Showing posts with label belajar. Show all posts
Showing posts with label belajar. Show all posts

Monday, 5 April 2010

Makalah Berbagai Pendekatan Dalam Belajar Mengajar

Makalah Berbagai Pendekatan Dalam Belajar Mengajar
Selamat datang, kami ucapkan kepada anda yang sudah menemukan Artikel kami. Pada kesempatan ini Kami akan menyuguhkan informasi mengenai Contoh Makalah Berbagai Pendekatan Dalam Belajar Mengajar. Dalam pembelajaran yang ada di lapangan, tentunya banyak pendekatan-pendekatan yang dilakukan untuk mensukseskan tujuan pendidikan. Pendekatan ini dilakukan menurut cara belajar masing-masing jenjang pendidikan. Jenjang TK, SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi menerapkan pendekatan yang berbeda-beda.

Di dalam Makalah Berbagai Pendekatan Dalam Belajar Mengajar ini menguraikan tentang Pendekatan Belajar mengajar secara umum dan khusus. Semoga ada informasi yang bisa diambil untuk melengkapi referensi anda dalam mencari Berbagai Pendekatan Dalam Belajar Mengajar. Semoga Makalah Berbagai Pendekatan Dalam Belajar Mengajar dapat bermanfaat. Terima kasih atas kunjungan Anda.


BAB I
PENDAHULUAN



Dalam kegiatan belajar mengajar yang berlangsung telah terjadi interaksi yang bertujuan. Guru dan anak didiklah yang menggerakkannya. Interaksi yang bertujuan itu disebabkan gurulah yang memaknainya dengan menciptakan lingkungan yang bernilai edukatif demi kepentingan anak didik dalam belajar.

Guru ingin memberikan layanan yang terbaik bagi anak didik, dengan menyediakan lingkungan yang menyenangkan dan menggairahkan. Guru berusaha menjadi pembimbing yang baik dengan peranan yang aktif dan bijaksana, sehingga tercipta hubungan dua arah yang harmonis antara guru dan anak didik.

Dalam mengajar, guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana, bukan sembarangan yang bisa merugikan anak didik. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam menilai anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang diambil guru dalam melakukan pengajaran.

Oleh karena itu, sebelum guru melakukan pengajaran diharapkan telah mengetahui pendekatan yang diambil adalah tepat untuk anak didiknya. Supaya proses belajar mengajar bisa berjalan lancar. Maka dalam hal ini penyusun mengambil judul “Berbagai Pendekatan Dalam Belajar Mengajar”, karena penyusun melihat pendekatan yang tepat dapat menyampaikan tujuan pembelajaran dan pendekatan dalam belajar mengajar harus dapat diketahui dan dipahami guru.

BAB II
BERBAGAI PENDEKATAN DALAM
BELAJAR MENGAJAR


Guru yang memandang anak didik sebagai pribadi yang berbeda dengan anak didik lainnya akan berbeda dengan guru yang memandang anak didik sebagai makhluk yang sama dan tidak ada perbedaan dalam segala hal. Maka adalah penting meluruskan pandangan yang keliru dalam menilai anak didik. Sebaiknya guru memandang anak didik sebagai individu dengan segala perbedaan, sehingga mudah melakukan pendekatan dalam pengajaran. Ada beberapa pendekatan yang diajukan dalam pembicaraan ini dengan harapan dapat membantu guru dalam memecahkan berbagai maslaah dalam kegiatan belajar mengajar. Demi jelasnya ikutilah uraian berikut.

A.      Pendekatan Individual
Pendekatan individual merupakan pendekatan langsung dilakukan guru terhadap anak didiknya untuk memecahkan kasus anak didiknya tersebut.
Pendekatan individual mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendekatan individual ini. Pemilihan metode tidak bisa begitu saja mengabaikan kegunaan pendekatan individual, sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya selalu saja melakukan pendekatan individual terhadap anak didik di kelas. Persoalan kesulitan belajar anak lebih mudah dipecahkan dengan menggunakan pendekatan individual, walaupun suatu saat pendekatan kelompok diperlukan.

B.      Pendekatan Kelompok
Pendekatan kelompok merupakan pendekatan yang dilakukan guru dengan cara mengelompokkan anak didiknya sesuai dengan kriterianya demi tercapainya kegiatan belajar mengajar.
Ketika guru inhin menggunakan pendekatan kelompok, maka guru harus sudah mempertimbangkan bahwa hal itu tidak bertentangan dengan tujuan. Fasilitas belajar pendukung, metode yang akan dipakai sudah dikuasai, dan bahan yang akan diberikan kepada anak didik memang cocok didekati dengan pendekatan kelompok. Karena itu, pendekatan kelompok tidak bisa dilakukan seacara sembarangan, tetapi harus mempertimbangkan hal-hal lain yang ikut mempengaruhi penggunaannya.

C.      Pendekatan Bervariasi
Ketika guru dihadapkan kepada permasalahan anak didik yang bermasalah, maka guru akan berhadapan dengan permasalahan anak didik yang bervariasi. Setiap masalah yang dihadapi oleh anak didik tidak selalu sama, terkadang ada perbedaan.
Permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didik biasanya bervariasi, maka pendekatan yang digunakan pun akan lebih tepat dengan pendekatan bervariasi pula. Misalnya, anak didik yang tidak disiplin dan anak didik yang suka berbicara akan berbeda pemecahannya dan menghendaki pendekatan yang berbeda-beda pula. Demikian juga halnya terhadap anak didik yang membuat keribuatan. Guru tidak bisa menggunakan teknik pemecahan yang sama untuk memecahkan permasalahan yang lain. Kalaupun ada, itu hanya pada kasus tertentu. Perbedaan dalam teknik pemecahan kasus itulah dalam pembicaraan ini didekati dengan “pendekatan bervariasi”.

