahui hasil penelitian ini menggunakan kuesioner dengan kriteria baik 76-100%, cukup 56-75%, kurang <56%. d. Pengetahuan klien tentang komplikasi beserta penyakit penyerta pada penderita Diabetes Mellitus untuk mengetahui hasil penelitian ini menggunakan Kuesioner dengan kriteria baik 76-100%, cukup 56-75%, kurang <56%. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam Bab II ini akan dipaparkan tentang hal yang berhubungan dengan Gambaran pengetahuan klien tentang penyakit Diabetes Mellitus meliputi (pengertian, penyebab, tanda dan gejala, komplikasi, patofisiologi, klasifikasi). 2.1 Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan Pengetahuan (knowledge) adalah hasil dari tahu dan hal ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan pada suatu objek tertentu, pengetahuan atau kognitif merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang, perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih baik dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan dan sikap (Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan merupakan proses belajar dengan menggunakan panca indra yang dilakukan seseorang terhadap objek tertentu untuk dapat menghasilkan pengetahuan dan ketrampilan (Hidayat, 2005). Senada dengan pendapat diatas.menurut Arikunto pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia yang diperoleh dari penginderaan terhadap suatu objek melalui panca indra, yakna penglihatan, indra penciuman, indra perasa, indra peraba, serta berdasarkan penghayatan terhadap suatu pengalaman. Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Dalam arti lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan inderawi, pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan indra atau akal budinya untuk mengenal benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Pengetahuan terutama diperoleh melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal, Pengetahuan umumnya di dapat dari pengalaman atau informasi yang berasal dari guru, orang tua, teman, buku, media massa dan lain-lain. Menurut Notoatmodjo, (2003). Mengatakan bahwa pengetahuan yang di cakup di dalam dominan kognitif mempunyai 6 tingkat, antara lain : 2.1.1.1 Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari sebelumnya termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. 2.1.1.2 Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. 2.1.1.3 Aplikasi (Aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai suatu aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya. 2.1.1.4 Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. 2.1.1.5 Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada. 2.1.1.6 Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Faktor yang mempengaruhi terbentuknya pengetahuan : a. Pendidikan Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin mudah menerima informasi sehingga banyak pula pengetahuan yang dimiliki. b. Usia Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun, semakin cukup usia tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. c. Pengalaman Pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau cara memperoleh kebenaran pribadi dan dapat diganakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. d. Sumber informasi Merupakan informasi tentang cara mencapai hidup sehat, cara pemeliharaan kesehatan cara menghindari penyakit dan sebagainya. Dengan pengetahuan itu akan menyebabkan orang berperilak sesuai dengan yang dimilikinya. 2.2 Diabetes Mellitus 2.2.1 Pengertian Diabetes Mellitus Diabetes Mellitus adalah merupakan penyakit menahun dengan berbagai ragam masalah yang menyertainya, yang lebih populer disebut sebagai komplikasi (Irawan, 2000). Diabetes Mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurngan insulin, baik absolut maupun relative (Suyono, 2004). Dari kedua pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa Diabetes Mellitus adalah suatu gangguan metabolik yang melibatkan berbagai sistem Fisiologis, yang paling kritis adalah Metabolisme glukosa. 2.2.2 Etiologi Penyebab Diabetes Mellitus anatara lain : a. Diabetes Tipe I IDDM (tergantung insulin) 1) Faktor genetik 2) Faktor immunologik 3) Faktor lingkungan b. Diabetes Tipe II NIDDM (tidak tergantung insulin) 1) Usia 2) Obesitas 3) Riwayat keluarga 4) Kelompok etnis 2.2.3 Tanda dan Gejala Gejala klasik penyakit Diabetes Mellitus dikenal dengan istilah trio P, yaitu meliputi poliura, polipagia, polidipsia, rasa letih yang tidak jelas sebabnya, rasa gatal, peradangan kulit yang menahun, pada penderita kronis timbul gejala lain seperti penurunan berat badan, kesemutan, luka sukar sembuh (Endang, 2001). 