Terima Kasih Atas Kunjungan Anda! Jangan Lupa Untuk Meninggalkan Komentar!.

Iklan 4

Iklan 6

Saturday, 17 April 2010

Undang-Undang Dasar 1945

UNDANG-UNDANG DASAR
NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

PEMBUKAAN
(Preambule)


Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Sunday, 11 April 2010

Karya Tulis : Alam Sekitar Kita

Mau Download Versi Microsoft Word Klik DISINI atau Pada Logo Microsoft Word Di bawah




BAB I

1.     Air
Air sangat penting bagi kehidupan kita, manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan tidak akan hidup tanpa ada air.

Asuhan Kebidanan Yang Berjudul “Syfilis“

BAB I
PENBAHULUAN


1.1      Latar Belakang
Infeksi Sifilis (lues) yang disebabkan oleh Treponema Pallidum, baik yang sudah lama maupun yang baru diderita oleh ibu, dapat ditularkan kepada janin. Sifilis kongenital merupakan bentuk penyakit sifilis yang terberat. Infeksi pada janin dapat terjadi setiap saat pada kehamilan, dengan derajat resiko infeksi yang tergantung jumlah spiroketa (treponema) di dalam tubuh ibu.

Asuhan Kebidanan Pada Ny. R dengan Post Partum Normal

BAB I
PENDAHULUAN

1.1      Latar Belakang
Persalinan merupakan suatu proses alami yang dialami setiap wanita yang memerlukan kondisi yang optimal sebelum persalinan.(Mochtar, 1998 : 11)
Persalinan merupakan suatu proses alami yang dialami setiap wanita yang memerlukan kondisi yang optimal dari alat kandungan wanita. Maka sangat diperlukan kesiapan fisik dan mental sebelum persalinan.(Mochtar, 1998 : 11)

Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin Ny. Z Dengan Robekan Perineum Derajat II

BAB I
PENDAHULUAN

1.1      Latar Belakang
Robekan perineum derajat II adalah robekan yang mengenai selaput lendir vagina dan otot perinci transversalis tetapi tidak mengenai otot sfingter ani. (Saifuddin, 2005 : 462)
Robekan perineum umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arcus pubis lebih kecil daripada biasa sehingga kepala janin terpaksa lahir lebih ke belakang daripada biasa, kepala janin melewati pintu bawah panggul dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkumferensia suboksipito bregmatika, atau anak dilahirkan dengan pembedahan vaginal. (Prawirohardjo, 2005 : 665)

Karya Tulis Ilmiah : Gambaran Karakteristik Dan Hasil Persalinan Ibu Pre Eklampsia Berat

BAB I
PENDAHULUAN

1.1      Latar Belakang
Pre eklampsia berat merupakan kesatuan penyakit, yakni yang langsung disebabkan oleh kehamilan walaupun belum jelas bagaimana hal itu terjadi, istilah suatu penyakit harus diartikan bahwa kedua peristiwa dasarnya sama dan bahwa pre eklampsia merupakan peningkatan yang lebih berat dan berbahaya dari pre eklampsia dengan tambahan gelaja-gejala tertentu. Di Indonesia pre eklampsia disamping perdarahan dan infeksi masih merupakan sebab utama kematian ibu dan sebab kematian perinatal yang tinggi. Oleh karena itu, diagnosis dini pre eklampsia yang merupakan tingkat pendahuluan eklampsia, serta penanganannya perlu segera dilaksanakan untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak sehingga tanpa disadari dalam waktu singkat dapat timbul pre eklampsia berat, bahkan eklampsia.(1)

Thursday, 8 April 2010

Proposal : Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Tanda-Tanda Bahaya Pada Masa Nifas

BAB I
PENDAHULUAN


1.1.     Latar Belakang
Tanda bahaya masa nifas adalah tanda-tanda bahaya yang terjadi pada masa nifas yang perlu diketahui oleh ibu post partum terutama yang dapat mengancam keselamatan ibu.(1)
Pengetahuan adalah proses belajar yang membentuk perilaku seseorang sehingga apa yang dilakukannya sesuai dengan apa yang diketahuinya.(2)

Proposal : Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi DPT-HB Combo Pada Bayi

A.     Latar Belakang
Salah satu indikator untuk menilai derajat kesehatan masyarakat adalah angka kematian bayi. Angka kematian bayi dan anak serta kelahiran yang tinggi masih merupakan hambatan utama dalam pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang optimal (7) . berdasarkan penelitian WHO di seluruh dunia terdapat kematian bayi khususnya neonatus sebesar 10.000.000 jiwa per tahun.

IP Tool

Seringkali kita merasa kesal apabila disaat ada pekerjaan pencetakan tiba-tiba printer cannon kita tidak bisa dipakai dan terlihat lampu indikator berkedip bergantian. Ya itu namanya Blinking atau istilah lainnya Waste Ink Absorber Full atau apapun istilah lainnya yang penting mulai saat ini jangan khawatir masalah itu membuat anda pusing lagi. Ada software yang dapat mengembalikan Waste Ink Printer Cannon ke Keadaan normal. IP Tool, Ya..... anda hanya menentukan tipe printer Cannon anda, kemudian pilih pada reset counter lalu klik reset semua masalah di atas akan langsung hilang. Software dapat di Download DISINI

Makalah Prosedur Perekrutan Pegawai

BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Penerimaan tenaga baru atau calon pegawai negeri sipil yang dilakukan di lingkungan dinas pendidikan Kabupaten Indramayu pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono – Yusuf Kalla membuka lembaran baru dari sederetan metode atau kebijakan yang diambil selama ini dalam hal perekrutan pegawai baru. Khususnya di Lingkungan Dinas Pendidikan Indramayu dilakukan dengan tanpa melalui tes dan hanya didasarkan pada masa bakti atau honorer dari calon pegawai tersebut.

Gom Player

Aplikasi yang satu ini sangat digandrungi oleh para penikmat multimedia. Bagaimana tidak, selain tampilannya yang sederhana Gom Player ternyata ada kekuatan maha dashyat yang dimilikinya. Featurnya mendukung hampir semua format multimedia, baik audio maupun video. File dengan ekstensi dat, mov, 3gp, mp4, wmv, flv, mpg, vob, mp3, ogg, wav, aac, dan lain sebagainya dapat dimainkan dengan kualitas yang baik. Hebatnya lagi Gom Player tidak berbayar alias GRATIS. Mau??? Download DISINI

Makalah Strategi Pembelajaran

STRATEGI PEMBELAJARAN

Dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2003) mengetengahkan lima model pembelajaran yang dianggap sesuai dengan tuntutan Kurikukum Berbasis Kompetensi; yaitu : (1) Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning); (2) Bermain Peran (Role Playing); (3) Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning); (4) Belajar Tuntas (Mastery Learning); dan (5) Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction). Sementara itu, Gulo (2005) memandang pentingnya strategi pembelajaran inkuiri (inquiry).

Online Dapat Dollar? Mau Dong!

Jangan jadikan waktu Online kita sia-sia tanpa ada hasil yang berguna. Program ini memberikan anda dollar setiap kali anda Online.
Setelah anda Join Anda akan menerima dollar tiap jam sebesar $ 0,01. Memang sedikit tapi lumayan buat mengganti ongkos pemakaian listrik kita.

Dapat Dollar tanpa Harus Klik

Banyak program internet gratisan yang dapat menghasilkan dollar, namun hampir semua program tersebut membutuhkan pekerjaan ekstra karena kita harus melakukan klik untuk mendatangkan dollar tersebut. Ada salah satu program yang dapat menghasilkan dollar tanpa harus melakukan Klik.
Gomez Peer Zone......

Wednesday, 7 April 2010

Makalah Materi dan Perubahannya

BAB I
PENDAHULUAN


1.1     Latar Belakang
Materi dan Perubahanya merupakan bagian dari IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) yang mempelajari sifat materi) yang mempelajari materi wujud materi dan perubahan materi. Di SMP telah kita kenal tentang materi yaitu sesuatu yang mempunyai masa dan volume serta menempati ruang. Benda-benda di sekitar kita misalnya meja, mobil buku, air dan udara juga merupakan materi karena selain menempati ruang juga mempunyai masa. Banyak cara untuk mengtahui atau mengaktifkan apakah sesuatu itu termasuk materi atau bukan.

Monday, 5 April 2010

Pinocchio

Once upon a time... a carpenter, picked up a strange lump of wood one day while mending a table. When he began to chip it, the wood started to moan. This frightened the carpenter and he decided to get rid of it at once, so he gave it to a friend called Geppetto, who wanted to make a puppet. Geppetto, a cobbler, took his lump of wood home, thinking about the name he would give his puppet.

Makalah Pengaruh Peran Serta Orang Tua Terhadap Prestasi Anak

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Penegasan Istilah
“Kebersihan sebagian daripada iman” istilah ini kerap kita ucapkan sebagai pendorong semangat untuk terus berupaya agar selalu hidup bersih. Bersih berarti terbebas dari kotoran, dalam tingkatan selanjutnya setelah bersih adalah suci.

Mengenal Skripsi Tentang Kerangka Berfikir

BAB I
PENDAHULUAN


1.1     Latar Belakang
Banyak sekali faktor yang menyebabkan seorang mahasiswa tidak mampu menyelsaikan skripsi dalam waktu yang telah ditentukan faktor tersebut diduga menjadi penyebab keterlambatan, yang meliputi faktor internal dan eksternal dari mahasiswa yang bersangkutan.

Makalah 3 Faktor Atau Cara Yang Penting Dalam Prosedur Perekrutan Pegawai

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Sebuah lembaga atau instansi yang maju didukung oleh beberapa faktor antara lain Sumber Daya Manusia, Sarana Prasarana dan Manajemen. Ketiga faktor tersebut satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan berketergantungan. Sumber Daya Manusia adalah faktor dari manusia yaitu ketenagaan, semakin tinggi tingkat sumber daya manusia ini maka semakin cepat lembaga itu berkembang dan sebaliknya.

MAKALAH PENGARUH PERAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI ANAK

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Penegasan Istilah
Pendidikan adalah usaha manusia dalam meningkatkan pengetahuan tentang alam sekitarnya. Pendidikan diawali dengan proses belajar untuk mengetahui suatu hal kemudian mengolah informasi tersebut untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Makalah Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang Masalah 
Pendidikan adalah usaha manusia dalam meningkatkan pengetahuan tentang alam sekitarnya. Pendidikan diawali dengan proses belajar untuk mengetahui suatu hal kemudian mengolah informasi tersebut untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Makalah Organisasi Masyarakat

Makalah Organisasi Masyarakat
Terima kasih atas kunjungannya, anda menemukan artikel ini dengan pencarian kata "Makalah Organisasi Masyarakat", atau sejenisnya. Semoga apa yang anda temukan bisa memberikan manfaat. Makalah Organisasi Masyarakat ini kami sajikan untuk membantu para pembuat makalah atau mahasiswa maupun umum yang mendapat tugas atau meneliti dengan judul Makalah Organisasi Masyarakat. 

Organisasi Masyarakat, sangat banyak sekali ragamnya. Hal ini menjadi sangat menarik untuk diteliti, melalui Makalah Organisasi Masyarakat, kami sedikit mengulas tentang Organisasi Masyarakat yang berkembang dan yang ada di masyarakat. Selamat menyimak.


BAB I
PENDAHULUAN


A.     Penegasan Istilah
Organisasi adalah sekumpulan orang atau kelompok untuk mencapai sutau tujuan tertentu dengan cara tertentu dan aturan tertentu. Secara umum tujuan daripada organisasi adalah untuk mencapai tujuan individu yang dilaksanakan dengan cara berkelompok.
Jenis daripada organisasi sangat beragam, seperti : oraganisasi keluarga, organisasi masyarakat, organisasi sekolah, organisasi politik, organisasi internasional dan lain sebagainya. Setiap jenis organisasi ini mempunyai tujuan dan mekanisme yang berbeda-beda.
Organisasi masyarakat adalah organisasi yang dibentuk oleh sekumpulan masyarakat dalam mencapai tujuan untuk kepentingan bersama suatu masyarakat tertentu. Organisasi ini mempunyai badan hukum yang jelas yang tertuang dalam undang-undang Dasar 1945 pasal 28.
Salah satu organisasi masyarakat yang ada misalnya : Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Pemasyarakatan Desa (LPM), Karanga Taruna, Koperasi, Kelompok Tani, Paguyuban Masyarakat, Himpunan Komunitas Masyarakat, Organisasi Kepemudaan.