D.      Pendekatan Edukatif
Apa pun yang guru lakukan dalam pendidikan dan pengajaran dengan tujuan untuk mendidik, bukan karena motif-motif lain, seperti dendam, gengsi, ingin ditakuti dan sebagainya.
Anak didik yang telah melakukan kesalahan, yakni membuat keribuatan di kelas ketika guru sedang memberikan pelajaran, misalnya, tidak tepat diberikan sanksi hukum dengan cara memukul badannya hingga luka atau cidera. Ini adalah tindakan sanksi hukum yang tidak bernilai pendidikan. Guru telah melakukan pendekatan yang salah. Guru telah menggunakan teori power, yakni teori kekuasaan untuk menundukkan orang lain. Dalam pendidikan, guru akan kurang arif dan bijaksana bila menggunakan kekuasaan, karena hal itu bisa merugikan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak didik. Pendekatan yang benar bagi guru adalah dengan melakukan pendekatan edukatif adalah setiap tindakan, sikap, dan perbuatan yang guru lakukan harus bernilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik anak didik agar menghargai norma hukum, norma susila, norma moral, norma sosial dan norma agama.
Selain berbagai pendekatan yang disebabkan di depan, ada lagi pendekatan-pendekatan lain. Berdasarkan kurikulum atau Garis-garis Besar Program Pengajaran (GHBP) Pendidikan Agama Islam SLTP Tahun 1994 disebutkan lima macam pendekatan untuk pendidikan agama Islam, yaitu :
a.   Pendekatan Pengalaman
Meskipun pengalaman diperlukan dan selalu dicari selama hidup, namun tidak semua pengalaman tidak bersifat mendidik (edukative experience), karena ada pengalaman yang tidak bersifat mendidik (misedukative experience). Suatu pengalaman dikatakan tidak mendidik, jika guru tidak membawa anak ke arah tujuan pendidikan, akan tetapi mengyelewengkan dari tujuan itu, misalnya “mendidik anak menjadi pencopet”. Karena itu, ciri-ciri pengalaman yang edukatif adalah berpusat pada suatu tujuan yang berarti bagi anak (meaningful), kontinu dengan kehidupan anak, interaktif dengan lingkungan dan menambah integrasi anak. Demikianlah pendapat Witherington.

b.   Pendekatan Pembiasaan

Menanamkan kebiasaan yang baik memang tidak mudah dan kadang-kadang makan waktu yang lama. Tetapi sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sukar pula untuk mengubahnya. Maka adalah penting, pada awal kehidupan anak, menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik saja dan jangan sekali-kali mendidik anak berdusta, tidak disiplin, suka berkelahi dan sebagainya. Tetapi tanamkanlah kebiasaan seperti ikhlas melakukan puasa, gemar menolong orang yang kesukaraan, suka membantu fikir dan miskin, gemar melakukan salat lima waktu, aktif berpartisipasi dalam kegiatan yang baik-baik, dan sebagainya. Maka dari itu pengaruh lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat tidak bisa dielakkan dalam hal ini.

c.   Pendekatan Emosional

Emosi mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan kepribadian seseorang. Itulah sebabnya pendekatan emosional yang berdasarkan emosi atau perasaan dijadikan sebagai salah satu pendekatan dalam pendidikan dan pengajaran, terutama untuk pendidikan agama Islam. Pendekatan emosional dimaksudkan di sini adalah suatu usaha untuk menggugah perasaan dan emosi siswa dalam meyakini, memahami dan menghayati ajaran agamanya. Dengan pendekatan ini diusahakan selalu mengembangkan perasaan keagamaan siswa agar bertambah kuat keyakinannya akan kebesaran Allah SWT. dan kebenaran ajaran agamanya. Untuk mendukung tercapainya tujuan dari pendekatan emosional ini, metode mengajar yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah metode ceramah, bercerita dan sosiodrama.
d.   Pendekatan Rasional

Karena kemampuhan akal (rasio) itulah akhirnya dijadikan pendekatan yang disebut pendekatan rasional guna kepentingan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Untuk mendukung pemakaian pendekatan ini, maka metode mengajar yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah metode ceramah, tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, latihan dan pemberian tugas.

e.   Pendekatan Fungsional

Pendekatan fungsional yang diterapkan di sekolah diharapkan dapat menjembatani harapan tersebut. Untuk memperlicin jalan ke arah itu, tentu saja dipergunakan metode mengajar. Dalam hal ini ada beberapa metode mengajar yang perlu dipertimbangkan, antara lain adalah metode latihan, pemberian tugas, ceramah, tanya jawab dan demontrasi.