2.2.4 Komplikasi a. Akut 1) koma hipoglikemia 2) ketoasidosis 3) koma hiperosmolar non ketotik b. Kronis 1) Makroangiopati 2) Mikroangiopati 3) Neuropati 4) Okulopati 5) Hepatopati 6) Infeksi 2.2.5 Klasifikasi Menurut American Diabetes Assosiation (1997) Diabetes Mellitus dibagi menjadi: a. Diabetes Tipe I atau IDDM b. Diabetes Tipe II atau NIDDM c. Diabetes Tipe lain d. Diabetes Tipe Gestasional Kurang lebih 5% - 10 % penderita mengalami Diabetes Mellitus tipe I yaitu Diabetes Mellitus yang tergantung insulin 90-95% mengalami Diabetes Mellitus Tipe II yaitu Diabetes Mellitus yang tidak tergantung insulin (Brunet and Suddart, 2002). 2.2.6 Patofisiologi a. Diabetes Mellitus tipe I Pada Diabetes Mellitus Tipe I terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin, karena sel-sel beta pankreas telah hancur oleh proses autoimun. Hiperglikemia puasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Di samping itu glukosa yang berasal yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia post prandial (Brunnert and Suddart, 2002). Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar, akibatnya glukosa keluar bersama urine (glukosuria). Ketika glukosa yang berlebihan dieksresikan dalam urine disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan (diuresis osmotik), sebagai akibat pengeluaran cairan yang berlebihan pada pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa lapar (polipagia) (Brunnert and Suddart, 2002). Defisiensi insulin juga akan mengganggu metabolisme protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan, pasien dapat mengalami peningkatan nafsu makan (polipagia) akibat menurunnya simpanan kalori, gejala lain mencakup kelelahan dan kelemahan (Brunnert and Suddart, 2002). Dalam keadaan normal insulin mengendalikan glikogenesis dan glukoneogenesis, namun penderita defesiensi insulin proses ini akan terjadi tanpa hambatan dan lebih lanjut terjadi hiperglikemia. Disamping terjadi peningkatan pemecahan lemak yang menyebabkan peningkatan produksi keton dan terjadi gangguan keseimbangan asam basa menyebabkan ketoalidosis (Brunnert and Suddart, 2002). b. Diabetes Mellitus tipe II Pada Diabetes Mellitus Tipe II, terdapat dua permasalahan utama yang berhubungan dengan insulin yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel, sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa dalam sel sehingga insulin menjadi tidak efektif untuk stimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan (Brunnert and Suddart, 2002). c. Diabetes Mellitus Gestasional Teradi pada wanita hamil yang tidak menderita diabetes sebelum kehamilan. Hiperglikemia terjadi selama kehamilan akibat sekresi hormon-hormon plasenta dan kembali normal setelah melahirkan. Namun jika tidak ditangani dengan benar, maka Gestational diabetes mellitus dapat menyebabkan makrosomia (kelebihan berat badan pada bayi), hipoglikemia, masalah pernafasan dan sekitar 1-5% kemungkinan berkembang manjadi diabetes tipe II Ada baiknya jika yang sedang mengandung beserta keluarganya memperoleh pemeriksaan dan pengetahuan yang cukup tentang gestasional diabetes (Nexx book.c.nexx.co.id). Untuk itu selama kehamilan perlu dilakukan pemantauan kadar glukosa darah pada ibu hamil (Brunnert Suddart, 2002). BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif. Metode ini digunakan untuk memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Penelitian ini dilakukan dengan menempuh langkah-langkah pengumpulan data, klasifikasi, pengolahan data/analisa data dan membuat kesimpulan (Notoatmodjo, 2002). 3.2 Variabel dan Sub Variabel Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri sifat atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang suatu konsep, dalil atau pengertian tertentu (Notoatmodjo, 2002). Adapun variabel dapat diartikan sebagai ukuran atau ciri yang di miliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok yang lain (Badriah, 2006). Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah gambaran pengetahuan klien tentang penyakit Diabetes Mellitus. Sedangkan sub variabelnya adalah pengetahuan klien tentang pengertian, penyebab, gejala dan komplikasi Diabetes Mellitus dengan kriteria baik, cukup, kurang. 3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek / subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh penelitian untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono, 2007). Populasi pada penelitian ini adalah 20 penderita DM di ruang penyakit dalam RST Ciremai Kota Cirebon. 