B.      Latar Belakang Masalah
Timbulnya kepentingan masyarakat yang sama serta jiwa kegotong royongan yang kuat yang ada pada suatu masyarakat menyebabkan masyarakat membentuk kelompok atau badan yang beritikad untuk mencapai tujuan tersebut secara gotong royong. Istilah ringan sama dijinjing berat sama dipikul menjadi pedoman bagi mereka dalam membangun atau membentuk suatu organisasi.
Organisasi masyarakat sudah terbentuk sejak jaman penjajahan, organisasi ini bertujuan untuk mempersatukan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa serta mengusahakan kemerdekaan Indonesia. Organisasi yang terbentuk umumnya bertujuan untuk mensejahterakan anggotanya dan menngkatkan taraf hidup masyarakat.
Organisasi masyarakat selain bertujuan sebagai usaha mencapai tujuan bersama mensejahterakan anggotanya banyak pula yang bertujuan untuk ikut serta berpartisipasi dalam perpolitikan negara seperti Partai Politik dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

C.      Perumusan Masalah
Pembahasan materi ini meliputi :
a.   Apa itu Organisasi masyarakat
b.   Dasar Hukum Organisasi Masyarakat
c.   Jenis Organisasi masyarakat
d.   Tujuan Organisasi Masyarakat

D.      Alasan Pemilihan Judul
Pada kesempatan ini penulis mengambil judul “Organisasi Masyarakat” karena pada dasarnya setiap individu adalah bagian daripada masyarakat, oleh karena itu dituntut untuk ikut serta dalam setiap kegiatan dan aktifitas masyarakat. Dan sebagai upaya untuk membangun bangsa dan negara setiap masyarakat dituntut untuk memberikan buah pikir dan sumbangsih untuk negara yang salah satunya dilakukan dengan membentuk organisasi masyarakat.
Dengan organisasi masyarakat ini pula dididik untuk menjadi individu yang bertanggung jawab, berwawasan luas dan memiliki kredibilitas dalam mengemban suatu tugas. Organisasi masyarakat menjadi bagian daripada tujuan negara yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945.


E.      Tujuan Pembuatan Karya Ilmiah
Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah :
  1. Menggali informasi mengenai organisasi masyarakat sebagai sumber pengetahuan penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.
  2. Melengkapi tugas salah satu mata kuliah.
  3. Mengenalkan arti, bentuk dan fungsi organisasi masyarakat kepada pembaca.
  4. Sebagai sumbangsih pengetahuan untuk masyarakat mengenai “Organisasi Masyarakat”.
  5. Mencari sumber informasi untuk dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

F.      Sistematika Pembahasan
Dalam penulisan Karya Ilmiah ini penulis mengambil tema “Organisasi Masyarakat” yang informasinya di dapat penulis dengan cara :
1.   Observasi
2.   Tanya Jawab
3.   Referensi Buku
Dalam penyusunan ini penulois membaginya menjadi 3 (tiga) bab yaitu Bab I berisi Pendahuluan, Bab II Tema Tulisan, dan Bab III berisi penutup.


BAB II
ORGANISASI MASYARAKAT



Organisasi ialah kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh dua orang atau lebih atau beberapa pihak untuk mencapai tujuan bersama. Manusia pada hakekatnya memiliki keterbatasan dan ketergantungan dengan sesama manusia lainnya. Manusia tak dapat hidup sendiri tanpa bekerja sama. Oleh karena itu, manusia disebut juga sebagai makhluk sosial. Manusia beorganisasi tidak terbatas hanya pada lingkungan dekatnya saja, tetapi juga dapat meluas dalam pergaulan yang melampaui tempat tinggalnya. Misalnya, dalam lingkungan antartetangga, masyarakat sekitar, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta sebagai warga dunia dalam pergaulan Internasional.

Organisasi antar berbagai pihak dapat terwujud antara lain karena adanya beberapa faktor berikut :
1.   Adanya persamaan tujuan,
2.   Adanya perasaan bahwa yang satu merupakan bagian dari yang lain, dan
3.   Adanya pengakuan persamaan derajat, hak dan kewajiban.

Dalam lingkup keluarga kecil, ayah, ibu, kakek, nenek, adik, cucu, putra dan seterusnya pastilah menghendaki keluarga yang hidup sejahtera, aman dan rukun. Hal ini dapat diwujudkan apabila ada Organisasi yang baik dalam keluarga tersebut. Begitu pula seterusnya Organisasi dalam lingkungan yang lebih luas di masyarakat, demi tercapainya kehidupan yang bahagia, dan penuh kerukunan, memeliharana keamanan bersama, meningkatkan kesejahteraan bersama dan meningkatkan kebersihan lingkungan.

Sebagai warga masyarakat dan warga negara setiap manusia Indonesia harus memegang semangat kekeluargaan dan semangat gotong-royong. Hal ini berarti bahwa kita sebagai warga negara harus mengadakan organisasi dan saling membantu. Negara kita yang berasaskan kekeluargaan, menghormati hak pribadi. Sebaliknya hak pribadi itu dilaksanakan dengan memperhatikan kepentingan bersama yaitu kepentingan nasional. Oleh karena itu, kepentingan nasional yang merupakan kepentingan bersama itu harus didahulukan daripada kepentingan pribadi atau golongan.

Dalam lingkup kehidupan berbangsa dan bernegara menuju masyarakat adil dan makmur, sepatutnya diperlukan organisasi antarlembaga negara seperti Presiden dengan DPR, Badan Pemeriksa Keuangan dengan DPR dan antar lembaga tinggi negara lainnya. Begitu pula sebagai warga dunia, seperti yang diamanatkan oleh Pembukaan UUD 1945 "...ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial...",

Contoh salah satu organisasi masyarakat yang ada di sekitar kita antara lain: Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Karang Taruna dan lain sebagainya. Kesemuanya merupakan pembentukan dari setiap individu untuk tujuan yang sama. Indonesia berperan aktif dalam pembentukan dan pelaksanaan program-program di Iingkungan ASEAN (Association of South East Asian Nations), Gerakan Non Blok (Non Aligment Movement) dan Perserikatan BangsaBangsa (PBB).

Dalam Pembukaan UUD 1945 dinyatakan bahwa negara Republik Indonesia berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemudian dalam Pasal 29 UUD 1945, dinyatakan bahwa (1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa; (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamnya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Kebebasan beragama dijamin sepenuhnya oleh negara. Oleh lcarena itu di dalam kehidupan masyarakat di Indonesia hendaknya ditumbuhkan dan dikembangkan sikap saling menghormati dan saling organisasi antarumat beragama serta sikap toleransi.

Setiap ajaran agama mendorong para pemeluknya untuk membangun dan mengolah alam anugerah Tuhan. Tidak ada satu agama yang melarang orang beorganisasi dengan orang lain yang berbeda agama dalam membangun masyarakat. Misalnya, bahu membahu menolong korban bencana alam, kerja bakti sosial, menyelenggarakan pendidikan sebagai salah satu wmjud mencerdaskan kehidupan bangsa, dan sebagainya.

Organisasi antarumat beragama adalah wajud kepedulian urnat beragama dalam masalah-masalah bangsa. Apabila timbul permasalahan dalam kehidupan masyarakat para tokoh agama bersama-sama mempelajari masalah-masalah yang timbul dalam masyarakat, seperti masalah kemiskinan, masalah suku-suku terasing di daerah pedalaman, dan masalah kenakalan remaja. Melalui usaha bersama ini, berarti para pemeluk agama berusaha memberikan sumbangan yang nyata dalam rangka pembangunan nasional.

Dalam melaksanakan organisasi, kita tetap harus berpegang teguh pada ketentuan-ketentuan yang berlaku pada. agama masing-masing. Apabila pada masa perjuangan kemerdekaan tahun 1945 seluruh rakyat Indonesia mampu beorganisasi dengan baik dan berhasil mencapai kemerdekaan, maka dalam masa pembangunan untuk mengisi kemerdekaan, kita harus mampu mewujudkan tujuan pembangunan nasional sebagaimana yang dicita-citakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Kita harus sadar bahwa berhasilnya pembangunan nasional bergantung pada partisipasi seluruh rakyat serta pada sikap mental, tekad dan semangat, ketaatan disiplin seluruh rakyat Indonesia serta para penyelenggara negara. Hal ini berarti bahwa antara rakyat dengan Pemerintah harus selalu dapat bekerja sama dalam melaksanakan pembangunan.

Kerja sama antara semua unsur dalam negara akan mampu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang merata material dan spiritual dalam wadah negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.


BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Organisasi ialah kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh dua orang atau lebih atau beberapa pihak untuk mencapai tujuan bersama. Manusia pada hakekatnya memiliki keterbatasan dan ketergantungan dengan sesama manusia lainnya. Manusia tak dapat hidup sendiri tanpa bekerja sama. Oleh karena itu, manusia disebut juga sebagai makhluk sosial. 
Dalam melaksanakan organisasi, kita tetap harus berpegang teguh pada ketentuan-ketentuan yang berlaku pada. agama masing-masing. Apabila pada masa perjuangan kemerdekaan tahun 1945 seluruh rakyat Indonesia mampu beorganisasi dengan baik dan berhasil mencapai kemerdekaan, maka dalam masa pembangunan untuk mengisi kemerdekaan, kita harus mampu mewujudkan tujuan pembangunan nasional sebagaimana yang dicita-citakan oleh seluruh rakyat Indonesia. 
Kerja sama antara semua unsur dalam negara akan mampu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang merata material dan spiritual dalam wadah negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. 
Contoh salah satu organisasi masyarakat yang ada di sekitar kita antara lain: Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Karang Taruna dan lain sebagainya. Kesemuanya merupakan pembentukan dari setiap individu untuk tujuan yang sama. Indonesia berperan aktif dalam pembentukan dan pelaksanaan program-program di Iingkungan ASEAN (Association of South East Asian Nations), Gerakan Non Blok (Non Aligment Movement) dan Perserikatan BangsaBangsa (PBB).


B.      Saran
Untuk peningkatan organisasi masyarakat yang berkualitas, maka saran yang penulis berikan antara lain :
  1. Memberikan pengertian dasar kepada masyarakat tentang arti Organisasi Masyarakat.
  2. Pemerintah memberikan kebebasan bertanggung jawab kepada masyarakat untuk mengembangkan organisasi masyarakat.
  3. Masyarakat hendaknya berfikiran kritis terhadap realita yang ada di masyarakat sehingga dapat ditampung saran dan pendapatnya.

Meneladani Sahabat Nabi Abu Bakar Ash-Shiddiq

Meneladani Sahabat Nabi Abu Bakar Ash-Shiddiq
Pada Kesempatan kali ini Kami akan mengangkat biografi sahabat Nabi Muhammad SAW, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq. Seorang sahabat Nabi yang mula-mula masuk Islam, di kala orang lain masih meragukan risalah Nabi. Dan beliau pula yang paling percaya akan peristiwa Isra Mi'raj Nabi, dikala orang lain mendustakan dan menentangnya. 

Melalui Beliau pula, banyak perjuangan kaum muslimin yang mencapai kemenangan dan kesuksesan yang terang benderang. Seluruh harta dan jiwanya dikorbankan untuk kemajuan Islam. Beliau pula orang yang paling dekat dengan Rasulullah SAW. Baiklah, untuk lebih menyingkatkan kata, langsung kita simak saja ulasan berikut.