E.      Pendekatan Keagamaan
Khususnya untuk mata pelajaran umum, sangat berkepentingan dengan pendekatan keagamaan. Hal ini dimaksudkan agar nilai budaya ilmu itu tidak sekuler, tetapi menyatu dengan nilai agama. Dengan penerapan prinsip-prinsip mengajar seperti prinsip korelasi dan sosialisasi, guru dapat menyisipkan pesan-pesan keagamaan untuk semua mata pelajaran umum. Tentu saja guru harus menguasai ajaran-ajaran agama yang sesuai dengan mata pelajaran yang dipegang. Misalnya : surah Yasiin ayat 34 dan 36 adalah bukti nyata bahwa pelajaran biologi tidak bisa dipisahkan dari ajaran agama.
Akhirnya pendekatan agama dapat membantu guru untuk memperbaiki kerdilnya jiwa agama di dalam diri siswa, yang pada akhirnya nilai-nilai agama tidak dicemoohkan dan dilecehkan, tetapi diyakini, dipahami, di hanyati dan di amalkanselama hayat siswa di kandung badan.

F.      Pendekatan Kebermaknaan
Bahasa adalah alat untuk menyampaikan dan memahami gagasan, pikiran, pendapat dan perasaan, secara lisan maupun tulisan. Bahasa Inggris adalah bahasa asing pertama di Indonesia yang dianggap penting untuk tujuan penyerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya dan pembinaan hubungan dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Dalam rangka penguasaan bahasa Inggris tidak bisa mengabaikan masalahpendekatan yang harus digunakan dalam proses belajar mengajar. Kegagalan penguasaan bahasa Inggris oleh siswa, salah satu sebabnya adalah kurang tepatnya pendekatan yang digunakan oleh guru selain faktor lain seperti faktor sejarah, fasilitas dan lingkungan serta kompetensi guru itu sendiri. Hal ini perlu dipecahkan, salah satu alternatif ke arah pemecahan masalah tersebut diajukanlah pendekatan baru, yaitu pendekatan kebermaknaan.


BAB III
KESIMPULAN



Dalam kegiatan belajar mengajar yang berlangsung telah terjadi interaksi yang bertujuan. Guru dan anak didiklah yang menggerakkannya. Ketika kegiatan belajar mengajar itu berproses, guru harus dengan ikhlas dalam bersikap dan berbuat, serta mau memahami anak didiknya dengan segala konsekuensinya. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang guru ambil dalam pengajaran. Pendekatan yang tepat maka akan berlangsung belajar mengajar yang menyenangkan.
Akhirnya, perlu diikhtisarkan bahwa ada berbagai pendekatan yang dapat dipergunakan dalam pendidikan dan pengajaran, yaitu : Pendekatan individual, pendekatan kelompok, pendekatan bervariasi, pendekatan edukatif (pendidikan), pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasional, pendekatan fungsional, pendekatan keagamaan dan pendekatan kebermaknaan.


DAFTAR PUSTAKA



Challjah Hasan, Dimensi-dimensi Psikologi Pendidikan, Al-Ikhlas, Surabaya, Cetakan I, 1994.
______ , Menjadi Guru Profesional, Remaja Rosdakarya, Bandung, Cetakan II, 1990.
______ , Psikologi Belajar Mengajar, Sinar Baru, Bandung, Cetakan, 1992.
Thomas Gordon, Guru yang Efektif Cara untuk mengatasi kesulitan dalam kelas, Disadur oleh Drs. Mudjito, M.A., Rajawali Pers, Jakarta Cetakan III, 1990.
W. James Popham Eva L. Baker, Bagaimana Mengajar secara Sistemnatis, Yogyakarta, Cetakan IV, 1992.

MAKALAH HAKIKAT, CIRI DAN KOMPONEN BELAJAR MENGAJAR

MAKALAH HAKIKAT, CIRI DAN KOMPONEN BELAJAR MENGAJAR
Pada kesempatan ini Kami akan mempublish Makalah Hakikat, Ciri dan Komponen Belajar Mengajar. Dalam dunia pendidikan, sangat erat kaitannya dengan belajar mengajar, karena pada intinya pendidikan itu terdiri atas belajar dan mengajar. 
Makalah Hakikat, Ciri dan Komponen Belajar Mengajar ini disusun dengan metode penelitian, interview, pemberian kuis dan lain-lain terhadap proses pembelajaran yang dilakukan di sebuah sekolah.

Semoga Makalah Hakikat, Ciri dan Komponen Belajar ini bermanfaat untuk semua pembaca sekalian. Ucapan terima kasih kepada semua pihak yang membantu terselesaikannya penyusunan Makalah Hakikat, Ciri dan Komponen Belajar Mengajar ini semoga mendapatkan balasan yang lebih baik dari Allah SWT.



BAB I
PENDAHULUAN



Siapapun tidak pernah menyangkal bahwa kegiatan belajar mengajar tidak berproses dalam kehampaan, tetapi penuh dengan makna. Didalamnya terdapat sejumlah norma untuk ditanamkan ke dalam ciri pribadi anak didik. 

Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan. Gurulah yang menciptakannya guna membelajarkan anak didik. Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar. Perpaduan dari kedua unsur manusiawi ini lahirilah interaksi edukatif dengan memanfaatkan bahan sebagai mediumnya. Di sana semua komponen pengajaran di perankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan. 

Sebagai kegiatan yang bernilai pendidikan (edukatif) belajar mengajar mempunyai hakikat, ciri dan komponen. Maka dari itu dalam makalah ini penyusunan mengambil judul “HAKIKAT, CIRI DAN KOMPONEN BELAJAR MENGAJAR”.


BAB II
HAKIKAT, CIRI DAN KOMPONEN
BELAJAR MENGAJAR



Sebagai guru sudah menyadari apa yang sebaiknya dilakukan untuk menciptakan kondisi belajar mengajar yang dapat mengantarkan anak didik ke tujuan pengajaran. 