3.3.2 Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002). Sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan Accidental sampling, pada klien penderita Diabetes Mellitus yang dirawat diruang penyakit dalam RST Ciremai Kota Cirebon. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 20 orang responden. 3.4 Instrumen Penelitian Instrumen dapat didefinisikan sebagai alat pengumpulan data yang telah baku atau alat pengumpulan data. (Badriah, 2006). Dalam instrumen penelitian ini digunakan dengan cara mengumpulkan data yang didapat melalui kuesioner dimana penelitian sub variabel dengan devedennya variabel penelitian ini adalah kriteria pengetahuan baik, cukup, dan kurang. 3.5 Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, kuesioner diartikan sebagai daftar pertanyaan yang sudah tersusun dengan baik, sudah matang, dimana responden (dalam hal angket) dan interview (dalam hal wawancara) tinggal memberikan jawaban atau memberikan tanda-tanda tertentu dengan demikian kuesioner sering juga disebut “daftar pertanyaan” atau formulir (Notoatmodjo. 2002). Pengumpulan data dilakukan oleh penelitian sendiri sedangkan jenis data yang dikumpulkan adalah: 3.5.1 Data primer, yaitu data yang dikumpulkan diambil langsung oleh peneliti melalui wawancara atau observasi langsung meliputi: Data gambaran pengetahuan klien tentang penyakit Diabetes Mellitus (pengertian, penyebab, tanda dan gejala, dan komplikasi). 3.5.2 Data sekunder, yaitu data yang dikumpulkan diambil dari data yang telah ada, meliputi: data penderita Diabetes Mellitus yang dirawat diruang penyakit dalam RST Ciremai, data tersebut didapat dari bagian rekam medis dari laporan bulanan RST Ciremai tahun 2008. Langkah-langkah dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut : a. Setelah mendapat izin untuk penelitian dari kepala RST Ciremai Kota Cirebon, langsung melakukan studi pendahuluan. b. Sebelum melakukan pengambilan data (data primer) peneliti memberikan penjelasan kepada responden tentang penelitian yang akan dilakukan dan dilanjutkan dengan informed concent. c. Responden diberikan penjelasan tentang cara pengisian kuesioner dilanjutkan dengan pengisian kuesioner penelitian. d. Setelah kuesioner yang diisi terkumpul, dilakukan rekapitulasi data. 3.6 Teknik Analisa Data Adalah suatu cara untuk mengolah data yang didapat menggunakan teknik analiis yang dilakukan peneliti dalam melakukan analisa data dengan cara mengisi lembar kuesioner, lalu hasilnya ditabulasi. Dari tabulasi terhadap distribusi jawaban di cari nilai median dari skor total individu yang mungkin terjadi. (Arikunto: 2002). Presentase dan frekuensi setiap kategori akan dihitung dengan rumus sebagai berikut : Keterangan : f = Frekuensi kategori P = Presentase kategori N = Jumlah responden Setelah di presentasikan kemudian data dimasukkan dalam kriteria sebagai berikut : Pengetahuan baik : 76-100 % Pengetahuan cukup : 56-75% Pengetahuan kurang : < 56 % Bentuk soal adalah tertutup yang dikembangkan sesuai dengan indikator dan sub variabel dalam penelitian ini. Data yang sudah di kumpulkan selanjutnya diolah secara manual melalui beberapa tahap untuk menghasilkan data yang berguna yaitu : 1. Editing Merupakan tahap kegiatan mengkoreksi data yang terkumpul baik secara pengisian dari tiap jawaban yang terdapat pada kuesioner. 2. Coding Merupakan kegiatan memberikan kode pada setiap tindakan di berikan dengan tujuan mempermudah dalam proses tabulasi. 3. Tabulasi data Yaitu untuk mengelompokan data sesuai variabel. 4. Presentase Yaitu data yang ditabulasi di rubah ke dalam presentase. (Notoatmodjo. 2002). 3.7 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.7.1 Waktu penelitian Penelitian dilakukan pada tanggal 23 juni sampai dengan 28 juni 2008. 3.7.2 Tempat penelitian Tempat penelitian dilakukan di seluruh ruang penyakit dalam RST Ciremai Kota Cirebon BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Pada bab ini akan diuraikan tentang hasil penelitian yang dilakukan pada bulan Juni 2008 yaitu tentang “Gambaran pengetahuan klien tentang Diabetes Mellitus di ruang penyakit dalam RST Ciremai Kota Cirebon. Adapun hasil penelitiannya disajikan secara per sub varibel. 4.2 Karakteristik Responden 4.1 Tabel Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur No Kategori Jumlah Presentase 1234 20-3031-4041-50> 50 tahun 9380 45 %15 %40 %0 %
Jumlah 20 100 %