A.     Abu Bakar sebelum masuk Islam
Abu Bakar bernama asli Abdullah bin Usman bin Amir. Ia dilahirkan pada tahun 573 M dari seorang ayah yang bernama Quhafah dan seorang ibu yang bernama Umul Khair Salman binti khair. Nama Abu bakar merupakan nama kinayahnya karena ia adalah orang yang pertama kali masuk islam yang diambil dari bahasa arab bukron yang artinya pagi-pagi adapun gelar Ash-shiddiq didapatkannya karena ia adalah orang yang membenarkan peristiwa isra mi’raj Nabi Muhammad Saw.
Sebelum masuk islam, Abu Bakar adalah seorabg pedagang. Setelah masuk islam, ia begitu cepat menjadi anggota yang paling menonjoldalam jamaah islam setelah Nabi. Ia terkenal karena keteguhan pendirian, kekuatan iman, kesetiaan, dan kebijakan pendapatnya. Kalaupu ia hanya sekali dua kali diangkat sebagai panglima perang tidak seperti Ali bin Abi thalibyang sanga lincah dalam memimpim peperangan , halitu barang kali disebabkan Nabi menghendaki agar Abu bakar mendampinginya untuk bertukar pendapat atau berunding.

B.      Sistem Pengangkatan Abu Bakar
Dengan wafatnya Nabi Muhammad pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 H bertepatan dengan 3 juni 632 M maka berakhirlah situasi yang sangat unik dalam sejarah umat islam, yakni kehadiran seorang pemimpin tunggal yang memiliki otoritas spiritual dan temporal yang berdasarkan kenabian yang bersumber dari wahyu ilahi, kewafatan Nabi membawa masalah yang sangat pelik bagi umatnya , sementara beliau tidak wasiat tentang siapayang akan menggantikannya sebagai pemimpin umat. Dalam Al-quran dan sunah tidak terdapat tuntunan tentang bagaimana cara menentukan pimpinan mereka, yaitu siapa yang berhak menggantikan kedudukan nabi Muhammad sebagai penerus perjuangan islam. 
Adapun sistem pengangkatan Abu bakar sebagai khalifah pertama itu melalui pemilihan yang terjadi secara darurat yaitu dalam suatu pertemuan yang berlangsung pada hari kedua setelah Nabi wafat dan sebelum jenazah beliau damakamkan. 
Ketika sebagian para sahabat merundingkan proses pemakaman Nabi Muhammad, Umar bin Khatab mendengar bahwa kelompok golongan Anshar sedang melakukan pertemuan di Saqifah Bani Sa’idah di Madinah untuk mengangkat Sa’ad bin Ubadah, seorang tokoh Anshor dari suku Khazraj, untuk menjadikan khalifah. Setelah Umar mendengar hal tersebut Umar datang menemui Abu Bakar untuk keluar, semula Abu Bakar menolak karena beliau sedang sibuk mempersiapkan pemakaman Nabi, tetapi beliau akhirnya memenuhi panggilan Umar, segera beliau datang ke Saqifah Bani Sa’idah bersama dengan Abu Ubaidah bin Jarrah seorang senior dari muhajirin.
Setelah mereka datang kesana telah terjadi pertempuran sengit antara golongan Anshar dan golongan Muhajirin, masing-masing merasa berhak untuk menggantikan kedudukan sebagai khalifah Nabi dengan memgajukan berbagai argumen dan jasa masing-masing terhadap islam. 
Golongan anshar yang diwakili oleh Sa’ad bin Ubadah berpidato mengajukan argumentasi tentang keutamaan dan peranan golonhan Anshar dalam 

membela perjuangan Rasulallah, sehingga Rosul berhasl menaklukan Makkah dan menyebarkan islam diseluruh semenanjung Arabia, yang tiada lain itu berkat pertolongan kaum Anshar, karena itu sangat layak bahwa kekhalifaan menjadi hak golongan ini. Mendengar pidato tersebut kaum anshar mengusulkan Sa’ad bin Ubadah sebagai khalifah. 
Kaum Muhajirin juga mengajukan argmentasi bahwa merekalah yang pertama-tama mendukung perjuangan Rasulallah sehinggaislam berkembang dari jumlah yang sangat kecil menjadi kekuatan yang besar. Golongan ini yang mengajukan argumentasi bahwa Nabi pernah bersabda”Pemimpin itu dari golongan Quraisy” serta perinah nabi kepda Abu Bakar untuk menjadi imam pada pelaksanaan shalat berjamaah. Argumentasi Muhajiri yang menghubungkan kapada Nabi Muhammad berhasil bukan saja menutup kesempatan golongan Anshar, tetapi juga diterima sebagai ajaran politik ajaran islam sampai beberapa abad kemudian. 
Ada salah seorang dari golongan Anshar yang mengusulkan untuk mengajukan masing-masing satu pemimpin, tetapi hal tersebut tidak disetujui oleh para sahabat, terutama oleh Umar bin Khattab dengan Abu Ubaidah sebagai pemimpin yang dipilih sebagai pemimpin untuk dipilih sebagai khalifah Umar tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, ia bergarak dan menghampiri Abu Bakar untuk membai’atnya sebagai khalifah Rasulallah dan menyatakan kesetiaanya kepadanya, lalu umar mengajukan argumentasi bahwa Abu Bakarlah yang layak untuk dipilih karena ia adalah orang yang menemani Rasul dalam gua Tsur dan yang ditunjuk oleh Rasul sebagai pengganti imam shalat berjamaah. 
Bai’at Umar merupakan titik awal dari sebuah perjalanan suksesi dalam masyarakat islam, karena bai’at tersebut diikuti oleh para hadirin yang berada di Saqifah Bani sa’idah baik dari golongan Muhajirin maupun dari golongan Anshar. Pembai’atan tersebut diikuti dengan bai’at umum, sebagai legalisasi rakyat terhadap Abu Bakar. 
Abu Bakar terpilih sebagai pengganti Rasulallah dan dibai’at oleh seluruh umat. Keluarga dekat rasulallah tidak mengikuti prosesi suksesi kepemimpinan itu karena sibuk mengurusi janazah dan penguburan Nabi. Bahkan Ali baru menyatakan bai’atnya sesudah istrinya, fatimah wafat, lebih kurang 75 hari sesudah Nabi wafat namun demikian Abu Baakar tidak melihat dan mengalami oposisi terbuka dan yang lebih berarti terhadap keabsahan kepemimpinannya baik Ali bin Abi Thalib r.a maupun dari keluarga dekat Nabi yang lain. 
Sewaktu Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, sebagai pengganti Nabi mengepalai negara Madinah.


C.      Pengembangan, pembangunan dan perluasan wlayah
Kepemmpinan Abu Bakar dimulai setelah dilakukan dua bai’at (sumpah seti) pertam, bai’at dilakukan olh kalangan terkemuka dari kalangan Muhajirin dan Anshar di Saqifah Bani Sa’idah; kedua, bai’at umum yang dilakukan oleh umat islam yang hadir di masjid.
Di awal kepemimpinan, Abu Bakar dihadapkan pada ikhtilaf antara dirinya dengan Fatimah, putri Rasullah. Dan Ali bin Abi Thalib mengenai warisan Nabi. Oleh karena itu, Fatimah tidak dapat memperoleh harta peninggalan dari Nabi. Dan Ali bin Abi Thalib tidak membai’at Abu Bakar kecuali setelah isrtinya, Fatimah meninggal dunia. Selama memimpin umat islam, Abu Bakar dihadapkan kepada beberapa persoalan keagamaan dan kenegaraan.
a.      Penolakan Zakat
Suku atau kabilah yang menolak zakat adalah Abs dan Sufyan. Penolakan mereka menurut Muhammad Husain Haikal kemungkinan didasarkan pada dua alasan: kikir atau karena mereka mengannggap bahwa zakat merupakan upeti yang tidak berlaku lagi ketika Nabi wafat. Disamping itu, mereka juga menunjukan sikap politik pembangkangan, yaitumereka menyatakan tidak tundak lagi kapada Abu Bakar. Jadi, penolakan pembayaran zakat merupakan symbol ketidak tundukan secara politik. Abu Bakar dihadapkan pada situasi sulit, dan akhirnya dadakan musyawarah yang dihadiri para sahabat besar untuk mengatasi para pembangkang. Dalam musyawarah tersebut muncul dua pendapat: pertama, membiarkan mereka dan diharapkan dapat membantu umat islam dalam menghadapi musuh lain dan berarti mentolelir pembangkangan; kedua, memerangi mereka berarti tidak mentolelir pembangkangan dan sekaligus menambah musuh umat islam. Umar cenderung untuk tidak memerang mereka; sedangkan Abu Bakar bersikukuh akan memerangi mereka. Kabilah Abs, Zufyan, Banu Kinanah, Gatafan, dan Fazarah mengutus utusan kepada Abu Bakar dengan mengatakan bahwa kami akan melaksanakan shalat tapi tidak akan menunaikan zakat. Abu Bakar menjawab bahwa ia akan memerangi siapapun yang tidak menunaikan zakat.

b.      Memerangi kemurtadan
kepribadian Nabi Muhannad yang dinamis menyebabkan seluruh bangsa arab bersatu. Di samping itu, banyak suku Arab yang menganggap bahwa persetujuan mereka dengan Nabi sebagai persetujuan pribadi yang berakhir dengan wafatnya Nabi. Segara setelah kabar tentang wafatnya Nabi telah sampai ke luar negeri, unsure-unsur yang tidak mau nurut mulai bangkit. Sejumlah suku mulai melepaskan diri dari kekuasaan Madinah dan menolak perintahnya. Sebagian di antara mereka bahkan menolak islam, hal itu merupakan hal yang gawat. Islam tidak pernah masuk ke dalam hati orang-orang badui. 
Bertambahnya orang yng masuk islam setelah takluknya Mekkah begitu cepat sehingga Nabi mampu berbuat banyak untuk mengajari orang-orang yang baru masuk islam. Beliau hanya mampu menghimpun orang-orang inti yang berpengalaman yang benar-benar telah mengerti prinsip-prinsip revolusi, tetapi tempat-tempat yang jauh di Arabia itu tidak bisa segara dididik karena Nabi tidak hidup cukup lama untuk membuat persiapan-persiapan yang perlu. Secara fisik tidaklah mungkin, di dalam waktu beberapa bulan setelah penaklukan Mekkah Nabi dapat mengatur pendidikan atau latihan bagi masyarakat-masyarakat yang terpencar di seluruh wilayah yang luas. Orang-orang yang datang kepada Nabi sebagai utusan suku-suku padang pasir yang jauh ini, membawa pulang kesan yang mendalam tentang islam, tetapi mereka hanyalah setitik air di samudra. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa setelah wafatnya Nabi mereka melepaskan diri dari kekuasaan islam. 
Secara politik, suatu pemerintah yang terpusat, yang menuntut dan menerima kesetiaan orang-orang, belum dikenal di Arabia, yang suku-sukunya hidup dalam kebebasan yang sempurna. Lebih-lebih, suku-suku Arab benci terhadap Madina, ibu kota imperium islam pada waktu itu. Kepemimpinan Madinah jadi tek tertahankan oleh semangat gegas suku-suku Arab. 
Bangsa Arab tidak bisa menyesuaikan diri dengan aturan-aturan moral islam yang kers itu, prinsip-prinsip yang kuat yang didukung oleh islam dan ketaatan terhadap upacara-upacara agama, seperti shalat lima waktu, ibadah puasa di bulan Ramadhan, pembayaran zakat, larangan meminum khamer dan berjudi, serta ikatan-ikatan perkawinan, sungguh sangt membantu orang Arab yang berpikik bebas, yang hany adiam takut kepada Nabi. 
Banyak calon baru untuk kenabian yang, karena menganggap jabatan kenabian itu sangat menguntungkan, menyatakan diri sebagai nabi dan menarik hati orang-orang dengan membebaskan prinsip-prinsip moral dan upacara agama, seperti menyatakan minum-minuman keras dan berjudi adalah halal, pelksanaan shalat mereka dikurangi, puasa ramadhan dihapuskan sama sekali, pembatasan-pembatasan dalam perkawinan ditiadakan, dan pembayaran zakat dijadikan suka rela.