Sebagai kegiatan yang bernilai edukatif, maka belajar mengajar mempunyai hakikat, ciri dan komponen. Ketiga aspek ini perlu betul guru ketahui guna menunjang tugas di medan pengabdian. Ketiga aspek tersebut adalah : 

A. Hakikat Belajar Mengajar 

Dalam kegiatan belajar mengajar, anak didik adalah sebagai subjek dan sebagai objek dari kegiatan pengajaran karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif untuk mencapinya. Keaktifan anak didik di sana tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya anak didik tidak belajar, karena anak didik tidak merasakan perubahan di dalam dirinya. 

Padahal belajar pada hakikatnya adalah “Perubahan” yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar. Walaupun pada kenyataannya tidak semua perubahan termasuk kegiatan belajar. Misalnya, perubahan fisik, mabuk, gila dan sebagainya. Akhirnya, bila hakikat belajar adalah “perubahan”, maka hakikat belajar mengajar adalah proses “perubahan” yang dilkakukan oleh guru.


B. Ciri-Ciri Belajar Mengajar 

Sebagai suatu proses perngaturan, kegiatan belajar mengajar tidak terlepas dari ciri-ciri tertentu, yang menurut Edi Suardi sebagai berikut :
  1. Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu. Inilah yang dimaksud dengan kegiatan belajar mengajar itu sadar akan tujuan, dengan menempatkan anak didik sebagai pusat perhatian.
  2. Ada suatu proses (jalannya interaksi) yang direncanakan, di desain untuk mencapai secara optimal, maka dalam melakukan interaksi perlu ada prosedur, atau langkah-langkah sistematik dan relevan.
  3. Kegiatan belajar mengajarditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus. Dalam hal ini materi harus di desain sedemikian rupa, sehingga cocok untuk mencapai tujuan.
  4. Ditandai dengan aktivitas anak didik. Sebagai konsekuensi, bahwa anak didik merupakan syarat untuk bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.
  5. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing. Dalam perannya sebagai pembimbing, guru harus berusaha menghidupkan dan memberi motivasi, agar terjadi proses interaksi yang kondusif.
  6. Dalam kegiatan belajar mengajar membutuhkan dispilin. Disiplin dalam kegiatan belajar mengajar ini diartikan sebagai suatu pola tingkah laku yang diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaati oleh pihak guru maupun anak didik dengan sadar.
  7. Ada abatas waktu. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam sistem berkelas (kelompok anak didik), batas waktu menjadi salah satu ciri yang tidak bisa ditingkatkan. Setiap tujuan akan diberi waktu tertentu, kapan tujuan itu sudah harus tercapai.
  8. Evaluasi. Dari seluruh kagiatan diatas, masalah evaluasi bagian penting yang tidak bisa diabaikan, setelah guru melakukan kegiatan belajar mengajar. Evaluasi harus guru lalkukan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran yang telah dilakukan.

C. Komponen-Komponen Belajar Mengajar 

Sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi : 

1. Tujuan
Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan yang diprogramkan tanpa tujuan, karena hal itu adalah suatu hal yang tidak memiliki kepastian dalam menentukan ke arah amana kagiatan itu akan di bawah. Akhirnya, guru tidak bisa mengabaikan masalah perumusan tujuan bila ingin memprogramkan pengajaran.

2. Bahan Pelajaran
Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa bahan pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Karena itu, guru yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikannya pada anak didik. Ada dua persoalan dalam penguasaan bahan pelajaran ini, yakni penguasaan bahan pelajaran pokok dan bahan pelajaran pelengkap. Bahan pelajaran pokok adalah bahan pelajaran yang menyangkut bidang studi yang dipegang oleh guru sesuai dengan profesinya (disiplin keilmuannya). Sedangkan bahan pelajaran pelengkap atau penunjang adalah bahan pelajaran yang dapat membuka wawasan seorang guru agar dalam mengajar dapat menunjang penyampaian bahan pelajaran pokok. Bahan penunjang ini biasanya bahan yang terlepas dari dispilin keilmuan guru, tetapi dapat digunakan sebagai penunjang dalam penyampaian bahan pelajaran pokok. Pemakaian bahan pelajaran penunjang ini harus disesuaikan dengan bahan pelajaran pokok yang dipegang agar dapat memberikan motivasi kepada sebagian besar atau semua anak didik.


3. Kegiatan Belajar Mengajar
Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkam akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar akan melibatkan semua komponen pengajaran, kegiatan belajar akan menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai.
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru dan anak didik terlibat dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai mediumnya. Dalam interaksi itu anak didiklah yang lebih aktif, bukan guru. Guru hanya berperan sebagai motivator dan fasilitator.

4. Metode
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, mereka diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila dia tidak menguasai satu pun metode mengajar yang dirumuskan dan dikemukakan para ahli psikologi dan pendidikan (Syaiful Bahri Djamarah, 1991: 72).

5. Alat
Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan dalam mencapai tujuan pengajaran, alat mempunyai fungsi, yaitu alat sebagai perlengkapan, alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan dan alat sebagai tujuan (Dr. Ahmad D. Marimba, 1989: 51).

6. Sumber Pelajaran
Yang dimaksud dengan sumber-sumber bahan dan belajar adalah sebagai sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang (Drs. Udin Saripuddin Winataputra, M.A. dan Drs. Rustana Ardiwinata, 1991: 165). Dengan demikian, sumber belajar itu merupakan bahan/materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-halbaru bagi si pelajar. Sebab pada hakikatnya belajar adalah untuk mendapatkan hal-hal baru (perubahan).