Berdasarkan tabel 4.1 didapatkan bahwa karakteristik responden menurut umur terbanyak adalah 20 - 30 tahun sebanyak 9 orang dengan presentase 45 % sedangkan umur 31 - 40 tahun sebanyak 3 orang dengan presentase 15 % dan umur 41 – 50 tahun sebanyak 8 orang dengan presentase 40 %.


4.2 Tabel Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan
No Kategori Jumlah Presentase
123 SDSMPSMA 1334 65 %15 %20 %
Jumlah 20 100 %

Dari tabel 4.2 didapatkan bahwa sebagian besar pendidikan terakhir respoden adalah SD yaitu berjumlah 13 orang dengan presentase 65 % sedangkan yang berpendidikan SMP sebanyak 3 orang dengan presentase 15 % dan yang berpendidikan SMA sebanyak 4 orang dengan presentase 20 %.

4.3 Hasil Penelitian
Bagan 4.1
Distribusi Frekuensi Pengetahuan Penderita Diabetes Mellitus Tentang Pengertian DM di RST. Ciremai Kota Cirebon

Berdasarkan bagan 4.1 diatas bahwa gambaran pengetahuan klien tentang DM yang di rawat di RST Ciremai Kota Cirebon tentang pengertian DM memiliki hasil yaitu 9 responden dengan presentase 45 % memiliki pengetahuan baik, 7 responden dengan presentase 35 % memiliki pengetahuan cukup, 4 responden dengan presentase 20 % memiliki pengetahuan kurang.

Bagan 4.2
Distribusi Frekuensi Pengetahuan Penderita Diabetes Mellitus Tentang Penyebab DM di RST. Ciremai Kota Cirebon


Berdasarkan bagan 4.2 diatas bahwa gambaran pengetahuan penderita DM yang dirawat di RST Ciremai Kota Cirebon tentang penyebab DM memiliki hasil yaitu 5 responden dengan prosentase 25 % memiliki pengetahuan baik, dan 3 responden dengan presentase 15 % memiliki pengetahuan cukup, 12 responden dengan presentase 60 % memiliki pengetahuan kurang.
Bagan 4.3
Distribusi Frekuensi Pengetahuan Penderita Diabetes Mellitus Tentang Gejala DM di RST. Ciremai Kota Cirebon

Berdasarkan bagan 4.3 diatas bahwa gambaran pengetahuan penderita DM yang dirawat di RST.Ciremai Kota Cirebon tentang gejala DM memiliki hasil yaitu: 10 responden dengan presentase 50 % memiliki pengetahuan baik, 8 responden dengan presentase 40 % memiliki pengetahuan cukup, 2 responden dengan presentase 10 % memiliki pengetahuan kurang.
Bagan 4.4
Distribusi Frekuensi Pengetahuan Penderita Diabetes Mellitus Tentang Komplikasi DM di RST. Ciremai Kota Cirebon