c.      Nabi Palsu dan Riddat
Pada zaman kepemimpinan Abu Bakar terdapat sejumlah umat islam yang melakukan pelanggaran agama dengan mengaku sebagai nabi seperti Musailamah al-kadzadzab (Musailamah sang pembohong) dan beberapa suku yang murtad.sejumlah negeri yang penduduknya myrtad dijadikan sasaran oleh Abu Bakar dalam rangka mengembalikan mereka kepada islam: Ikrimah ibn Jahl diutus ke Aman, Almuhajir ibn Abi Umayah diutus ke Nujair, dan Ziad ibn Lubaid diutus kebeberapa daerah yang terdapat orang yang murtad. Disamping itu, Abu Bakar juga telah memperluas wilayah dengan menaklukan Irak dan Syam; dan bahkan sudah mulai bertempur melawan Byzantium(Romawi). 
Khalifah Abu Bakar telah meletakan peraturan berperang yang dijadikan pegangan bagi para perwira militer dan pejabat lainnya. Diantara peraturan tersebut adalah:
a. Orang Tua, wanita, dan anak-anak tidak boleh dibunuh
b. Biarawan tidak boleh dianianya dan tempat ibadah nereka tidak boleh dirusak
c. Mayat yang gugur tidak boleh dirusak
d. Pohon-pohon tidak boleh ditebang, hasil panen tidak boleh dibakar, dan tempat tinggal tidak boleh dirusak.
e. Perjanjian-perjanjian dengan agama lain harus dihormati
f. Orang-orang yang menyerah harus diberi hak yang sama dengan hak-hak penduduk islam.

d.      Pembagian Wilayah
Pada masa kepemimpinan Abu Bakar, perluasan wilayah telah dilakukan dan disetiap wilayah dibentuk semacam gubernur(penguasa daerah)yang memerintah pada wilayah tertentu yang disertai dengan pasukan perang.pada akhir tahun 12 H., Abu Bakar memilih empat panglima terbaik untuk memerintah didaerah:
a.  Anr ibn Al-ash dikirim dan memeerintah di Palestina
b.  Yazid ibn Abi Sufyan dikirim dan memerintah di Damaskus
c.  Abu Ubaidah ibn Al-jarah dikirim dan memerintah di Himsh
d.  Syurahbil ibn Hasnah dikirim dan memerintah di Ardan. 

Pada zaman khalifah Abu Bakar telah ada tiga gelar kepemimpinan yang didasarkan pada cakupan wilayah. Pemimpin polotik umat islam tertinggi disebut khalifah. Pemimpin wilayah disebut wali dan amir. Tidak terdapat penjelasan yang rinci mengenai perbedaan wilayah dipimpin oleh wali dan amir.

e.      Pengumpulan Mushhaf Al-quran
Perang Yamamah merupakan perang dalam mengatasi oramg-orang murtad yang menghawatirkan Umar. Ia khawatir karena dalam perang yamamah terdapat 12000 tentara islam yang gugur syahid dan 39 orang diantaranya adalah sahabat besar yang hafal al-quran. Kekhawatiran Umar mendorng dirinya untuk memberikan usul kepada khalifah Abu Bakaragar mengumpulkan Al-quan dengan alasan bahwa dengan wafatnya para penghafal Al-quran, berarti pelestarian Al-quan telah rusak dan penyelamatannya adalah dengan menilis dan mengu,pulkan mshhaf. 
Perdebatan terjadi antara Umar dengan Abu Bakar. Umar bertahan dengan argumennya, Abu Bakar pada awalnya menolak gagasan tersebut dengan alasan pengumpulan Al-quran tidak dilakukan oleh Nabi. Perbedaan antara Umar dan Abu Bakar diatasi oleh Zaid ibn Stabit dengan menyetujui gagasan Umar yakni mengumpulkan Al-quran.
Kelebihan pengumpulan Al-quran pada fase ini terletak pada dua peristiwa: pertama, pada waktu itu ditemukan ayat Al-quran yang hanya ada di tangan Khuzaimah ibnStabit al-Anshari yang tidak terdapat dalam tulisan ulama yang lain, yaitu QS. At-taubah (9): 128-129, kedua, ditemukannya QS. Al-ahzab (33): 23 yang juga hanya ada di tangan Khuzaimah. 
Lembaran-lembaran yang berisi tulisan Al-quran yang telah dikumpulkan, disimpan di sisi Abu Bakar hingga beliau wafat. Menurut Abu Abdullah al-janjani pengumpulan Al-quran pada zaman Abu Bakar dilakukan dengan cara mengumpulkan ayat-ayat Al-quran yang ditulis di tulang, pelepah kayu, dan bebatuan kemudain disalin oleh Zaid ibn Stabit di atas kulit hewan yang telah disamak.
D.      Wafatnya Abu Bakar
Abu Bakar jatuh sakit dalam musim panas tahun 534 M, dan selama 15 hari ia berbaring di tempat tidur. Khalifah ingin sekali memyelesaikan masalah penggantian dan mencalonan seoarang pengganti, kalau-kalau hal itu akan melibatkan rakyatnya ke dalam suatu perang saudara. Meskipun dari pengalamannya Abu Bakar benar-benar yakin bahwa tidak ada seorang pun kecuali Umar bin khattab yang dapat mengambil tanggung jawab kekhalifaan yang berat itu, karena masih ingin menggembleng pendapat umum, dia bermusyawarah dengan para sahabat yang terpandang. 
Thabari menulis bahwa Abu Bakar naik ke tas balkon rumahnya dan berbicara kepada banyak orang yang berkerumun di bawah dan berkata “Apakah kalian akan menerima orang yang saya calonkan sebagai pengganti saya?” kata khalifah” Saya bersumpah bahwa saya melakukan yang terbaik dalam hal ini, dan saya telah memilih Umar bin Khattab sebagai pengganti saya.”mereka semua berkata serempak “kami telah mendengar anda dan kami akan mentaati anda.” 
Kemudian ia memanggil Umar dan mendiktekan teks perintah yang menunjukan Umar sebagai penggantinya. Ia meninggal dunia pada hari Senin tanggal 23 Agustus 624 M. shalat jenazah dipimpin oleh Umar, dan ia dikuburkan di rumah Aisyah di samping makam Nabi. Ia berusia 63 tahun ktika meninggal dunia, dan kekhalifahannya berlangsung selama 2 tahun 3 bulan dan 11 hari.

Makalah Berbagai Pendekatan Dalam Belajar Mengajar

Makalah Berbagai Pendekatan Dalam Belajar Mengajar
Selamat datang, kami ucapkan kepada anda yang sudah menemukan Artikel kami. Pada kesempatan ini Kami akan menyuguhkan informasi mengenai Contoh Makalah Berbagai Pendekatan Dalam Belajar Mengajar. Dalam pembelajaran yang ada di lapangan, tentunya banyak pendekatan-pendekatan yang dilakukan untuk mensukseskan tujuan pendidikan. Pendekatan ini dilakukan menurut cara belajar masing-masing jenjang pendidikan. Jenjang TK, SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi menerapkan pendekatan yang berbeda-beda.

Di dalam Makalah Berbagai Pendekatan Dalam Belajar Mengajar ini menguraikan tentang Pendekatan Belajar mengajar secara umum dan khusus. Semoga ada informasi yang bisa diambil untuk melengkapi referensi anda dalam mencari Berbagai Pendekatan Dalam Belajar Mengajar. Semoga Makalah Berbagai Pendekatan Dalam Belajar Mengajar dapat bermanfaat. Terima kasih atas kunjungan Anda.


BAB I
PENDAHULUAN



Dalam kegiatan belajar mengajar yang berlangsung telah terjadi interaksi yang bertujuan. Guru dan anak didiklah yang menggerakkannya. Interaksi yang bertujuan itu disebabkan gurulah yang memaknainya dengan menciptakan lingkungan yang bernilai edukatif demi kepentingan anak didik dalam belajar.

Guru ingin memberikan layanan yang terbaik bagi anak didik, dengan menyediakan lingkungan yang menyenangkan dan menggairahkan. Guru berusaha menjadi pembimbing yang baik dengan peranan yang aktif dan bijaksana, sehingga tercipta hubungan dua arah yang harmonis antara guru dan anak didik.

Dalam mengajar, guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana, bukan sembarangan yang bisa merugikan anak didik. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam menilai anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang diambil guru dalam melakukan pengajaran.

Oleh karena itu, sebelum guru melakukan pengajaran diharapkan telah mengetahui pendekatan yang diambil adalah tepat untuk anak didiknya. Supaya proses belajar mengajar bisa berjalan lancar. Maka dalam hal ini penyusun mengambil judul “Berbagai Pendekatan Dalam Belajar Mengajar”, karena penyusun melihat pendekatan yang tepat dapat menyampaikan tujuan pembelajaran dan pendekatan dalam belajar mengajar harus dapat diketahui dan dipahami guru.

BAB II
BERBAGAI PENDEKATAN DALAM
BELAJAR MENGAJAR


Guru yang memandang anak didik sebagai pribadi yang berbeda dengan anak didik lainnya akan berbeda dengan guru yang memandang anak didik sebagai makhluk yang sama dan tidak ada perbedaan dalam segala hal. Maka adalah penting meluruskan pandangan yang keliru dalam menilai anak didik. Sebaiknya guru memandang anak didik sebagai individu dengan segala perbedaan, sehingga mudah melakukan pendekatan dalam pengajaran. Ada beberapa pendekatan yang diajukan dalam pembicaraan ini dengan harapan dapat membantu guru dalam memecahkan berbagai maslaah dalam kegiatan belajar mengajar. Demi jelasnya ikutilah uraian berikut.

A.      Pendekatan Individual
Pendekatan individual merupakan pendekatan langsung dilakukan guru terhadap anak didiknya untuk memecahkan kasus anak didiknya tersebut.
Pendekatan individual mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendekatan individual ini. Pemilihan metode tidak bisa begitu saja mengabaikan kegunaan pendekatan individual, sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya selalu saja melakukan pendekatan individual terhadap anak didik di kelas. Persoalan kesulitan belajar anak lebih mudah dipecahkan dengan menggunakan pendekatan individual, walaupun suatu saat pendekatan kelompok diperlukan.

B.      Pendekatan Kelompok
Pendekatan kelompok merupakan pendekatan yang dilakukan guru dengan cara mengelompokkan anak didiknya sesuai dengan kriterianya demi tercapainya kegiatan belajar mengajar.
Ketika guru inhin menggunakan pendekatan kelompok, maka guru harus sudah mempertimbangkan bahwa hal itu tidak bertentangan dengan tujuan. Fasilitas belajar pendukung, metode yang akan dipakai sudah dikuasai, dan bahan yang akan diberikan kepada anak didik memang cocok didekati dengan pendekatan kelompok. Karena itu, pendekatan kelompok tidak bisa dilakukan seacara sembarangan, tetapi harus mempertimbangkan hal-hal lain yang ikut mempengaruhi penggunaannya.

C.      Pendekatan Bervariasi
Ketika guru dihadapkan kepada permasalahan anak didik yang bermasalah, maka guru akan berhadapan dengan permasalahan anak didik yang bervariasi. Setiap masalah yang dihadapi oleh anak didik tidak selalu sama, terkadang ada perbedaan.
Permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didik biasanya bervariasi, maka pendekatan yang digunakan pun akan lebih tepat dengan pendekatan bervariasi pula. Misalnya, anak didik yang tidak disiplin dan anak didik yang suka berbicara akan berbeda pemecahannya dan menghendaki pendekatan yang berbeda-beda pula. Demikian juga halnya terhadap anak didik yang membuat keribuatan. Guru tidak bisa menggunakan teknik pemecahan yang sama untuk memecahkan permasalahan yang lain. Kalaupun ada, itu hanya pada kasus tertentu. Perbedaan dalam teknik pemecahan kasus itulah dalam pembicaraan ini didekati dengan “pendekatan bervariasi”.