7. Evaluasi
Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu evaluation. Dalam buku Essentials of Educational Evaluation karangan Edwin Wand dan Gerald W. Brown. Dikatakan bahwa Evaluation refer to the act or prosess to determining the value of something. Jadi, menurut Wind dan Brown, evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Sesuai dengan pendapat di atas, maka menurut Wayan Nurkancana dan P.P.N. Sumartana, (1983: 1) evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai sebagai sesuatu dalam dunia pendidikan atau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan. 

Berbeda dengan pendapat tersebut, Ny. Drs. Roestiyah N.K. (1989: 85) mengatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.


BAB III
KESIMPULAN



Kegiuatan belajar mengajar merupakan kegiatan yang bernilai edukatif, maka mempunyai hakikat, ciri dan komponen. Ketiga aspek tersebut perlu betul guru ketahui dan pahami guna menunjang tugas di medan pengabdian, ketiga aspek tersebut adalah :
a. Hakikat Belajar Mengajar
b. Ciri-Ciri Belajar Menagjar
c. Komponen-Komponen Belajar Mengajar

Sebagai suatu proses pengaturan, maka kegiatan belajar mengajar memiliki ciri-ciri, yang menurut Edi Suardi adalah :
1. Belajar mengajar memiliki tujuan
2. Ada suatu prosedur yang direncanakan, didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan
3. Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus
4. Ditandai dengan aktivitas anak didik
5. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing
6. Membutuhkan disiplin
7. Ada batasan waktu, dan
8. Diadakan evaluasi (penilaian)
Demikian uraian seacara umum tentang hakikat, ciri dan komponen belajar mengajar.


DAFTAR PUSTAKA


Ad. Rooijakkers, Mengajar dengan Sukses, Gramedia, Jakarta, Cetakan VII. 1990.
Moh. Yzer Usman dan Lilis Setiawati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Remaja Rosdakarya, Bandung, Cetakan II. 1990.
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Sinar Baru, Bandung, Cetakan III. 1990.
______, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Fakultas Tarbiyah, IAIN Antasari, Banjarmasin, 1994.
Winarno Surrakhmad, Pengantar Interaksi Mengajar Belajar, Dasar Teknik Metodologi Pengajaran, Tarsito, Bandung, 1990.

Makalah Konsep Strategi Belajar Mengajar

Makalah Konsep Strategi Belajar Mengajar
Makalah Konsep strategi Belajar Mengajar ini, Kami susun untuk membantu para Akademisi dalam menemukan Konsep Strategi dalam Belajar Mengajar. Dengan Makalah Konsep Strategi Belajar Mengajar ini, diharapkan sedikit banyaknya dapat membantu dalam proses kegiatan belajar mengajar sehari-hari.

Semoga Makalah Konsep Strategi Belajar Mengajar ini bermanfaat untuk semua pengunjung yang memerlukan referensi untuk mencari cara bagaimana Konsep strategi belajar mengajar yang akan dilaksanakannya.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu, hingga Makalah Konsep Strtaegi Belajar Mengajar ini dapat kami sajikan. Semoga upaya yang telah diberikan untuk terselesainya Makalah Konsep Strtaegi Belajar Mengajar ini, akan mendapatkan balasan pahala yang lebih baik di sisi Allah SWT.
 


BAB I
PENDAHULUAN


Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif (pendidikan). Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajarannya secara sistematis dengan memanfaatkan segala sesuatunya guna kepentingan pengajaran. 

Harapan yang tidak pernah sirna dan selalu guru tuntut adalah, bagaimana bahan pelajaran yang disampaikan guru dapat dikuasai oleh anak-anak secara tuntas. Ini merupakan maslaah yang sulit yang dirasakan oleh guru. Kesulitan itu dikarenakan anak didik bukan hanya sebagai individu dengan segala keunikannya, tetapi mereka juga sebagai makhluk sosial dengan latar belakang yang berlainan. Paling sedikit ada 3 (tiga) aspek yang membedakan anak didik yang satu dengan yang lainnya, yaitu aspek intelektual, psikologis dan biologis. Ketiga aspek tersebut diakui sebagai akar permasalahan yang melahirkan bervariasinya sikap dan tingkah laku anak didik di sekolah. 

Hal itu pula yang menjadi tugas yang cukup berat bagi guru dalam mengelola kelas dengan baik, masalah lain yang juga sering dirasakan guru adalah masalah pendekatan dan media sumber belajar. Untuk itu, pengambilan metode yang tepat mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki anak didik, akan ditentukan kerelevansian penggunaan suatu metode yang sesuai dengan tujuan. Itu berarti tujuan pembelajaran akan dapat tercapai dengan penggunaan metode yang tepat, sesuai dengan standar keberhasilan yang terpatri di dalam suatu tujuan. Dengan tercapainya tujuan pembelajaran, maka dapat dikatakan bahwa guru telah berhasil dalam mengajar. 

Untuk mencapai semua itu maka guru harus memiliki dan mengetahui tentang “Konsep Strategi Belajar Mengajar” yang mencakup diantaranya :
a. Pengertian strategi belajar mengajar
b. Klasifikasi strategi belajar mengajar, dan
c. Implementasi belajar mengajar

Demikianlah beberapa permasalahan yang diuraikan secara umum dan bisa dirasakan guru. Hal ini pula yang menjadi latar belakang bagi penyusun untuk membuat makalah yang mengambil “KONSEP STRATEGI BELAJAR MENGAJAR”.


BAB II
KONSEP STRATEGI BELAJAR MENGAJAR


A. Pengertian Strategi Belajar Mengajar

Secara umum strategi mempunyai pengertian garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. 

Ada empat strategi dalam belajar mengajar yang meliputi hal-hal berikut : 

1. Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan.
2. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya.
4. Menetapkan norma-norma dan batasan minimal keberhasilan atau kriteria serta standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik buat penyempurnaan sistem intruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.

B. Klasifikasi Strategi Belajar Mengajar 

Menurut Tabrani Rusyan dkk., terdapat berbagai masalah sehubungan dengan strategi belajar mengajar yang secara keseluruhan diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Konsep Dasar Strategi Belajar Mengajar 

Seperti telah diuraikan pada pembahasan sebelumnya, bahan konsep dasar strategi belajar mengajar ini meliputi hal-hal :
a. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku
b. Menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah belajar mengajar
c. Memilih prosedur, metode dan teknik mengajar
d. Menerapkan norma dan kriteria keberhasilan belajar mengajar

2. Sasaran Kegiatan Mengajar 

Setiap kegiatan belajar mengajar mempunyai sasaran atau tujuan. Tujuan itu bertahap dan berjenjang mulai dari yang sangat operasional dan konkret, yakni tujuan intruksional khusus dan tujuan intruksional umum, tujuan kurikuler, tujuan nasional, sampai kepada tujuan yang bersifat universal.

3. Belajar Mengajar Sebagai Suatu Sistem 

Belajar mengajar selaku suatu sistem intruksional mengacu kepada pengertian sebagai seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan. 

Selaku suatu sistem, belajar mengajar meliputi suatu komponen, antara lain tujuan, bahan, siswa, guru, metode, situasi dan evaluasi. Agar tujuan itu tercapai, semua komponen yang ada harus doirganisasikan sehingga antarsesama komponen terjadi kerja sama. Karena itu, guru tidak boleh hanya memperhatikan komponen-komponen tertentu saja misalnya metode, bahan dan evaluasi saja, tetapi guru harus memperhatikan komponen secara keseluruhan.

4. Hakikat Proses Belajar Mengajar 

Belajar adalah proses perubahan perbaikan berkat pengalaman dan latihan. Artinya, tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang mengangkat pengetahuan, keteramnpilan, maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisasi atau pribadi. Kegiatan belajar mengajar seperti mengorganisasi pengalaman belajar, mengolah kegiatan belajar mengajar, menilai proses dan hasil belajar, kesemuanya termasuk dalam cakupan tanggung jawab guru. Jadi, hakikat belajar adalah perubahan.

5. Entering Behavior Siswa 

Hasil kegiatan belajar mengajar tercermin dalam perubahan perbaikan perilaku, baik secara material-subtansial, struktural-fungsional, maupun secara behavior. Yang dipersoalkan adalah kepastian bahwa tingkat prestasi yang dicapai siswa itu apakah benar merupakan hasil kegiatan belajar mengajar yang bersangkutan. Untuk kepastiannya seharusnya guru mengetahui tentang karakteristik perilaku anak didik saat mereka mau masuk sekolah dan mulai dengan kegiatan belajar mengajar dilangsungkan, tingkat dan jenis karakteristik perilaku anak didik yang telah dimilikinya ketika mau mengikuti kegiatan belajar mengajar. Itulah yang dimaksudkan dengan entering behavior siswa.

6. Pola-pola Belajar Siswa 

Robert M. Gane membedakan pola-pola belajar siswa dalam delapan tipe, yaitu : 

a. Belajar Tipe 1 : Signal Learning (Belajar Isyarat)
Signal learning dapat diartikan sebagai proses penguasaan pola-pola dasar perilaku bersifat involuatry (tidak sengaja dan tidak disadari tujuannya). Contohnya : Aba-aba “Siap!” merupakan signal atau isyarat untuk mnengambil sikap tertentu. 

b. Belajar Tipe 2 : Stimulus-Respons Learning (Belajar Stimulus-Respons)
Bila tipe diatas digolongkan dalam jenis classical condition, maka tipe belajar 2 ini termasuk ke dalam instrumental conditionius (kinble, 1961) atau belajar dengan trial and error (mencoba-coba). Contoh: Anjing dapat diajar “memberi salam”, dengan mengangkat kaki depannya bila kita katakan “kasih tangan!” atau “salam” ucapan “kasih tangan” atau “salam” merupakan stimulus yang menimbulkan respons “memberi salam” oleh anjing itu. 

c. Belajar Tipe 3 : Chaining (Rantai atau Rangkaian)
Chaining adalah belajar menghubungkan satuan ikatan S-R (Stimulus-Respons) yang satu dengan yang lain. Contoh: Dalam bahasa kita banyak contoh chaining seperti: Ibu-Bapak, kampung-halaman, selamat tinggal, dan sebagainya. Juga dalam perbuatan kita terdapat banyak chaining seperti: pulang kantor, ganti baju, makan malam, dan sebagainya. Chaining terjadi bila terbentuk hubungan antara beberapa S-R, sebab yang satu terjadi segera setelah yang satu lagi. Jadi berdasarkan hubungan (contiguity). 

d. Belajar Tipe 4 : Verbal Association (Asosiasi Verbal)
Bentuk verbal associstion yang penting sederhana adalah bila diperhatikan suatu bentuk geometris, dan si anak dapat mengatakan “bujur sangkar”, tapi sebelumnya ia harus dapat membedakan bentuk geometris agar dapat mengenal bujur sangkar sebagai salah satu bentuk geometris.

e. Belajar 5 : Distrimination Learning (Belajar Diskriminasi)
Discriminatioin learning atau belajar mengadakan pembeda. Dalam tipe ini anak didik mengadakan selkeksi dan pengujian diantara dua perangsang sejumlah stimulus yang diterimanya, kemudian memilih pola-pola respons yang dianggap paling sesuai. 