Berdasarkan bagan 4.4 diatas bahwa gambaran pengetahuan penderita DM yang dirawat di RST Cirebon Kota Cirebon tentang komplikasi DM memiliki hasil yaitu 2 responden dengan presentase 10 % memiliki pengetahuan baik 4 responden dengan presentase 20 % memiliki responden cukup, dan 14 responden dengan presentase 70 % memiliki pengetahuan kurang.
Dari uraian hasil penelitian pada sub variabel diatas dapat disimpulkan bahwa gambaran pengetahuan penderita Diabetes Mellitus adalah:
Bagan 4.5
Distribusi Frekuensi Pengetahuan Penderita Tentang Diabetes Mellitus di RST. Ciremai Kota Cirebon

Berdasarkan bagan 4.5 diatas menggambarkan bahwa di RST. Ciremai Kota Cirebon yang jumlah respondennya 20, lebih banyak penderita DM yang kurang mengetahui tentang pengertian, penyebab, gejala serta komplikasi dimana sebanyak 12 responden (60%) masih memiliki tingkat pengetahuan kurang mengenai DM, 5 responden (25%) yang memiliki pengetahuan baik, sedangkan sisanya 3 responden (15%) memiliki pengetahuan cukup.

4.4 Pembahasan
4.4.1 Pengetahuan Penderita Diabetes Mellitus
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk perilaku seseorang, perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari dengan pengetahuan (Notoatmodjo, 2003).
Mengemukakan bahwa domain perilaku kesehatan terdiri dari pengetahuan sikap dan tindakan. Suatu perilaku baru pada orang dewasa dimulai pada domain pengetahuan dalam arti subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi atau objek diluarnya, sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada subjek tersebut dan selanjutnya menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap terhadap objek yang diketahui. Akhirnya rangsangan yakni objek yang telah diketahui dan didasari sepenuhnya tersebut akan menimbulkan respon lebih jauh lagi yaitu berupa tindakan terhadap atau sehubungan dengan stimulus subjek tadi.
Saat dilakukan cross tabulation terlihat bahwa pengetahuan yang baik dapat mempengaruhi penderita DM dalam perilaku misalnya gaya hidup secara teratur. Begitu pula sebaiknya pengetahuan yang kurang mempunyai pengaruh yang kurang dimana mereka melakukannya jika terjadi gejala atau ada keluhan saja. Hal ini menunjukan bahwa secara teoritis dengan kenyataan dilapangan menunjukan kesamaan dimana apabila pengetahuan seseorang baik akan menimbulkan respon yang baik pula sebaliknya apabila pengetahuan dari responden kurang akan menimbulkan respon yang kurang baik juga.
Dari keseluruhan pertanyaan mengenai pengetahuan penderita Diabetes Mellitus peneliti melakukan pengelompokan data sesuai dengan sub variabel yang telah dibuat peneliti yaitu:
a. Pengetahuan penderita tentang pengertian Diabetes Mellitus
Pengetahuan sebagian penderita tentang pengertian Diabetes Mellitus mempunyai hasil yaitu 9 responden dengan presentase 45 % memiliki Pengetahuan baik. Hal ini dimungkinkan karena responden mendapat lebih banyak informasi baik dari petugas kesehatan, media massa, maupun lingkungannya. Dan hasil gambaran pengetahuan diatas menggambarkan bahwa pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh cara seseorang mendapat informasi mengenai sesuatu misalnya melalui pendidikan. Pendidikan mmegang peranan penting karena semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin banyak menerima informasi sehingga banyak pula pengetahuan yang dimiliki dgn status pendidikan yang tinggi akan lebih mudah bagi klien dalam mengartikan sesuatu. Termasuk dalam pengetahuan tentang pengertian DM.
Pendidikan adalah salah satu sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif memgembangkan potensi didinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.(www.Wikipedia.com)
b. Pengetahuan penderita tentang penyebab Diabetes Mellitus
Pengetahuan sebagian penderita tentang penyebab Diabetes Mellitus mempunyai hasil yaitu 12 responden dengan presentase 60 % memiliki Pengetahuan kurang. Hal ini dimungkinkan rsponden belum mendapat informasi baik dari petugas kesehatan,media massa, maupun lingkunngannya. Agar pengetahuan responden lebih baik diberikan perhatian yang lebih dari tenaga kesehatan untuk memberikan informasi yang benar dan tepat tentang penyebab DM dalam bentuk penyuluhan, pemberian pamflet atau brosur sehingga klien bisa membaca dirumah dan pada akhirnya klien bisa merubah perilaku yang keliru tentang penyebab DM.