D.      Pendekatan Edukatif
Apa pun yang guru lakukan dalam pendidikan dan pengajaran dengan tujuan untuk mendidik, bukan karena motif-motif lain, seperti dendam, gengsi, ingin ditakuti dan sebagainya.
Anak didik yang telah melakukan kesalahan, yakni membuat keribuatan di kelas ketika guru sedang memberikan pelajaran, misalnya, tidak tepat diberikan sanksi hukum dengan cara memukul badannya hingga luka atau cidera. Ini adalah tindakan sanksi hukum yang tidak bernilai pendidikan. Guru telah melakukan pendekatan yang salah. Guru telah menggunakan teori power, yakni teori kekuasaan untuk menundukkan orang lain. Dalam pendidikan, guru akan kurang arif dan bijaksana bila menggunakan kekuasaan, karena hal itu bisa merugikan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak didik. Pendekatan yang benar bagi guru adalah dengan melakukan pendekatan edukatif adalah setiap tindakan, sikap, dan perbuatan yang guru lakukan harus bernilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik anak didik agar menghargai norma hukum, norma susila, norma moral, norma sosial dan norma agama.
Selain berbagai pendekatan yang disebabkan di depan, ada lagi pendekatan-pendekatan lain. Berdasarkan kurikulum atau Garis-garis Besar Program Pengajaran (GHBP) Pendidikan Agama Islam SLTP Tahun 1994 disebutkan lima macam pendekatan untuk pendidikan agama Islam, yaitu :
a.   Pendekatan Pengalaman
Meskipun pengalaman diperlukan dan selalu dicari selama hidup, namun tidak semua pengalaman tidak bersifat mendidik (edukative experience), karena ada pengalaman yang tidak bersifat mendidik (misedukative experience). Suatu pengalaman dikatakan tidak mendidik, jika guru tidak membawa anak ke arah tujuan pendidikan, akan tetapi mengyelewengkan dari tujuan itu, misalnya “mendidik anak menjadi pencopet”. Karena itu, ciri-ciri pengalaman yang edukatif adalah berpusat pada suatu tujuan yang berarti bagi anak (meaningful), kontinu dengan kehidupan anak, interaktif dengan lingkungan dan menambah integrasi anak. Demikianlah pendapat Witherington.

b.   Pendekatan Pembiasaan

Menanamkan kebiasaan yang baik memang tidak mudah dan kadang-kadang makan waktu yang lama. Tetapi sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sukar pula untuk mengubahnya. Maka adalah penting, pada awal kehidupan anak, menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik saja dan jangan sekali-kali mendidik anak berdusta, tidak disiplin, suka berkelahi dan sebagainya. Tetapi tanamkanlah kebiasaan seperti ikhlas melakukan puasa, gemar menolong orang yang kesukaraan, suka membantu fikir dan miskin, gemar melakukan salat lima waktu, aktif berpartisipasi dalam kegiatan yang baik-baik, dan sebagainya. Maka dari itu pengaruh lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat tidak bisa dielakkan dalam hal ini.

c.   Pendekatan Emosional

Emosi mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan kepribadian seseorang. Itulah sebabnya pendekatan emosional yang berdasarkan emosi atau perasaan dijadikan sebagai salah satu pendekatan dalam pendidikan dan pengajaran, terutama untuk pendidikan agama Islam. Pendekatan emosional dimaksudkan di sini adalah suatu usaha untuk menggugah perasaan dan emosi siswa dalam meyakini, memahami dan menghayati ajaran agamanya. Dengan pendekatan ini diusahakan selalu mengembangkan perasaan keagamaan siswa agar bertambah kuat keyakinannya akan kebesaran Allah SWT. dan kebenaran ajaran agamanya. Untuk mendukung tercapainya tujuan dari pendekatan emosional ini, metode mengajar yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah metode ceramah, bercerita dan sosiodrama.
d.   Pendekatan Rasional

Karena kemampuhan akal (rasio) itulah akhirnya dijadikan pendekatan yang disebut pendekatan rasional guna kepentingan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Untuk mendukung pemakaian pendekatan ini, maka metode mengajar yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah metode ceramah, tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, latihan dan pemberian tugas.

e.   Pendekatan Fungsional

Pendekatan fungsional yang diterapkan di sekolah diharapkan dapat menjembatani harapan tersebut. Untuk memperlicin jalan ke arah itu, tentu saja dipergunakan metode mengajar. Dalam hal ini ada beberapa metode mengajar yang perlu dipertimbangkan, antara lain adalah metode latihan, pemberian tugas, ceramah, tanya jawab dan demontrasi.

E.      Pendekatan Keagamaan
Khususnya untuk mata pelajaran umum, sangat berkepentingan dengan pendekatan keagamaan. Hal ini dimaksudkan agar nilai budaya ilmu itu tidak sekuler, tetapi menyatu dengan nilai agama. Dengan penerapan prinsip-prinsip mengajar seperti prinsip korelasi dan sosialisasi, guru dapat menyisipkan pesan-pesan keagamaan untuk semua mata pelajaran umum. Tentu saja guru harus menguasai ajaran-ajaran agama yang sesuai dengan mata pelajaran yang dipegang. Misalnya : surah Yasiin ayat 34 dan 36 adalah bukti nyata bahwa pelajaran biologi tidak bisa dipisahkan dari ajaran agama.
Akhirnya pendekatan agama dapat membantu guru untuk memperbaiki kerdilnya jiwa agama di dalam diri siswa, yang pada akhirnya nilai-nilai agama tidak dicemoohkan dan dilecehkan, tetapi diyakini, dipahami, di hanyati dan di amalkanselama hayat siswa di kandung badan.

F.      Pendekatan Kebermaknaan
Bahasa adalah alat untuk menyampaikan dan memahami gagasan, pikiran, pendapat dan perasaan, secara lisan maupun tulisan. Bahasa Inggris adalah bahasa asing pertama di Indonesia yang dianggap penting untuk tujuan penyerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya dan pembinaan hubungan dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Dalam rangka penguasaan bahasa Inggris tidak bisa mengabaikan masalahpendekatan yang harus digunakan dalam proses belajar mengajar. Kegagalan penguasaan bahasa Inggris oleh siswa, salah satu sebabnya adalah kurang tepatnya pendekatan yang digunakan oleh guru selain faktor lain seperti faktor sejarah, fasilitas dan lingkungan serta kompetensi guru itu sendiri. Hal ini perlu dipecahkan, salah satu alternatif ke arah pemecahan masalah tersebut diajukanlah pendekatan baru, yaitu pendekatan kebermaknaan.


BAB III
KESIMPULAN



Dalam kegiatan belajar mengajar yang berlangsung telah terjadi interaksi yang bertujuan. Guru dan anak didiklah yang menggerakkannya. Ketika kegiatan belajar mengajar itu berproses, guru harus dengan ikhlas dalam bersikap dan berbuat, serta mau memahami anak didiknya dengan segala konsekuensinya. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang guru ambil dalam pengajaran. Pendekatan yang tepat maka akan berlangsung belajar mengajar yang menyenangkan.
Akhirnya, perlu diikhtisarkan bahwa ada berbagai pendekatan yang dapat dipergunakan dalam pendidikan dan pengajaran, yaitu : Pendekatan individual, pendekatan kelompok, pendekatan bervariasi, pendekatan edukatif (pendidikan), pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasional, pendekatan fungsional, pendekatan keagamaan dan pendekatan kebermaknaan.


DAFTAR PUSTAKA



Challjah Hasan, Dimensi-dimensi Psikologi Pendidikan, Al-Ikhlas, Surabaya, Cetakan I, 1994.
______ , Menjadi Guru Profesional, Remaja Rosdakarya, Bandung, Cetakan II, 1990.
______ , Psikologi Belajar Mengajar, Sinar Baru, Bandung, Cetakan, 1992.
Thomas Gordon, Guru yang Efektif Cara untuk mengatasi kesulitan dalam kelas, Disadur oleh Drs. Mudjito, M.A., Rajawali Pers, Jakarta Cetakan III, 1990.
W. James Popham Eva L. Baker, Bagaimana Mengajar secara Sistemnatis, Yogyakarta, Cetakan IV, 1992.

MAKALAH HAKIKAT, CIRI DAN KOMPONEN BELAJAR MENGAJAR

MAKALAH HAKIKAT, CIRI DAN KOMPONEN BELAJAR MENGAJAR
Pada kesempatan ini Kami akan mempublish Makalah Hakikat, Ciri dan Komponen Belajar Mengajar. Dalam dunia pendidikan, sangat erat kaitannya dengan belajar mengajar, karena pada intinya pendidikan itu terdiri atas belajar dan mengajar. 
Makalah Hakikat, Ciri dan Komponen Belajar Mengajar ini disusun dengan metode penelitian, interview, pemberian kuis dan lain-lain terhadap proses pembelajaran yang dilakukan di sebuah sekolah.

Semoga Makalah Hakikat, Ciri dan Komponen Belajar ini bermanfaat untuk semua pembaca sekalian. Ucapan terima kasih kepada semua pihak yang membantu terselesaikannya penyusunan Makalah Hakikat, Ciri dan Komponen Belajar Mengajar ini semoga mendapatkan balasan yang lebih baik dari Allah SWT.



BAB I
PENDAHULUAN



Siapapun tidak pernah menyangkal bahwa kegiatan belajar mengajar tidak berproses dalam kehampaan, tetapi penuh dengan makna. Didalamnya terdapat sejumlah norma untuk ditanamkan ke dalam ciri pribadi anak didik. 

Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan. Gurulah yang menciptakannya guna membelajarkan anak didik. Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar. Perpaduan dari kedua unsur manusiawi ini lahirilah interaksi edukatif dengan memanfaatkan bahan sebagai mediumnya. Di sana semua komponen pengajaran di perankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan. 

Sebagai kegiatan yang bernilai pendidikan (edukatif) belajar mengajar mempunyai hakikat, ciri dan komponen. Maka dari itu dalam makalah ini penyusunan mengambil judul “HAKIKAT, CIRI DAN KOMPONEN BELAJAR MENGAJAR”.


BAB II
HAKIKAT, CIRI DAN KOMPONEN
BELAJAR MENGAJAR



Sebagai guru sudah menyadari apa yang sebaiknya dilakukan untuk menciptakan kondisi belajar mengajar yang dapat mengantarkan anak didik ke tujuan pengajaran. 

Sebagai kegiatan yang bernilai edukatif, maka belajar mengajar mempunyai hakikat, ciri dan komponen. Ketiga aspek ini perlu betul guru ketahui guna menunjang tugas di medan pengabdian. Ketiga aspek tersebut adalah : 

A. Hakikat Belajar Mengajar 

Dalam kegiatan belajar mengajar, anak didik adalah sebagai subjek dan sebagai objek dari kegiatan pengajaran karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif untuk mencapinya. Keaktifan anak didik di sana tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya anak didik tidak belajar, karena anak didik tidak merasakan perubahan di dalam dirinya. 

Padahal belajar pada hakikatnya adalah “Perubahan” yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar. Walaupun pada kenyataannya tidak semua perubahan termasuk kegiatan belajar. Misalnya, perubahan fisik, mabuk, gila dan sebagainya. Akhirnya, bila hakikat belajar adalah “perubahan”, maka hakikat belajar mengajar adalah proses “perubahan” yang dilkakukan oleh guru.


B. Ciri-Ciri Belajar Mengajar 

Sebagai suatu proses perngaturan, kegiatan belajar mengajar tidak terlepas dari ciri-ciri tertentu, yang menurut Edi Suardi sebagai berikut :
  1. Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu. Inilah yang dimaksud dengan kegiatan belajar mengajar itu sadar akan tujuan, dengan menempatkan anak didik sebagai pusat perhatian.
  2. Ada suatu proses (jalannya interaksi) yang direncanakan, di desain untuk mencapai secara optimal, maka dalam melakukan interaksi perlu ada prosedur, atau langkah-langkah sistematik dan relevan.
  3. Kegiatan belajar mengajarditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus. Dalam hal ini materi harus di desain sedemikian rupa, sehingga cocok untuk mencapai tujuan.
  4. Ditandai dengan aktivitas anak didik. Sebagai konsekuensi, bahwa anak didik merupakan syarat untuk bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.
  5. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing. Dalam perannya sebagai pembimbing, guru harus berusaha menghidupkan dan memberi motivasi, agar terjadi proses interaksi yang kondusif.
  6. Dalam kegiatan belajar mengajar membutuhkan dispilin. Disiplin dalam kegiatan belajar mengajar ini diartikan sebagai suatu pola tingkah laku yang diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaati oleh pihak guru maupun anak didik dengan sadar.
  7. Ada abatas waktu. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam sistem berkelas (kelompok anak didik), batas waktu menjadi salah satu ciri yang tidak bisa ditingkatkan. Setiap tujuan akan diberi waktu tertentu, kapan tujuan itu sudah harus tercapai.
  8. Evaluasi. Dari seluruh kagiatan diatas, masalah evaluasi bagian penting yang tidak bisa diabaikan, setelah guru melakukan kegiatan belajar mengajar. Evaluasi harus guru lalkukan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran yang telah dilakukan.

C. Komponen-Komponen Belajar Mengajar 

Sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi : 

1. Tujuan
Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan yang diprogramkan tanpa tujuan, karena hal itu adalah suatu hal yang tidak memiliki kepastian dalam menentukan ke arah amana kagiatan itu akan di bawah. Akhirnya, guru tidak bisa mengabaikan masalah perumusan tujuan bila ingin memprogramkan pengajaran.

2. Bahan Pelajaran
Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa bahan pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Karena itu, guru yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikannya pada anak didik. Ada dua persoalan dalam penguasaan bahan pelajaran ini, yakni penguasaan bahan pelajaran pokok dan bahan pelajaran pelengkap. Bahan pelajaran pokok adalah bahan pelajaran yang menyangkut bidang studi yang dipegang oleh guru sesuai dengan profesinya (disiplin keilmuannya). Sedangkan bahan pelajaran pelengkap atau penunjang adalah bahan pelajaran yang dapat membuka wawasan seorang guru agar dalam mengajar dapat menunjang penyampaian bahan pelajaran pokok. Bahan penunjang ini biasanya bahan yang terlepas dari dispilin keilmuan guru, tetapi dapat digunakan sebagai penunjang dalam penyampaian bahan pelajaran pokok. Pemakaian bahan pelajaran penunjang ini harus disesuaikan dengan bahan pelajaran pokok yang dipegang agar dapat memberikan motivasi kepada sebagian besar atau semua anak didik.


3. Kegiatan Belajar Mengajar
Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkam akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar akan melibatkan semua komponen pengajaran, kegiatan belajar akan menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai.
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru dan anak didik terlibat dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai mediumnya. Dalam interaksi itu anak didiklah yang lebih aktif, bukan guru. Guru hanya berperan sebagai motivator dan fasilitator.

4. Metode
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, mereka diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila dia tidak menguasai satu pun metode mengajar yang dirumuskan dan dikemukakan para ahli psikologi dan pendidikan (Syaiful Bahri Djamarah, 1991: 72).

5. Alat
Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan dalam mencapai tujuan pengajaran, alat mempunyai fungsi, yaitu alat sebagai perlengkapan, alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan dan alat sebagai tujuan (Dr. Ahmad D. Marimba, 1989: 51).

6. Sumber Pelajaran
Yang dimaksud dengan sumber-sumber bahan dan belajar adalah sebagai sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang (Drs. Udin Saripuddin Winataputra, M.A. dan Drs. Rustana Ardiwinata, 1991: 165). Dengan demikian, sumber belajar itu merupakan bahan/materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-halbaru bagi si pelajar. Sebab pada hakikatnya belajar adalah untuk mendapatkan hal-hal baru (perubahan).

7. Evaluasi
Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu evaluation. Dalam buku Essentials of Educational Evaluation karangan Edwin Wand dan Gerald W. Brown. Dikatakan bahwa Evaluation refer to the act or prosess to determining the value of something. Jadi, menurut Wind dan Brown, evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Sesuai dengan pendapat di atas, maka menurut Wayan Nurkancana dan P.P.N. Sumartana, (1983: 1) evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai sebagai sesuatu dalam dunia pendidikan atau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan. 

Berbeda dengan pendapat tersebut, Ny. Drs. Roestiyah N.K. (1989: 85) mengatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.


BAB III
KESIMPULAN



Kegiuatan belajar mengajar merupakan kegiatan yang bernilai edukatif, maka mempunyai hakikat, ciri dan komponen. Ketiga aspek tersebut perlu betul guru ketahui dan pahami guna menunjang tugas di medan pengabdian, ketiga aspek tersebut adalah :
a. Hakikat Belajar Mengajar
b. Ciri-Ciri Belajar Menagjar
c. Komponen-Komponen Belajar Mengajar

Sebagai suatu proses pengaturan, maka kegiatan belajar mengajar memiliki ciri-ciri, yang menurut Edi Suardi adalah :
1. Belajar mengajar memiliki tujuan
2. Ada suatu prosedur yang direncanakan, didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan
3. Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus
4. Ditandai dengan aktivitas anak didik
5. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing
6. Membutuhkan disiplin
7. Ada batasan waktu, dan
8. Diadakan evaluasi (penilaian)
Demikian uraian seacara umum tentang hakikat, ciri dan komponen belajar mengajar.


DAFTAR PUSTAKA


Ad. Rooijakkers, Mengajar dengan Sukses, Gramedia, Jakarta, Cetakan VII. 1990.
Moh. Yzer Usman dan Lilis Setiawati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Remaja Rosdakarya, Bandung, Cetakan II. 1990.
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Sinar Baru, Bandung, Cetakan III. 1990.
______, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Fakultas Tarbiyah, IAIN Antasari, Banjarmasin, 1994.
Winarno Surrakhmad, Pengantar Interaksi Mengajar Belajar, Dasar Teknik Metodologi Pengajaran, Tarsito, Bandung, 1990.

Makalah Metode Pendidikan Tasawuf

Makalah Metode Pendidikan Tasawuf

Alhamdulillahirobbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT, Robb Semesta Alam. Sholawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Atas berkah, rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan Makalah Metode Pendidikan Tasawuf.

Dalam kesempatan ini, penyusun mengucapkan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan Makalah Metode Pendidikan Tasawuf ini, sehingga bisa kami suguhkan kepada kalayak umum.

Akhir kata, semoga Makalah Metode Pendidikan Tasawuf ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca umumnya, semoga Allah SWT membalas segala kebaikan bagi semua pihak yang telah penyusun sebutkan. Amin.


BAB I
PENDAHULUAN


A. Pengantar

Kecanggihan material sebagai hasil dari kemajuan ilmu dan teknologi modern dewasa ini telah mempermudah hidup dan kehidupan. Banyak kesenangan dan fasilitas hidup dan kehidupan dapat dinikmati dengan bertambahnya setiap penemuan baru dalam bidang ilmu dan teknologi. Kita semua dapat menyaksikan, melihat dan merasakan sendiri secara langsung kemajuan-kemajuan dan kemudahan tersebut umpama pada sarana pemenuhan kebutuhan sehari-hari, seperti alat transportasi dan komunikasi, tempat dan sarana hiburan dan lain sebagainya. Dengan demikian hidup terasa bertambah mudah, enak dan nyaman.

Tetapi kenyataannya bukanlah sebuah garis lurus. Kemudahan, kesenangan dan kenyamanan lahiriah yang diberikan oleh ilmu dan teknologi tidk selalu membahagiakan umat manusia, malah ada yang memandangnya sebagai pembawa banyak bencana daripada rahmat.

Perlu dicatat, menurut pengamatan Harun Nasution, direktur Program Pasca Sarjana IAIN Sayid Jakartam yang beliau sampaikan dalam diskusi yang diselenggarakan Yaysan Wakaf Paramadina di Jakarta, bahwa akhir-akhir ini kelihatan gejala-gejala di barat bosan dengan hidup kematerian dan mencari hidup kerohanian dengan agama Budha, ada kerohanian dalam agama Hindu dan kristen, tak sedikit pula yang mengikuti kerohanian ke agama Islam. Dalam menghadapi materialisme yang melanda dunia sekarang, kata beliau selanjutnya, perlu dihidupkan kembali spiritulisme. Disini tasawuf dengna ajaran kerohanian dan akhlak meulianya dapat memainkan peranan penting.

Tasawuf, kata Abu Al-Wafa’ Al-Taftazani, tidak berarti suatu tindak pelarian diri dari kenyataan hidup sebagaimana telah dituduhkan mereka yang anti, tetapi ia adalah usaha mempersenjatai diri (manusia) dengan nilai-nilai kerohanian baru yang akan menegakkannya saat menghadapi kehidupan materialisme dan juga untuk merealisasikan kesinambungan jiwanya, sehingga timbul kemampuannya ketika menghadapi berbagai keseulitan ataupun masalah hidupnya.

B. Tasawuf Dan Kehidupan Rohani

Di atas telah diuraikan tentang adanya tendensi masyarakat modern untuk mencari nilai-nilai ilahiyah rohaniyah yang sekian lama dikesampingkan sebagai akibat dari perkembangan ilmu dan teknologi.
Kehidupan dewasa ini telah berkembang menjadi demikian materialistis. Materi menjaditolok ukur segala hal, kesuksesan, kebahagiaan semuanya ditentukan oleh materi. Orang berlomba-lomba mendapatkan materi sebanyak-banyaknya, karena dengan semuanya manusia merasa dirinya sukses. 

Akibatnya, manusia sering bertindak tanpa kontrol demi materi. Semakin terlihat kecenderungan manusia menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Nilai-nilai kemanusiaan semakin surut, toleransi sosial dan solidaritas sesama serta ukhuwah Islamiah (di kalangan umat Islam) nampak hilang dan memudar, manusia cenderung semakin individualis. Di tengah suasana itu, manusia merasakan kerinduan akan nilai-nilai ke-Tuhanan, nilai-nilai Illahiah. Nilai-nilai berisi ke-Tuhanan inilah yang dapat menuntun manusia kembali kepada nilai-nilai kebaikan yang pada dasarnya fitrah (sifat dasar) manusia.

Adanya kecenderungan manusia untuk kembali mencari nilai Illahiah merupakan bukti bahwa manusia itu pada dasarnya makhluk rohani di samping sebagai makhluk jasmani. Sebagai makhluk jasmani, manusia membutuhkan hal-hal yang bersifat materi, namun sebagai makhluk rohani ia membutuhkan hal-hal yang bersifat immateri atau rohani. Sesuai dengan orientasi ajaran tasawuf adalah fitrah manusia.

Menurut ajaran kaum sufi, selama manusia belum bisa keluar dari kungkungan jasmani/materi selama itu pula dia tidak akan menemukan nilai-nilai rohani yang dia dambakan. Untuk itu dia harus berusaha melepaskan rohnya dari kungkungan jasmaninya. Untuk itu harus ditempuh dengan jalan riyadah (latihan) yang memakan waktu cukup lama.

Berdasarkan uraian di atas banyak menekankan pada ajaran tasawuf, yang dapat membimbing manusia kembali ke jalan benar. Sementara itu dalam bertasawuf ada tata cara dan aturannya. Memasuki duni atasawuf tidak semudah membalikkan terlapak tangan, karena tasawuf memiliki metode pendidikan tasawuf. Maka dari itu, dlam makalah ini penyusun ingin menyampaikan tentang metode pendidikan tasawuf tersebut. Maka penyusun mengambil judul “METODE PENDIDIKAN TASAWUF”.

BAB II
PENJABARAN TENTANG
METODE PENDIDIKAN TASAWUF


A. Hawa Nafsu dalam Pandangan Kaum Sufi

Sebelum memasuki metode pendidikan tasawuf, alangkah baiknya kalau kita memahami terlebih dahulu tentang apa yang dimaksud dengan hawa nafsu? Bagaimanakan hawa nafsu dalam pemandangan kaum sufi? Bagaimana hubungan hawa nafsu dengan metode pendidikan tasawuf?

Walaupun pada bab I Pendahuluan dalam pengantar dan juga tasawuf dan kehidupan rohani, penyusun sekilas telah menyinggung tentang hawa nafsu tetapi untuk pengertiannya belum dijelaskan, maka penyusun menjabarkanhawa nafsu pada bab II ini, sekaligus juga untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang hawa nafsu yang ada.

Demikian adanya tujuan Bab I Pendahuluan tentang pengantar serta tasawuf dan kehidupan rohani yang ingin penyusun sampaikan dengan maksud saat kita memasuki metode pendidikan tasawuf, sekilas kita sudah memahaminya karena pada hakekatnya hawa nafsu dan metode pendidikan tasawuf memiliki hubungan dan adanya saling keterkaitan, adanya metode pendidikan tasawuf itu dikarenakan adanya hawa nafsu.

Dalam pandangan kaum sufi, manusia cenderung mengikuti hawa nafsu. Manusia dikendalikan oleh dorongan-dorongan nafsu pribadi, bukan manusia yang mengendalikan hawa nafsunya. Ia cenderung ingin menguasai dunia atau berusaha agar berkuasa di dunia. Cara hidup seperti ini menurut Al-Ghazali, akan membawa manusia ke jurang kehancuran moral. Sebab sadar atau tidak sadar, lambat atau cepat, manusia akan terbawa kepada pemujaan dunia. Kenikmatan hidup di dunia akan menjadi tujuan utama, bukan sebagai jembatan atau sarana untuk menuju kebahagiaan dan kenikmatan yang hakiki.

Pandangan hidup seperti itu menjurus ke arah pertentangan manusia dengan sesanya, sehingga ia lupa akan wujud dirinya sebagai hamba Allah SWt yang harus berjalan di atas aturan-Nya. Karena sebagian besar waktu dihabiskan untuk persoalan-persoalan duniawi, ingatan dan perhatiannya pun jauh dari Tuhan. Itu semua, kara Al-Ghazali disebabkan oleh tidak terkontrolnya hawa nafsu.

Sebenarnya manusia tidak boleh mematikan sama sekali nafsunya, tetapi ia harus menguasainya agar hawa nafsu itu tidak sampai membawa kesesatan. Nafsu adalah salah satu potensi yang diciptakan Tuhan di dalam diri manusia agar ia dapat hidup lebih maju, penuh kreatifitas, dan bersemangat. Jika manusia tidak mempunyai nafsu, tidak akan ada kemajuan dalam kehidupan mereka. Tidak ada kompetensi di antara mereka untuk memenuhi tuntutan hidup yang selalu berkembang setiap saat.

Memang hawa nafsu manusia, sebagaimana diterangkan al-qur’an , mempunyai kecenderungan untuk baik dan buruk, “Nafsu akan menjadi baik jika ia dibersihkan dari pengaruh-pengaruh jahat dengan menanamkan ajaran-ajaran agama sejak dini sehingga tabiat nafsu yang jahat itu dapat dikendalikan nafsunya, dikatakan Allah, sebagai orang yang menuhankan hawa nafsu”, (QS. 45 : 23), dan menyimpang dari kebenaran (QS. 45 : 135)

B. Metode Pendidikan Tasawuf

Rehabilitas kondisi mental yang tidak baik, menurut orang sufi, tidak akan berhasil baik apabila terapinya hanya dari aspek lahiriah. Itulah sebabnya, pada tahap-tahap awal memasuki kehidupan tasawuf, seorang murid diharuskan melakukan amalan dan latihan kerohanian yang cukup berat. Tujuannya adalah untuk menguasai hawa nafsu dalam rangka pembersihan jiwa untuk dapat berada di hadirat Allah SWT. Tindakan manusia yang dikendalikan oleh hawa nafsu dalam mengejar kehidupan duniawi merupakan tabir penghalang antara manusia dengan Tuhan. Sebagai usaha menyingkap tabir yang mematasi manusia dengna Tuhan, ahli tasawuf membuat suatu sistem (metode pendidikan tasawuf) yang tersusun atas dasar didikan tiga tingkat yang dinamakan “takhalli”,”Tahalli”, dan “Tajalli”, yang masing-masing akan diuraikan sebagai berikut :

TAKHALLI
Takhalli, berarti memberihkan diri dari sifat-sifat tercela, dari maksud lahir dan bathin. Diantara sifat-sifat tercela dan maksiat lahir dan bathin. Diantara sifat-sifat tercela yang mengotori jiwa (hati) manusia ialah hasad (dengki), hiqd (rasa mendongkol), Su’u al-zann (buruk sangka), takkabur (sombong), ‘Ujub (membanggakan diri), riya’ (pamer), bukhl (kikir), dan gadab (pemarah). Dalam firman Allah SWT,”Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensucikan jiwanya, dan rugilah orang-orang yang mengotorinya (QS. 91 : 9 – 10).

Dalam hal menanamkan rasa benci kepada kehidupan duniawi serta mematikan hawa nafsu, kaum sufi berbeda pendapat kelompok sufi yang moderat berpendapat, aras kebencian terhadap kehidupan duniawi cukuplah sekedar jangan sampai lupa kepada tujuan hidup, tidak perlu meninggalkannya sama sekali. Demikian pula dengan penguburan hawa nafsu, cukup dengna sekedar dikuasai melalui pengaturan disipliin kehidupan. Golongan ini tetap memanfaatkan dunia sekedar kebutuhannya dengan mengatur dan mengontrol dorongan hawa nafsu yang dapat mengganggu stabilitas akal dan perasaan. Dengan pola hidup serasi dan seimbang, sufi kelompok ini merasa menemukan kebebasan menempatkan Allah SWT sebagai inti dari segala citanya. Kehidupannya terarah kepada pengabdian dan selalu berpegang pada garis kebijaksanaan yang relevan dengan tujuan hidupnya.

Kelompok sufi yang ekstrem berkeyakinan, kehidupan duniawi benar-benar sebagai racun pembunuh “Kelangsungan cita-cita sufi. Dunia adalah penghalang perjalanan. Karena itu, nafsu duniawi harus “dimatikan” dari diri manusiaagar ia bebas berjalan menuju tujuan, mencapai kenikmatan spiritual yang hakiki. Bagi mereka, memperoleh keridhoan Tuhan tidak sama dengna kenikmatan-kenikmatan material. Pengingkaran pada ego dengan meresepkan diri pada kemauan Tuhan adalah perbuatan utama. Dengan demikian, nilai moral benar-benar agamis karena setiap tindakan disejajarkan dengan ibarat yang lahir dari motivasi eskatologi.

Menurut orang sufi, kemaksiatan dibagi menjadi dua yaitu maksiat lahir dan batin. Maksiat lahir adalah sifat tercela yang diajarkan oleh anggota lahir seperti tangan, mulut dan mata. Maksiat batin adalah segala sifat tercela yang diperbuat oleh anggota batin, yaitu hati contoh maksiat lahir diantaranya mencuri, mencopet, membunuh, dan sebagainya.

Maksiat batin yang terdapat pada manusia tentulah lebih berbahaya lagi, karena ia tidak kelihatan seperti maksiat lahir, dan kadang-kadang kurang disadari. Selanjutnya, maksiat batin itu secara tidak langsung menciptakan manusia yang tidak bermoral, jahat dan ingkar kepada Tuhannya. Karena itu, kedua maksiat tersebut harus dibersihkan lebih dahulu, yaitu melepaskan diri dari sifat-sifat tercela agar dapat mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji untuk memperoleh kebahagiaan hakiki.

TAHALLI
Tahalli yakni mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji, dengan taat lahir dan batin. Dalam hal ini Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah SWT melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. 16 : 90)

Tahalli ini merupakan tahap pengisian jiwa yang telah dikosongkan pada tahap tahalli. Dengan kata lain, sesudah tahap pembersihan diri dari segala sifat dan sikap mental yang yang tidak baik dapat dilalui (takhalli), usaha itu harus berlanjut terus ke tahap berikutnya yaitu yang disebut dengan tahalli. Sebab apabila suatu kebiasaan telah dilepaskan tetapi tidak ada penggantinya, maka kekosongan itu dapat menimbulkan frustasi.

Apabila manusia dapat mengisi hatinya (setelah dibersihkan dari sifat-sifat tercela) dengan sifat-sifat terpuji, maka ia akan menjadi cerah dan terang, sehingga dapat lagi menerima cahaya Illahi. Jadi hati yang belum dibersihkan tidak akan mendapatkan atau tidak dapat menerima cahaya Illahi.

Manusia yang mampu mengosongkan hatinya dari sifat-sifat tercela (takhalli) dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji (Tahlli), maka segala perbuatannya dan tindakannya sehari-hari selalu berdasarkan niat yang ikhlas artinya tanpa mengaharapkan suatu balasan atau embel-embel lain seperti kata pribahasa : “Ada udang dibalik batu” seluruh hidup dan gerak kehidupannya diikhlaskan untuk mencari kerelaan Allah SWT semata. Karena itulah manusia yang seperti ini dapat mendekatkan dirinya kepada-Nya.

TAJALLI
Untuk pemantapan dan pendalaman materi yang telah dilalui pada fase tahalli, maka rangkaian pendidikan mental itu disempurnakan pada fase tajalli. Tajalli berarti terungkapnya nur gaib untuk hati. Dalam hal ini kaum sufi mendasarkan pendapatnya pada firman Allah SWT : “ Allah adalah nur (cahaya) langit dan bumi”. (QS. 24 : 35), selanjutnya mustafa zahri dalam bukunya kunci memahami tasawuf merumuskan arti tajalli sebagai berikut : “Tajalli ialah lenyapnya/hilangnya dari hijab dari sifat-sifat kebasyaiahan (kemanusiaan), jelasnya nur yang selama itu gaib, fanahnya lenyapnya segala yang lain ketika nampaknya wajah Allah SWT. Berdasarkan ayat tersebut di atas, kaum sufi yakin bahwa seseorang dapat memperoleh pancaran nur Illahi”.

Karena itulah setiap calon sufi mengadakan latihan-latihan jiwa (riyadah), berusaha membersihkan dirinya dari sifat-sifat yang tercela, mengosongkan hati dari sifat-sifat yang keji, melepaskan segala sangkut paut dengan dunia, lalu mengisi dirinya dengan sifat-sifat terpuji, segala tindakannya selalu dalam rangka ibadah, memperbanyak zikir, menghindarkan diri dari segala yang dapat mengurangi kesucian diri, baik lahir maupun batin. Seluruh jiwa (hati) hanya semata-mata untuk memperoleh tajalli, untuk menerima pancaran nur Illahi. Apabila Tuhan telah menembus hati hamba-Nya dengan Nur-Nya. Pada tingkat ini hati hamba Allah SWT itu bercahaya terang benderang, dadanya terbuka luas dan lapang, terangkatlah tabir rahasia alam malakut dengan karunia rahmat itu. Pada saat itu jelaslah segala hakikat ketuhanan yang selama ini terdinding oleh kekotoran jiwanya.

Apabila jiwa telah terisi dengan sifat-sifat terpuji dan mulia dan organ-organ tubuh sudah terbisa melakuan amalan-amalan Shaleh dan perbuatan-perbuatan luhur, maka untuk selanjutnya agar hasil yang diperoleh itu tidak berkurang, perlu penghayatan rasa keTuhanan. Untuk melestarikan dan memperdalam rasa keTuhanan, ada beberapa cara yang diajarkan kaum sufi, antara lain adalah :

a. Munajat
Secara sederhana kata ini mengandung arti melaporkan diri kehadirat Allh SWT atas segala aktivitas yang dilakukan. Munajat biasanya dilakukan dalam suasana keheningan malam sesuai shalat tahajud, agar ekspresinya tertuju bulat ke hadirat Illahi. Pemusatan jiwa dengan sebulat hati yang diiringi derai air mata, membuat suasana kontemplasi itu seakan ia sedang berhadapan langsung dengan Allah SWT.

b. Muraqabah dan Muhasabah
Menurut Imam Al-Qozali, perkataan muraqabah sama artinya dengan ihsan. Dan menurut Abu Zakaria Ansari, kata muraqabah jika dilihat dari segi bahasanya (etimologi) dapat diartikan dengan selalu memperhatikan yang diperhatikan, sedangkan menurut istilahnya (terminologi), dikatakan : “Senatiasa memandang dengan hati kepada Allah dan selalu memperhatikan apa yang diciptakan-Nya dan tentang hukum-hukum-Nya”. Jadi, sesuai dengan pengertian ini bahwa muraqabah itu merupakan suatu sikap mental yang senantiasa melihat dan memandang, baik dalam keadaan bangun/jaga atau tidur, baik dalam keadaan bergerak atau diam dalam waktu lapang atau susah.

Kemudian yang dimaksud dengan musagabah, imam Al- Gozali mengatakan : “Hakikat musagabah ialah selalu memikirkan dan memperhatikan apa yang telah diperbuat dan yang akan diperbuat, dan musagabah ini lahir dari iman dan kepercayaan terhadap hari hitungan (hari kiamat)”.

c. Memperbanyak Wirid dan Zikir
Memperbanyak wirid dan zikir merupakan suatu keharusan bagi seseorang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan ini merupakan ciri khas dari kehidupan kaum sufi.

Wirid (bentuk jamaknya : awarad) berarti bacaan-bacaan zikir, doa-doa atau amalan-amalan lain yang dibiasakan membacanya atau mengamalkannya. Biasanya wirid itu dilakukan setelah shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunah. Dalam prakteknya wirid dibagi menjadi dua bagian. Pertama wirid ‘amma/zikir jahri yaitu wirid dalam formula eksotrik atau dalam bentuk amal lahir menurut beberapa ukuran tertentu seperti membaca istigfar beberapa ratus kali dan beberapa kali dalam satu hari, dilakukan setelah shalat subuh dan magrib sebagaimana dikalangan kaum Alawiah. Kedua wirid khas atau zikir sirr, yaitu wirid yang dijalankan secara rahasia (tanpa suara) seperti menyebut nama Tuhan, Ya latif dengan hati dikalangan-kalangan kaum Sanusiah.

Kemudian yang dimaksud dengan zikir ialah ucapan yang dilakukan dengan lisan atau mengingat Allah dengan hati, dengan ucapan atau ingatan untuk mensucikan Tuhan dan membersihkan-Nya dari sifat-sifat yang menunjukan kebesaran dan keagungan-Nya.
1. Zikir lisan, atau disebut juga zikir nafi isbat atau ucapan lailaha illah’llah (tiada Tuhan selain Allah)
2. Zikir Gaib, disebut juga zikir, yaitu ucapan Allah, Allah
3. Zikir sirr disebut jugua zikir isyarat dan nafs artinya yaitu berbunyi Hu-Hu
Zikir memang penting bagi manusia sepanjang hidupnya karena manusia dalam hidup ini tidak terleps dari empat keadaan pertama, dalam keadaan taat apabila ia selalu ingat kepada Allah SWT pada saat itu, maka akan terlahirlah suatu keyakinan bahwa ketaatan yang diperbuatnya merupakan karunia Allah dan dengan taufik-Nya.

Kedua, dalam keadaan maksiat. Kalu ia dalam keadaan maksiat, maka dengan zikir kepada Allah akan membangkitkan kesadarannya untuk memperbaiki keadaan dirinya dengan bertaubat dan dengan bertaubat ia menjadi manusia yang mencintai Allah dan Allah pun mencintainya. Ketiga, dalam keadaan memperoleh nikmat, kalau ia dalam keadaan memperoleh nikmat maka dengan zikir kepada Allah akan menimbulkan kesadaran untuk mensyukuri nikmat tersebut maka nikmat yang didapatnya akan tetap dan bertambah. Dan keempat, dalam keadaan menderita, jika ia ingat kepada Allah/zikir kepada Allah timbullah keyakinan bahwa penderitaan pada hakikatnya cobaan baginya dan ia harus menghadapinya dengan sabar.

Disamping itu, zikir memiliki dampak terhadap sifat dan sikap dalam hidup dan kehidupan manusia yaitu :
  1. Memperlunak hati seseorang sehingga ia cenderung untuk bersedia menerima dan mengikutinya.
  2. Membangkitkan kesadaran bahwa Allah Maha pengatur dan apa yang ditetapkan-Nya adalah baik, hanya mungkin manusia yang tidak mampu menangkapnya.
  3. Meningkatkan mutu apa yang dikerjakan, karena Allah tidak menilai sesuatu perbuatan dari segi lahirnya saja, tetapi dia menilainya dari segi motif dan keikhlasannya.
  4. Memelihara diri dari godaan setan, karena setan hanya dapat menggoda dan menipu orang yang lalai kepada Allah SWT.
  5. Memeliharanya dari perbuatan kemaksiatan, karena selama ingat kepada Allah SWT ia tidak akan berbuata sesuatu yang dilarang-Nya.
Demikian keagungan dan manfaat zikir bagi manusia. Begiyu banyak ayat, sunnah dan pendapat ulama yang mendorong agar selalu zikir kepada Allh SWT kalangan kaum sufi menaykini bahwa orang yang selalu ingat bkepada Allah, maka Allah akan selalu ingat kepadanya, Allah selalu bersamanya, Allah senantiasa hadir dalam kalbunya.

d. Mengingat Mati
Pada dasarnya manusia diciptakan Tuhan dengan dibekali dua kecenderungan atau sifat, yakni sifat yang membawa kepada kebaikan dan sifat yang membawa kepada kejahatan. Kedua sifat ini tidak dapat dipisahkan dari diri manusia, karena itulah dinamakan sifat manusiawi. Allah SWT berfirman “ Dan (demi) jiwa serta penyempurnaan (ciptaanya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaanya”. (QS. 91:7-8)

Tetapi, tidaklah semua orang mempergunakan kemampuan yang diberikan Tuhan tersebut untuk membersihkan jiwanya, karena itu tidaklah jarang manusia selalu hidup dalam kekotoran jiwanya yakni bergelimang dalam dosa dan tingkah laku yang tercela serta lalai terhadap tugas dan kewajibannya terhadap Allah SWT dan sesamanya.

Oleh karena itu, ingat kepada kematian, kapan dan dimana pun adalah satu hal yang paling penting. Orang sufi berkeyakinan ingat akan akn mati dan hidup kembali diakhirat termasuk rangkaian aktivitas rohani yang perlu dibina. Orang yang selalu ingat mati akan selalu merasa takut. Dan rasa takut itulah yang mendorongnya untuk bertaubat. Karena persiapan untuk menghadapi kematian itu sudah barang tentu dalam bentuk amal sholeh dan doa.

e. Tafakur
Kata tafakur (bahasa arab) berasal dari kata kerja (fi’il) tafakur yang berarti berfikir, memikirkan, merenungkan atau meditasi. Dalam ajaran islam kita hanya disuruh memikirkan dan merenungkan makhlik Allah, alam semesta ini dengan segala fenomenanya, tetapi kita dilarang untuk memikirkan zat Allah. Rosullah SAW bersabda: “berfikirlah mengenai makhluk Allah dan janganlah berfikir tentang zat Allah, karena dapat menyebabkan engkau semua menjadi rusak”. Dalam hadis lain beliau bersabda: “Janganlah merenung tentang hakikat zat Tuhan, tetapi renungkanlah sifat-sifat Tuhan dan rahmatnya”.

Demikianlah fungsi tafakur dalam membentuk dan membina akhlak al-karimah dan dalam meningkatkan ma’rifah serta rasa ketuhanan dalam jiwa. Dengan sifat mulia dan mental yang kuat serta iman dan pendirian yang kukuh, manusia sanggup dan mampu menghadapi berbagai tantangan dan rintangan dalam hidupnya sehingga ia betul-betul menjadi hamba Allah yang sejati.



BAB III
KESIMPULAN


Tasawuf, sufisme, atau mistisme sering juga dikatakan sebagai kekayaan rohani islam yang masih terpendam. Kini dalam era globalisasi, ia benar-benar amat didambakan dalam upaya memadatkan kualitas iman dan takwa.

Sesuai dengan orientasi hidup sufi, mereka berkeyakinan bahwa kebahagiaan yang paripurna dan langgeng adalah bersifat spiritual. Kaum sufi sependapat bahwa kehidupan duniawi beserta kenikmatannya bukanlah tujuan, tetapi dunia hanya sekedar jembatan. Dalam rangka pendidikan mental, menurut kaum sufi, yang pertama dan utama adalah dengan cara menguasai atau mengendalikan penyebab utama yang dapat menjuruskan manusia ke dalam kehinaan, yaitu bahwa nafsu. Sebab tak terkontrolnya bahwa nafsu dalam mengejar kehidupan material adalah sumber utama dari kerusakan moral dan kehancuran umat manusia. Rasanya tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa ajaran tasawuf dalam arti sebenarnya mampu membimbing manusi menjadi hamba Allh SWT yang membawa kedamaian dan mengendalikannya agar tidak menjadi malapetaka bagi dirinya dan alam sekitarnya.

Maka rehabilitasi kondisi mental yang tidak baik, menurut orang sufi,tidak akan bersifat baik apabila terapinya hanya dari aspek lahiriah. Itulah sebabnya, pada tahap-tahap awal memasuki kehidupan tasawuf, seorang murid diharuskan melakukan amaln dan latihan kerohaian yang cukup berat. Oleh karena itu, ahli tasawuf membuat suatu sistem (Metode Pendidikan Tasawuf) yang tersusun atas dasar didikan tiga tingkat yaitu yang dinamakan Takhalli, Tahalli, dan Tajalli.

Setelah melalui tiga tingkatan tersebut, untuk melestarikan dan memperdalam rasa ketuhanan, ada beberapa cara yang diajarkan kaum sufi, diantaranya yaitu :

a. Munajat
b. Muraqabah dan munasabah
c. Memperbanyak wirid dan zikir
d. Mengingat mati, dan
e. Tafakur.

Jadi apa yang diajarkan oleh tasawuf tidak lain bagaimana menyembah Tuhan dalam suatu kesadaran penuh bahwa kita berda didekat-Nya sehingga kita “Melihat-Nya” atau bahwa ia senantiasa mengawasi kita dan kita senantiasa berdiri dihadapan-Nya. Dalam hubungan ini, tasawuf atau sufusme sebagaimana halnya dengan mistisme di luar agama islam, mempunyai tujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada dihadirat Tuhan. Intisari dari mistisme, termasuk didalamnya sufisme ialah keasadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dan Tuhan dengan mengasingkan diri dan berkontemplsi.



DAFTAR PUSTAKA


Aboe Bakar Atjeb, Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf, Ramadhani, Solo, 1984.
Ahmad, Zainal Abidin, Riwayat Hidup Iman Al-Gazali, Bulan Bintang, Jakarta 1
_________, Filsafat Mistis Ibn ‘Arabi, Gaya Media Pratama, Jakarta, 1989.
Hamka, Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1984.
Dr. Asmaran As M.A, Pengantar Studi Tasawuf Edisi Revisi, Raja Gravindo Persada. Jakarta. 1994.


Demikian Makalah Metode Pendidikan Tasawuf ini, semoga Makalah Metode Pendidikan Tasawuf ini bermanfaat unt uk semuanya. Terima kasih atas kunjungannya.
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda! Jangan Lupa Untuk Meninggalkan Komentar!.