Contoh : Anak dapat mengenal berbagai merk mobil beserta namanya, walaupun tampaknya mobil itu banyak persamaan. 

f. Belajar Tipe 6 : Concept Learning (Belajar Konsep)
Concept learning adalah belajar pengertian. Dengan berdasarkan kesamaan ciri-ciri dari sekumpulan stimulus dan objek-objeknya, ia membentuk suatu pengertian atau konsep, kondisi utama yang benar diperlukan adalah menguasai kemahiran diskriminasi dan proses kognitif fundamental sebelumnya. 

Contoh : Kita dapat menyuruh anak dengan perinath “Ambilkan botol yang di tengah!”, untuk mempelajari suatu konsep, anak harus mengalami berbagai situasi dengan stimulus tertentu, dan ia pun harus dapat mengadakan diskriminasi untuk membedakan apa yang termasuk dan tidak termasuk konsep. Proses belajar konsep memakan waktu dan berlangsung secara berangsur-angsur. 

g. Belajar Tipe 7 : Rule Learning (Belajar Aturan)
Belajar aturan adalah tipe belajar yang banyak terdapat dalam p0elajaran di sekolah. Banyak aturan yang perlu diketahui oleh setiap orang yang terdidik. Aturan ini terdapat dalam tiap mata pelajaran. Misalnya, benda yang dipanaskan memuai, angin berhembus dari daerah maksimum ke daerah minimum, tiap warga negera harus setia kepada negaranya dan sebagainya. 

h. Belajar Tipe 8 : Proldem Solving (Pemecahan Masalah)
Problem solving adalah belajar memecahkan masalah. Langka-langkah dalam memecahkan masalah, adalah sebagai berikut :
1. Merumuskan dan menegaskan masalah
2. Mencari fakta pendukung dan merumuskan hipotesis
3. Mengevaluasi alternatif pemecahan yang dikembangkan
4. mengadakan pengujian atau verifikasi

7. Memilih Sistem Belajar
Para ahli teori belajar telah mencoba mengembangkan berbagai pendekatan/sistem pengajaran/proses belajar mengajar. Berbagai sistem pengajaran yang menarik akhir-akhir ini adalah :

a. Enquiry-Discovery Learning
Equiry-Discovery Learning adalah belajar mencari dan menemukan sendiri. Dalam sistem belajar ini guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk final, tetapi anak didik diberi peluang untuk mencari dan menemukannya sendiri dengan mempergunakan teknik pendekatan pemecahan masalah.

b. Ekspository Learning
Dalam sistem ini guru menyajikan dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematis dan lengkap, sehingga anak didik tinggal menyimak dan mencernanya saja secara tertib dan teratur.

c. Mastery Learning
Pada sistem ini, menurut Carol, setiap anak didik akan mampu menguasai bahan kalau diberikan waktu atau kesempatan yang cukup untuk mempelajarinya, sesuai dengan kapasitas masing-masing anak didik.

d. Humanistic Education
Karakteristik pokok metode ini antara lain bahwa guru hendaknya jangan membuat jarak terlalu tajam dengan siswa sebagai siswa senior yang selalu siap menjadi sumber atau konsultan yang bicara. Taraf akhir dari proses belajar mengajar menurut pandangan ini adalah self actualization seoptimal mungkin dari setiap anak didik.

e. Pengorganisasian Kelompok Belajar
Memperhatikan berbagai cara pendekatan atau sistem belajar mengajar seperti diuraikan di atas, disarankan pengorganisasian kelompok belajar anak adalah sebagai berikut :
  1. N1 untuk peserta yang hanya seorang, metode yang diginakan adalah konsep belajar mengajar tutorial, pengajaran berprogram dan studi individual.
  2. N2-20 untuk kelompok kecil sekitar dua sampai dua puluh orang, meto9de belajarnya bisa diskusi atau seminar.
  3. N lebih dari 40 orang, kalau kelompok belajar melebihi 40 orang, pesertanya digabung, biasanya disebut audience. Metode belajarnya adalah ceramah atau kuliah.

C. Implementasi Belajar Mengajar
Proses belajar mengajar adalah suatu aspek dari lingkungan sekolah yang diorganisasi. Lingkungan ini diatur serta diawasi agar kegiatan belajr mengajar terarah sesuai dengan tujuan pendidikan. Sehubungan dengan ini, job deskription guru dalam implementasi belajar mengajar adalah :
  1. Perencanaan Instruksional yaitu alat atau media untuk mengarahkan kegiatan-kegiatan oraganisasi belajar.
  2. Organisasi belajar yang merupakan usaha menciptakan wadah dan fasilitas-fasilitas atau lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan yang mengandung kemungkingan terciptanya proses belajar mengajar.
  3. Menggerakan anak didik yang merupakan usaha memancing, membangkitkan dan mengarahkan motivasi belajar siswa. Penggerak atau motivasi di sini pada dasarnaya mempunyai makna lebih dari pemerintah, mengarahkan, mengaktualkan dan memimpin.
  4. Supervisi dan pengawasan, yaitu usaha mengawasi menunjang, membantu, menugaskan dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan perencanaan instruksional yang telah didasari sebelumnya.
  5. Penelitian yang lebih bersifat penafsiran (assessment) yang mengandung pengertian yang lebih luas dibandingkan dengan pengukuran atau evaluasi pendidikan.
Berbagai upaya diusahakan untuk menganalisis proses pengelolaan belajar mengajar ke dalam unsur-unsur komponennya. Komponen yang dimaksud adalah : 

Berbagai upaya diusahakan untuk menganalisis proses pengelolaan belajar mengajar ke dalam unsur-unsur komponen-komponen yang dimaksud adalah :
a. Merencanakan, yaitu mempelajari masa mendatang dan menyusun rencana kerja.
b. Mengorganisasi, yaitu membuat organisasi, usaha, mengajar, tenaga kerja dan bahan.
c. Pengkoordinasikan, yaitu menyatukan dan mengkorelasikan semua kegiatan.
d. Mengawasi, memeriksa agar segala sesuatu dikerjakan sesuai dengan peraturan yang digariskan dan instruktur-instruktur yang diberikan. 

Tujuan pengajaran merupakan pangkal tolok ukur keberhasilan dalam pengajaran. Makin jelas rumusan tujuan makin mudah menyusun rencana dan mengimplementasikan kegiatan belajar mengajar dengan bimbingan guru. 

Demikian pembahasan masalah pengertian strategi belajar mengajar, klasifikasi strategi belajar mengajar dan implementasikan belajar mengajar.


BAB III
KESIMPULAN


Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif (pendidikan). Karena itu, guna sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar harus mempunyai suatu konsep strategi belajar mengajar, yang mana hal itu meliputi pengertian tentang strategi belajar mengajar, klasifikasi strategi belajar mengajar dan implementasi belajar mengajar.

Ada empat strategi dalam belajar mengajar, yaitu
1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi serta kualifikasi tingkah laku anak didik.
2. Memilih sistem pendekatan belajar yang tepat
3. Menetapkan prosedur, metode dan teknik yang tepat, dan
4. Menetapkan norma, batas minimal dan kriteria penilaian terhadap anak didik

Klasifikasi strategi belajar mengajar terbagi atas :
1. Konsep dasar strategi belajar mengajar
2. Sasaran kegiatan belajar mengajar
3. Belajar mengajar sebagai suatu sistem
4. Hakikat proses belajar mengajar
5. Entering behavior siswa
6. Pola-pola belajar siswa terbagi atas :
a. Belajar tipe 1 : Signal Learning (Belajar Isyarat)
b. Belajar tipe 2 : Stimulus-Respons Learning (Belajar Stimulus-respons)
c. Belajar tipe 3 : Chaining (Rantai atau rangkaian)
d. Belajar tipe 4 : Verbal Association (Asosiasi Verbal)
e. Belajar tipe 5 : Discrimination Learning (Belajar Diskriminasi)
f. Belajar tipe 6 : Concept Learning (Belajar Konsep)
g. Belajar tipe 7 : Rule Learning (Belajar Aturan)
h. Belajar tipe 8 : Problem Solving (Pemecahan Masalah)

Kemudian pembagian klasifikasi strategi sistem belajar yaitu, yang ke 7 (tujuh) memilih sistem belajar, pada bagian ini terdapat beberapa sistem belajar yang akhir-akhir ini dianggap menarik, yaitu :
a. Enquiry-Discovery Learning
b. Ekspository Learning
c. Mastery Learning
d. Humanistic Education, dan
e. Pengorganisasian Kelompok Belajar

Salah satu faktor yang mendukung kondisi belajar di dalam suatu kelas adalah job description proses belajar mengajar yang berisi serangkaian pengertian peristiwa belajar yang dilakukan oleh kelompok-kelompok siswa. Sehubungan dengan hal ini, job deskription guru dalam implementasi proses belajar mengajar adalah :
1. Perencanaan instruksional
2. Organisasi belajar
3. Menggerakkan semangat siswa untuk belajar
4. Melakukan supervisi dan pengawasan terhadap siswa, dan
5. Melakukan penelitian demi kepentingan evaluasi pendidikan

Upaya-upaya tersebut diatas harus disesuaiakan keadaan komponennya, komponen yang dimaksud adalah :
a. Merencanakan
b. Mengorganisasi
c. Mengkoordinasikan, dan
d. Mengawasi
Demikianlah ringkasan pembahasan masalah konsep strategi belajar mengajar yang meliputi tentang pengertian strategi belajar mengajar, klasifikasi strategi belajar mengajar dan implementasi belajar mengajar.



DAFTAR PUSTAKA


Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, Rineka Cipta, Jakarta, Cetakan I, 1991
Muhammad Ali, Guru dalam Proses Belajar Mengajar, Sinar Baru, Bandung, Cetakan VIII, 1992
M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Remaja Rosda Karya, Bandung, Cetakan V. 1991
Sudirman N, dkk, Ilmu Pendidikan, Remaja Rosda Karya, Bandung, Cetakan V, 1991
Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi belajar dan Kompetensi Guru, Usaha Nasional, Surabaya, Cetakan I, 1994

Demikian Makalah Konsep Strategi Belajar Mengajar ini, semoga bermanfaat untuk semuanya. Terima Kasih atas kunjungannya.
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda! Jangan Lupa Untuk Meninggalkan Komentar!.