Sumber informasi merupakan informasi tentang penyebab DM dan cara pemeliharaan kesehatan serta cara menghindari penyakit dan sebagainya. Dengan pengetahuan itu akan menyebabkan orang berperilaku sesuai dengan yang dimilikinya (Notoatmodjo,2003).
c. Pengetahuan penderita tentang gejala Diabetes Mellitus
Pengetahuan sebagian penderita tentang Gejala Diabetes Mellitus mempunyai hasil yaitu 10 responden dengan presentase 50 % memiliki pengetahuan baik. Hal ini dimungkinkan karena responden mendapat lebih banyak informasi baik dari petugas kesehatan, media massa, maupun lingkungannya.
d. Pengetahuan penderita tentang komplikasi Diabetes Mellitus
Pengetahuan sebagian penderita tentang Komplkasi Diabetes Mellitus mempunyai hasil yaitu 14 responden dengan presentase 70 % memiliki pengetahuan kurang. Hal ini menggambarkan bahwa klien Diabetes Mellitus masih membutuhkan tenaga kesehatan untuk memberikan pengetahuan yang benar dan tepat tentang Komplikasi. Hal itu bisa dilakukan dengan cara memberikan penyuluhan pada saat masa perawatan di ruangan dengan cara memberikan penyuluhan pada saat masa perawatan di ruang penyakit dalam RST Ciremai kota Cirebon.
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan hal ini terjadi setelah seseorang melakukan pengindraan pada suatu objek tertentu, pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003).
Berdasarkan bagan 4.5 gambaran pengetahuan penderita tentang Diabetes Mellitus yang dirawat di RST. Ciremai Kota Cirebon dengan jumlah responden 20 orang dengan kriteria kurang 12 responden (60%), kriteria baik 5 responden (25%), dan kriteria cukup 3 responden (15%).
Dari jumlah responden sebanyak 20 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan responden tentang Diabetes Mellitus termasuk kriteria kurang
Seperti yang disebutkan Notoatmodjo (2005) bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi terbentuk pengetahuan yaitu pendidikan, penghasilan, pengalaman, usia, dan sumber informasi. Pendidikan memegang peranan penting karena semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin banyak menerima informasi sehingga banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Pada dasarnya tingkat pendidikan klien menjadi sangat penting bagi produktivitas dan kesejahteraan keluarga. Pendidikan yang baik akan memudahkan klien menyerap informasi. Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langsung daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penghasilan juga akan mempengaruhi kemampuan keluarag untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga terhadap gizi, pendidikan dan kebutuhan lainnya. Semakin tinggi penghasilan maka semakin terbuka kesempatan keluarga untuk mendapat informasi (pengetahuan).
Selain itu, hal terpenting yaitu sumber informasi. Dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini tidak sulit bagi para klien untuk mendapatkan informasi (pengetahuan), dalam hal ini pengetahuan tentang penyakit diabetes mellitus. Informasi bisa didapat melalui penyuluhan (penkes) yang diadakan oleh tim kesehatan baik pusksemas ataupun Rumah Sakit, juga bisa didapat dari media elektronik, media massa atau buku.
Pengetahuan yang kurang pada penyakit diabetes mellitus disebabkan karena respon kurang memperoleh informasi tentang penyakit diabetes mellitus yang disampaikan oleh tenaga kesehatan sehingga reponden tidak mempunyai pengetahuan yang benar dan tepat tentang penyakit diabetes mellitus.
Perhatian yang lebih dari tenaga kesehatan untuk memberikan informasi yang benar dan tepat tentang penyakit diabetes mellitus dalam bentuk penyuluhan, pemberian pamflet atau brosur sehingga klien bisa membaca di rumah dan pada akhirnya klien bisa merubahn perilaku yang keliru tentang penyakit diabetes mellitus.








BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang diperoleh bahwa 20 responden dimana responden penderita Diabetes Mellitus yang dirawat di RST Ciremai Kota Cirebon. Peneliti melakukan pengelompkkan data berdasarkan sub variabel yaitu:
5.1.1 Pengetahuan penderita tentang pengertian Diabetes Mellitus
Pengetahuan sebagian penderita tentang pengertian Diabetes Mellitus mempunyai hasil yaitu 9 responden dengan presentase 45 % memiliki Pengetahuan baik.
5.1.2 Pengetahuan penderita tentang penyebab Diabetes Mellitus
Pengetahuan sebagian penderita tentang penyebab Diabetes Mellitus mempunyai hasil yaitu 12 responden dengan presentase 60 % memiliki Pengetahuan kurang.
5.1.3 Pengetahuan penderita tentang gejala Diabetes Mellitus
Pengetahuan sebagian penderita tentang Gejala Diabetes Mellitus mempunyai hasil yaitu 10 responden dengan presentase 50 % memiliki pengetahuan baik.



5.1.4 Pengetahuan penderita tentang komplikasi Diabetes Mellitus
Pengetahuan sebagian penderita tentang Komplkasi Diabetes Mellitus mempunyai hasil yaitu 14 responden dengan presentase 70 % memiliki pengetahuan kurang.
Berdasarkan bagan 4.5 dapat ditarik kesimpulan gambaran pengetahuan penderita tentang Diabetes Mellitus yang dirawat di RST. Ciremai Kota Cirebon dengan jumlah responden 20 orang dengan kriteria kurang 12 responden dengan presentase 60%, kriteria baik 5 responden dengan presentase 25 %, dan kriteria cukup 3 responden dengan presentase 15 %.

5.2 Saran
Dari penelitian yang peneliti lakukan, untuk pengembangan ilmu keperawatan ada beberapa hal yang perlu peneliti sarankan yaitu :
5.2.1 Bagi Rumah Sakit
Lebih meningkatkan lagi penyuluhan kesehatan tentang DM. Untuk mencegah terjadinya komplikasi baik akut maupun kronis.
5.2.2 Bagi Institusi
Hendaknya menambah koleksi buku-buku yang berhubungan dengan penyakit Diabetes Mellitus, agar tercapai hasil penelitian yang maksimal.


5.2.3 Bagi Peneliti Lain
Perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai tata laksana penderita DM dalam rangka pengetahuan tentang komplikasi DM baik akut maupun kronis.
5.2.4 Bagi Program studi DIII Keperawatan
Diharapkan pihak kampus untuk lebih mengkonfirmasikan terlebih dahulu setiap kegiatan mahasiswa terhadap instansi yang terkait, demi kelancaran dan kesuksesan kegiatan mahasiswa.
Untuk mencapai hasil yang semaksimal mungkin diharapkan pertimbangkan lagi sesuaikan dengan permasalahan dan kemampuan dari mahasiswa itu sendiri.
5.2.5 Bagi Klien
Diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan tentang penyakit Diabetes Mellitus dengan cara mengikuti penyuluhan yang dilakukan tenaga kesehatan atau melalui sumber informasi.

Tidak ada komentar: